
Keesokan harinya, Aleta tengah bersiap untuk ke Rumah sakit seperti biasanya. Dia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan suami tercinta, walau pada kenyataannya Bik Nani lah yang memasak semua menu sarapan untuk mereka.
Agra yang masih bergelung manja di atas ranjang membuka mata, tangannya sibuk mencari sang istri yang sudah tidak ada di sampingnya saat ini.
Agra kemudian beranjak bangun dan langsung mencari keberadaan Aleta, dia mencari ke seluruh penjuru kamar namun tidak juga menemukannya. Agra lalu keluar untuk mencari Aleta yang terlihat sedang sibuk berkutat didapur.
"mampus kau," Aleta terjingkat kaget saat tangan kekar Agra melingkar diperutnya, hampir saja dia melayangkan centong nasi yang saat ini sedang dia pegang.
"bikin kaget saja!" gerutunya sembari kembali melanjutkan pekerjaan sedangkan Agra masih setia berada di belakang tubuh istrinya itu sembari memeluknya dan membenamkan wajahnya ke leher Aleta.
"ngapain sih? mandi sana!" usir Aleta, dia tidak bisa bergerak bebas karna tubuh Agra menempel ditubuhnya. Bik Nani yang melihat kedua majikannya tertawa kecil, dia tidak menyangka kalau Agra yang biasa bersikap tegas dan dingin berubah menjadi manja seperti itu.
"mandiin," ucap Agra dengan manja, Aleta segera mendaratkan panci yang agak panas ketangan Agra membuat lelaki itu terjingkat kaget dan langsung melepaskan pelukannya.
"kau mau membuat suamimu cacat?" bentak Agra sambil mengibaskan tangannya yang terasa panas, sementara Aleta hanya mencebikkan bibirnya mendengar ocehan sang suami.
"abisnya gangguin sih, udah tau orang lagi sibuk," gerutu Aleta sembari menata makanan yang sudah matang dengan sempurna ke atas meja.
Agra menekuk wajahnya sembari melangkah keluar dari dapur, dia berjalan cepat ke kamar dengan menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang tidak diberi mainan.
Aleta yang melihatnya merasa tidak peduli, dia beralih melepaskan celemek yang masih bertengger ditubuhnya.
"Tuan Agra sudah banyak berubah ya Non," celetuk Bik Nani yang sedang mencuci piring.
"Berubah gimana Bik? jadi iron man ya? hihihi." Aleta cekikikan sendiri mendengar apa yang dia ucapkan, sementara Bik Nani juga ikut tertawa karna merasa lucu.
"dulu Tuan Agra itu pendiam Non, lebih tepatnya gak banyak ngomong. Ngomong pun paling kalau ada sesuatu yang salah menurutnya, kalau tidak ya sampai kiamat pun gak akan keluar suaranya," ucap Bik Nani sambil asyik mencuci piring.
"Memang sih Bik, dulu aja aku benci banget sama sifat dia. Dingin kayak kutub utara, berrr." Aleta bersedekap dada sembari menggoyang tubuhnya seakan-akan sedang kedinginan.
"Tuan berubah karna Nona, Tuan lebih terlihat hidup dan semangat. Ya walaupun sikapnya kadang terlihat kekanak-kanakan," tambah Bik Nani lagi, dia langsung menutup mulutnya saat baru menyadari kalau orang yang sedang dia ajak menggosip ini adalah istri dari orang yang sedang dia gosipin.
"maafkan Bibik ya Non, Bibik gak sengaja," ucap Bik Nani yang takut kalau Nona nya itu mengadu pada Agra.
__ADS_1
"enggak apa-apa Bik, santai saja. Kita satu hati kok," seru Aleta sembari mengajak Bik Nani untuk tos.
Setelah selesai bergosip ria, Aleta beranjak ke kamar untuk mempersiapkan diri berangkat ke Rumah sakit. Namun matanya melotot dengan sempurna saat melihat pemandangan di dalam kamar, dia melihat Agra masih bergelung manja di bawah selimut.
"Apa laki-laki ini tidak kerja?" Aleta berjalan cepat ke arah Agra dengan kedua tangan diletakkan di pinggang, Agra yang mendengar suara Aleta langsung menejamkan matanya pura-pura tidur.
"sayang, kau enggak kerja?" tanya Aleta sembari mengguncang tubuh Agra agar suaminya itu bangun. Bukannya menjawab, Agra malah semakin membenamkan kepalanya ke bantal.
