
Sementara itu, disebuah club tampak Agra dan teman-temannya tengah berpesta ditemani dengan minuman dan alunan musik yang menggema diclub itu.
"selamat Agra, kau berhasil memenangkan proyek itu." ucap salah satu teman yang bernama Ricky.
"yah aku kan memang selalu berhasil." jawab Agra sombong.
"dasar sialan." cibir Ricky kemudian.
Mereka menikmati waktu santai mereka sambil bersenda gurau. sesekali mata mereka memperhatikan wanita-wanita cantik yang berkeliaran diclub itu.
"astaga. cantik banget dia." ucap Rezie sambil menunjuk seorang wanita yang sedang berjoget meliuk-liuk dilantai sana.
"tobat woy tobat. cewek aja yang ada dalam pikiranmu." semprot Ricky. sedangkan Agra hanya geleng-gelengkan kepala melihat temannya itu .
"oh ya Agra, gimana hubunganmu sama Margaret ?" tanya Ricky. dia yang baru pulang dari luar negeri tidak tau kabar asmara temannya.
"jangan kau tanya deh. Margaret itu tiap hari neror aku cuma untuk nanyakin dia." tunjuk Rezie pada Agra.
"padahal udah setahun hubungan. ciuman pun gak pernah." tambah Rezie lagi.
"emangnya kau yang baru hubungan semalam langsung ngajak kawin." ucap Ricky menohok padanya.
"kawin kan enak. hahaha..." Rezie malah bangga dengan dirinya yang tukang merusak wanita.
cih. Agra dan Ricky berdecak kesal melihat temannya yang iblis itu. berbeda dengan Rezie, agra dan Ricky bukan tipikal cowok yang suka bermain dengan wanita.
"apa kau belum bisa melupakan wanita itu ?" tanya Ricky sambil melihat kearah Agra.
"jangan bahas dia." ucap Agra tegas. Agra tidak suka kalau masa lalunya menjadi pembahasan.
Ricky langsung menutup mulutnya rapat-rapat. dan kembali menenggak minumannya sambil sesekali matanya melirik ke arah Agra.
"sampai segitu dalamnya lukamu Agra." Ricky merasa kasihan melihat temannya itu.
Karna waktu sudah semakin larut, mereka memutuskan untuk pulang. sementara Rezie tetap berada disana untuk mendekati wanita incarannya tadi.
*****
"huh. lelahnya..." ucap Agra setelah sampai diapartemennya. dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Sudah 3 tahun berlalu, namun Agra belum bisa mengobati luka yang menggores dihatinya. luka yang teramat besar dari orang yang sangat dia cintai.
Kemudian Agra beranjak untuk mengganti pakaian dan segera pergi tidur untuk mamasuki alam mimpinya.
__ADS_1
*******
Keesokan paginya, Agra segera bersiap untuk berangkat kekantor. namun, suara dering ponselnya menghentikan langkah kakinya yang mau keluar dari apartemen.
"halo ma..." jawab Agra.
"sayang, nanti malam pulang kerumah ya. mama kangen." ucap mama nya disebrang telpon.
"oke." setelah mengatakan itu panggilan pun terputus. dia kembali melanjutkan langkah kakinya untuk pergi bekerja.
Sudah 2 tahun ini Agra memilih untuk tinggal diapartemen dari pada dirumah orang tuanya sendiri. semenjak kisah cintanya hancur, dia memilih untuk menyendiri. walau orangtuanya melarang tapi dia tetap tidak peduli. namun sesekali dia tetap akan pulang kerumah mama dan papanya.
Sementara ditampat lain, terlihat seorang gadis tengah melamun ditengah-tengah pelajarannya. siapa lagi kalau bukan Aleta, dia sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan kakaknya.
Melihat itu, Reza sang dosen killer langsung mendekat kearahnya.
"Aleta..." panggilan pertama tidak dijawab.
"Aleta Winandra..." tetap tidak ada jawaban darinya. sepertinya Aleta benar-benar tenggelam dalam lamunan. sedangkan teman-temannya sudah tidak heran melihatnya seperti itu.
