
Aleta dan Agra sudah sampai di rumah keluarga Winandra, terlihat dekorasi-dekorasi yang mewah dan indah membentang di halaman depan rumah gadis itu. Resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan di depan rumah Aleta, karna itu adalah permintaan dari kedua orangtuanya. Bukan karna tidak mampu untuk menyewa gedung, tapi karna memang mereka ingin hari bahagia putrinya tetap berada di rumah mereka.
Aleta dan Agra masih berdiam diri di dalam mobil, entah apa yang terjadi yang pasti mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"emm Agra, ada yang ingin ku katakan padamu," ucap Aleta memecah keheningan di antara mereka.
"aku tidak mau mendengarnya," Agra langsung menolak ucapan Aleta membuat gadis itu memandangnya dengan bingung.
"turunlah, aku akan langsung pulang," ucapnya lagi sembari kembali menghidupkan mesin mobilnya.
"tunggu, aku kan belum selesai ngomong," cegah Aleta, dia memegang tangan Agra dengan erat. Agra menoleh untuk menatapnya, dia menduga kalau Aleta ingin membatalkan pernikahan mereka.
"kan sudah ku bilang-"
"aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu," potong Aleta. Suaranya sangat pelan saat mengatakan itu.
"ka-kau bilang apa?" tanya Agra. Sepertinya pendengarannya sedang bermasalah, dia seperti mendengar ucapan yang tidak mungkin keluar dari mulut Aleta.
"yah pokoknya kayak gitulah," Aleta merasa malu jika harus mengulang apa yang tadi dia ucapkan. Dia buru-buru melepas sabuk pengaman untuk segera keluar dari mobil itu.
Namun Agra menahan tangannya, dia langsung menarik Aleta dan memeluknya dengan erat. Aleta hanya diam dalam pelukan Agra, dia berusaha untuk menetralkan debaran jantungnya yang terasa cukup keras.
"terima kasih," untuk pertama kalinya Aleta mendengar ucapan terima kasih dari mulut Agra, dia tidak menyangka kalau lelaki itu akan mengucapkannya. Sementara Agra sendiri sangat bahagia, dia yang tadinya berpikir salah dengar langsung yakin saat melihat raut wajah Aleta yang memerah karna malu.
****
Hari pernikahan pun tiba, semua keluarga besar dari kedua belah pihak sudah berkumpul di rumah Aleta. Mereka akan menyaksikan akad nikah yang akan diselenggarakan setengah jam lagi. Teman-teman dari kedua mempelai juga turut hadir pada momen bahagia itu, mereka sangat antusias untuk menyaksikan bersatunya Agra dan Aleta. Terutama teman-teman Aleta yang sudah sampai di tempat itu dari pukul 7 pagi.
Aleta tengah bersiap di kamarnya dengan ditemani oleh kedua mamanya, juga beberapa orang yang bertugas untuk membuat Aleta menjadi sangat cantik bak seorang putri.
Agra yang juga tengah bersiap di kamar Dareen sedang ditemani oleh Dareen dan teman-temannya. Dia terlihat sangat gugup, beberapa kali Agra menyentuh dasinya yang jelas-jelas sudah sangat rapi. Teman-temannya hanya tertawa saja saat melihatnya, mereka merasa terhibur dengan kegelisahan Agra.
__ADS_1
"Apa semua sudah siap?" papa Arsen masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan menantunya. Agra sudah sangat rapi dengan setelan jas yang tampak sangat pas di tubuhnya. Kemudian mereka membawa Agra untuk turun ke lantai 1, tempat di mana dia akan menjadikan Aleta sebagai istrinya.
Aleta sendiri juga sudah siap, dia terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna putih yang mewah dan elegan. Semua orang yang melihatnya pasti akan terpukau, dia benar-benar terlihat seperti seorang ratu.
"anak mama ternyata sudah besar, perasaan baru semalam mama mengganti popokmu," ucap mama Deeva dengan suara parau. Dia sudah mencoba untuk menahan air matanya, namun tetap saja air mata itu berhasil lolos dan mengalir di wajahnya.
Aleta menggenggam tangan sang mama, dia juga merasa sedih karna harus berpisah dengan keluarganya. Bukan berpisah dalam artian tidak akan bertemu lagi, namun berpisah karna harus membangun rumah tangganya sendiri.