Aleta benar-benar tak habis pikir dengan tingkah laki-laki itu, dia pikir udah berapa umurnya itu ?
"katanya tadi ada yang minta di mandiin!" seru Aleta memancing suaminya agar menghentikan aktingnya. Namun tidak ada pergerakan dari sang suami, dia tetap diam seperti patung.
"baiklah, kalau tidak mau biar aku-" Aleta tidak dapat melanjutkan ucapannya karna tangannya sudah ditarik oleh Agra ke dalam kamar mandi, dan terjadilah sesuatu yang mereka inginkan membuat mereka terlambat ke tempat kerja masing-masing.
Setelah selesai dengan drama pagi yang sangat panjang dan melelahkan, akhirnya Aleta sampai juga di Rumah sakit sementara Agra dan Felix langsung berangkat menuju kantor.
Hari ini, Aleta akan bertemu dengan Devo. Dia ingin membicarakan perihal masa lalu lelaki itu dengan suaminya. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karna takut terjadi sesuatu dengan hubungan Agra dan Felix.
Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Aleta mencuri sedikit waktu untuk keruangan di mana Ayah Devo dan Felix di rawat. Aleta sudah terlebih dulu meminta Ricky untuk tidak mengatakan pada Agra tentang keberadaan Devo.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Aleta pada Ayah Dion yang saat ini sedang bersandar disandaran ranjang.
"selamat pagi juga, Dokter," jawab Ayah Dion, Devo yang saat itu baru keluar dari kamar mandi sedikit kaget saat melihat Aleta ada diruangan itu.
Aleta sedikit berbasa-basi menanyakan kondisi Ayah Dion, lalu dia meminta Devo untuk ikut dengannya ke ruangan.
"ada apa?" tanya Devo setelah mereka sampai diruangan Aleta.
"aku ingin bertanya tentang masa lalumu dan suamiku. Aku juga ingin bertanya kenapa kau selalu mengganggunya," ucap Aleta secara langsung. Devo tersenyum kecil saat mendengar apa yang ingin ditanyakan oleh Aleta.
"untuk apa aku mengatakannya padamu?" tanya Devo dengan nada mengejek.
"tentu saja untuk keberlangsungan hidupku! aku tidak bisa hidup tenang kalau kau masih mengganggu suamiku, apalagi ditambah dengan wanita sialan itu," jawab Aleta dengan sekali tarikan napas, dia sangat kesal saat mengatakannya.
__ADS_1
"cih, secinta itu kau padanya?" sinis Devo dengan smirik dibibirnya.
"cih, seiri itu kau dengannya?" balas Aleta yang tidak mau kalah membuat Devo menatapnya dengan tajam.
"apa yang akan kau berikan padaku, kalau aku menceritakan semuanya padamu?" tanya Devo, sepertinya dia ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"apa maumu? uang? emas? berlian? katakan saja! aku akan minta pada suamiku nanti,"
Dasar Aleta, sepertinya dia tidak ingin rugi sedikitpun sementara Devo tersenyum licik saat mendengar ucapan wanita itu.
"nanti malam, temui aku di kafe X!" bisik Devo tepat di telinga Aleta, lalu dia berdiri dengan tetap menatap tajam pada wanita itu.
"kenapa harus nanti malam? aku maunya sekarang juga!" tekan Aleta yang juga sudah berdiri dihadapan lelaki itu.
"Kalau nanti malam kau datang, maka aku akan mengatakan semua tentang kehidupanku padamu. Dan juga tentang suami tercintamu itu. Tapi kalau kau tidak datang, maka aku akan mengatakan pada Agra tentang hubunganku dengan Felix." Devo langsung meninggalkan Aleta begitu saja membuat wanita itu mengerrang kesal.
"Apa dia sedang mengancamku?" Aleta menghentakkan kakinya kesal dengan apa yang Devo lakukan.
Devo yang sudah keluar dari ruangan Aleta merasa senang, dia sudah memikirkan cara agar bisa memiliki wanita itu. Tak lama Mona mendekat ke arahnya, dia memberikan sesuatu pada Devo yang langsung membuat lelaki itu bertambah senang.
"Agra, aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu. Tapi sekali ini saja, aku akan membawa Aleta bersamaku,"
•
•
•
TBC.
Terima Kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya terbaru Othor, dijamin gak kalah seru dari Aleta dan juga Agra 😍
__ADS_1
Kisah tentang seorang istri yang harus terpaksa menerima kebohongan dan pengkhianatan suaminya.