"aku harus menjauhkan kakak dari wanita sialan itu."
"Aleta." bentak dosen itu yang langsung membuatnya sigap berdiri.
"sialan kau bilang ?" ucap dosen itu sambil menggeretakkan giginya.
glek. "habislah aku..." Aleta menelan salivenya melihat kemarahan pak dosen.
"keluar dari ruangan ini !" usir bapak itu kemudian.
Dengan langkah gontai, Aleta berjalan keluar ruangan sambil memukul-mukul mulutnya yang kelepasan bicara.
"dasar bodoh..." teriaknya saat sudah keluar dari kelas. lalu dia berjalan kearah pohon mangga dan duduk dikursi yang ada dibawahnya.
"huh. memang wanita itu pembawa sial. selalu aja aku kena sial kalau lagi mikirin dia." omel Aleta sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Setelah 1 jam berlalu, Akhirnya kelasnya selesai dan teman-temannya langsung menghampirinya yang sedang melamun dibawah pohon mangga.
"makanya, kalau belajar itu jangan melamun. masa pak Reza dibilang sialan sih. hihihi..." ucap Lusi sambil tertawa geli.
ck. sedangkan Aleta hanya membuang muka melihat mereka. dan melanjutkan lamunannya yang tertunda tadi.
"sebenarnya kau mikirin apa sih ?" tanya Egi yang penasaran melihatnya.
__ADS_1
"kak Dareen mau nikah sama wanita sialan itu." jawabnya.
"Lesya maksudmu ?" tanya Lusi. Aleta menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaannya.
"memang udah jodohnya kali Al..." ucap Lusi lagi.
"jodoh apa. dia itukan maksa. emang dasar cewek sialan" geram Aleta.
"pokoknya aku harus dapetin Agra, supaya kakak gak nikah sama dia." lanjutnya.
"belum tentu kan Ale kalau kau dapetin Agra dia mau bantu perusahaan kalian." ucap Egi.
"enggak. dia harus bantu. dia harus bantu keluarga istrinya." ucap Aleta yang tiba-tiba membahas tentang istri.
"hah. istri ?" teriak teman-temannya bersamaan.
Sedangkan Aleta sendiri juga sangat kaget, kok bisa-bisanya mulutnya mengucapkan kata istri pikirnya.
"benar. istri." tiba-tiba Lusi mendapat wahyu yang langsung masuk ke otaknya.
"Aleta. kau harus menjebak Agra agar mau menikah denganmu." ucap Lusi dengan semangat 45.
"apa ? menjebak ?" tanya Aleta.
"iya. buat dia bertanggung jawab dan menikah denganmu. kalau kau cuma ngajak dia nikah gitu aja, udah pasti dia bakal nolak kan." jelas Lusi.
Aleta terlihat memikirkan apa yang diucapkan Lusi. memang benar kalau dia langsung mengajak nikah, udah pasti akan ditolak mentah-mentah, atau malah akan langsung diseret dari perusahaannya.
"tunggu. kalian jangan main-main ya. dia itu Agra Mahesa, kalau sampai dia tau habislah kalian." Egi mengingatkan mereka kalau jangan berbuat yang tidak-tidak.
"bener. cuma itu satu-satunya jalan supaya aku bisa menikah dengan Agra." ucap Aleta.
"iya. kalau kalian menikah, mau tidak mau dia pasti bakal bantu perusahaanmu. keluarganya kan juga pasti gak akan mau punya besan gembel." tambah Lusi lagi.
"hey. kalian gak dengerin ucapanku ya." ucap Egi. bener-bener deh dua manusia itu pikirnya.
"Egi, cuma itu satu-satunya jalan. tolong dukung aku ya." ucap Aleta sambil memasang wajah yang menggemaskan.
Huh. entah lah. Egi benar-benar tidak berkutik melawan teman-temannya itu. akhirnya mereka mulai mendiskusikan tentang cara untuk menjebak Agra.
☆☆☆
waduh. kira-kira apa yang akan mereka lakukan untuk menjebak Agra ?
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