"perlakukanlah suami mu dengan baik, layani segala kebutuhannya. Anak mama pasti bisa kan," Mama Deeva sudah tidak sanggup lagi membendung air matanya, dengan cepat Aleta memeluk sang mama dengan erat seraya menenangkannya. Mama Lena yang melihatnya pun juga ikut sedih, namun dia juga merasa bahagia karna memiliki menantu juga besan yang baik seperti keluarga Aleta.
"tante, Aleta sudah di suruh turun," tiba-tiba Lusi masuk ke dalam kamar dan memberitahu mereka untuk segera turun ke lantai bawah. Kemudian mereka semua membawa Aleta untuk bergabung dengan sang pangeran yang sudah menunggunya dengan sabar.
Semua mata langsung menatap ke arah Aleta, mereka benar-benar terpesona dengan kecantikan dan penampilannya saat ini. Tubuhnya yang mungil membuatnya sangat imut dan menggemaskan, apalagi di tambah dengan gaun yang memperlihatkan kaki serta lengannya yang terbuka menambah kesan elegan pada penampilannya.
Agra sendiri tidak bisa memalingkan matanya dari Aleta, dia merasa sungguh beruntung bisa memiliki istri yang sangat cantik sepertinya. Dia sampai tidak sadar kalau Aleta sudah duduk tepat di sampingnya.
"Agra," panggil papa Abi saat melihat anaknya itu terus menatap ke arah Aleta. Agra jadi gelagapan saat menyadari apa yang dia lakukan, dan segera mengalihkan pandangannya ke arah depan. Lalu mereka semua bersiap untuk segera melakukan ijab kabul.
SAH.
Mata Aleta juga berkaca-kaca, dia merasa sedih namun juga senang. Semua rasa bercampur jadi satu dalam hatinya. Kemudian Aleta mencium punggung telapak tangan Agra dan di balas dengam kecupan yang mendarat di keningnya.
Tangis kebahagian terus menggema di ruangan itu, seluruh keluarga mengucapkan selamat dan turut mendo'akan agar rumah tangga mereka berjalan dengan lancar dan bahagia.
Teman-teman Aleta dan Agra juga tidak mau ketinggalan, mereka memeluk para sahabat mereka serta melambungkan do'a untuk kesejahteraan rumah tangga mereka.
"selamat ya bro, gak nyangka gue ternyata jadi juga loe nikah," ucap Rezie sambil memeluk Agra, dan Agra balas memeluknya dengan senang.
"benar, selamat ya Agra. Aku do'akan agar rumah tangga kalian selalu bahagia," ucap Ricky dengan tulus. Walau hatinya merasa sedikit sakit namun dia benar-benar tulus mendo'akan mereka.
"terima kasih," balas Agra sembari memeluk Ricky.
__ADS_1
Aleta yang saat ini sedang bersama teman-temannya juga saling peluk-pelukan, mereka ikut bahagia melihat Aleta menikah dengan Agra.
"Ale, jangan lupa kalau abis malam pertama nanti ceritain ke aku ya," bisik Lusi yang langsung mendapat cubitan dari Aleta. Temannya itu benar-benar sudah lari dari jalan yang benar.
"ehem," suara baritone Agra mengagetkan mereka yang sedang saling bercengkrama. Agra lalu mendekat dan memeluk pinggang Aleta dengan posesif.
"selamat untuk anda tuan, kami do'akan supaya anda dan Aleta punya banyak anak," ucap Lusi dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
"kau sendiri aja sana yang punya banyak anak," celetuk Rezie. Entah kenapa dia selalu saja mengajak Lusi untuk beradu mulut.
"cih, aku nanti pasti bakal punya banyak anak. enggak kayak anda, tidak bisa punya anak," lawan Lusi, Sementara yang lain hanya menghela napas kasar mendengar perdebatan mereka.
"apa kau bilang? apa perlu ku buktikan kejantananku padamu," Rezie merasa tidak terima dengan apa yang wanita itu katakan.
"kau-"
"sudah cukup. kalian ini cocok sekali ya, jangan-jangan jodoh," goda Ricky.
"ogah," jawab Rezie dan Lusi bersamaan.
•
•
•
TBC.
othor : cocok kali ya kalau Rezie dan Lusi menikah 🤔
Rezie/Lusi : ogah 🔪🔪
__ADS_1
Yuk dukung othor sebanyak-banyaknya, dukungan kalian sangat berarti untuk othor 🥰
Terima kasih buat yang udah baca 😘