Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 89. Fakta Devo


__ADS_3

"sayang?" Aleta merasa geli sekaligus senang saat mengucapkan kata panggilan yang diinginkan suaminya.


"begitu lebih baguskan?" seru Agra yang tetap pada posisinya saat ini. Aleta mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui ucapan sang suami.


"terus kalau panggilan untukku apa?" tanya Aleta sembari membalikkan tubuh Agra supaya melihat ke arahnya.


"emm..., babut?" jawab Agra dengan menahan tawanya.


"apaan babut?" tanya Aleta yang merasa aneh dengan panggilan itu.


"Baby imut."


Aleta diam sembari memikirkan kata-kata itu, bagus sih menurutnya, tapi kok sepertinya ada yang mengganjal.


"Kamu mau manggil aku babukan, makanya kamu plesetin jadi babut?" Aleta memukul-mukul paha Agra yang di balas dengan tawa dari suaminya itu.


"Oke-oke haha." Agra semakin mengeraskan tawanya saat melihat wajah cemberut sang istri yang tampak lucu dimatanya.


"terus kau mau dipanggil apa? honey? baby? sweety?" lanjut Agra dengan mengecup gemas bibir Aleta, sementara Aleta sendiri sedang berpikir keras tentang panggilan untuk dirinya sendiri.


"Sayang aja deh, itu kayaknya lebih umum," Aleta memilih panggilan yang biasa disebut oleh kebanyakan orang.


Agra hanya menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang Aleta ucapkan, kemudian dia beranjak bangun dan segera menggendong sang istri untuk masuk ke kamar karna hari memang sudah sangat larut.


"ayo, tidur!" ajak Agra sembari melingkarkan tangannya ke perut Aleta membuat wanita itu memandangnya dengan aneh.


"aku belum ngantuk," seru Aleta sembari memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Agra.


"Karna kau belum ngantuk, maka-" Agra langsung menyerang Aleta dengan bringas membuat Aleta kaget dengan apa yang Agra lakukan.


Mereka melewati malam yang penuh gelora cinta dan hasrat, membuat tubuh mereka mengkilap karna peluh akibat aktivitas panas mereka.


Agra segera mengecup kening sang istri saat sudah selesai dengan pekerjaan mulianya, dia memeluk Aleta dengan erat seraya terpejam memasuki alam mimpi.


Aleta sendiri masih juga terjaga, walau seluruh tubuhnya merasa lelah namun matanya tak juga kunjung terpejam. Dia memperhatikan Agra yang sudah terlelap dengan nyaman, suaminya itu setiap hari semakin tampan saja menurutnya.


"apa semua ini benar-benar terjadi? suamiku benar-benar mencintaiku?" Aleta masih saja tidak menyangka kalau semua yang terjadi padanya adalah sebuah kenyataan.


"dan apa itu tadi? kenapa sikapnya jadi berubah seperti ini?"

__ADS_1


Lambat laun rasa kantuk menyerang kedua mata Aleta membuatnya terlelap dan mulai memasuki alam mimpi.


****


Beberapa hari telah berlalu, sikap Agra telah banyak berubah dari pertama kali bertemu dengan Aleta. Aleta sendiri tidak ambil pusing, walau kadang sikap manja dan posesifnya Agra sering memancing kekesalan dalam hatinya.


"sayang, hari ini aku harus pergi ke suatu tempat," ucap Agra, dia memeluk tubuh Aleta sembari melihat wajah serius sang istri yang sedang memasang dasi dikerah kemejanya.


"ke mana?" tanyanya tanpa melihat ke arah Agra.


Agra menghela napas berat. "Menemui Mona."


Aleta langsung menatap tajam padanya, namun seketika dia kembali memasang senyum dibibirnya saat melihat wajah Agra yang seakan merasa kecewa karna reaksinya.


"hati-hati dijalan," hanya itu yang dapat Aleta ucapkan sembari membantu sang suami memekai jas yang semakin menambah kewibawaannya.


"Maaf." Agra memeluk tubuh Aleta dari belakang, dia merasa bersalah karna masih harus berurusan dengan sang mantan.


Aleta berbalik dan tersenyum dengan sangat manis, dia meyakinkan Agra kalau saat ini dia baik-baik saja.


Setelah mendaratkan kecupan diseluruh wajah sang istri, Agra segera pamit dan berlalu bersama Felix ke perusahaan. Aleta sendiri segera bergegas untuk menelpon teman-teman seperjuangannya dan menyuruh mereka untuk datang ke apartemennya saat ini. Dia harus bertindak cepat agar suaminya tidak diganggu oleh wanita siluman itu.


Mahesh Company


"beberapa hari yang lalu, Devo terlihat berkeliaran didaerah Seina Tuan. Sepertinya apa yang diucapkan oleh Nona Mona itu benar," lapor Felix sembari menyerahkan berkas-berkas pekerjaan yang harus ditanda tangani oleh Agra.


"Nona Mona juga berulang kali meminta untuk bertemu dengan tuan," tambahnya lagi, selama berhari-hari ponsel Felix terus diteror oleh Mona yang meminta bertemu dengan Agra.


Agra memang memerintahkan Felix untuk memberikan nomor ponselnya pada Mona agar wanita itu tidak lagi menelponnya. Awalnya Mona menolak apa yang Agra katakan, namun dengan ancaman dari Agra maka mau tidak mau dia harus mengikutinya.


"dan juga...," Felix menjeda ucapannya karna takut melihat amarah Agra saat mendengar apa yang akan dia ucapkan.


Agra mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah Felix yang tidak melanjutkan ucapannya.


"apa?" tanyanya sembari melihat kembali ke berkas-berkas yang berserakan dimejanya.


"Devo juga pernah datang ke kampus Nyonya, dia bertemu dengan Nyonya Aleta dan-"


"kau bilang apa?" teriak Agra memotong ucapan Felix, dia sampai berdiri dari duduknya karna terkejut dengan laporan yang disampaikan sekretarisnya itu.

__ADS_1


"Devo sengaja datang ke Universitas untuk bertemu dengan Nyonya-"


"Bajingan! beraninya dia!" Brak, suara benda-benda yang berjatuhan dari atas meja terdengar cukup keras. Agra memporak-porandakan seisi ruangan untuk melampiaskan kekesalannya.


"beraninya bajingan itu menemui istriku!"


"Apa belum puas selama ini dia membuat hidupku hancur!" Agra menggila diruangannya membuat Felix menundukkan kepalanya, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


Papa Abi yang berniat untuk menemui Agra mematung di depan pintu, dia melihat seisi ruangan yang sudah seperti pesawat pecah saat ini.


"ada apa ini?" teriak Papa Abi membuat Felix terjingkat kaget, begitu juga dengan para karyawan yang berlalu lalang di depan ruangan itu. Namun mereka memilih untuk melanjutkan langkah mereka, mereka tidak ingin ikut campur dengan urusan orang kaya. Terlebih-lebih orang kaya itu adalah bosnya mereka sendiri.


"Agra, ada apa ini?" tanya Papa Abi kembali sembari melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu.


Agra hanya diam dengan dada yang naik turun menahan emosi, tangannya sudah terkepal dengan sangat erat menandakan kalau saat ini dia benar-benar sedang dikuasai amarah.


"Felix?" Papa Abi beralih bertanya pada Felix karna tidak mendapat jawaban dari sang putra, sementara Felix tidak tahu harus mengatakannya atau tidak.


"Kita harus pergi sekarang juga." Agra meninggalkan Papa Abi yang masih dikuasai dengan kebingungan.


"Baik tuan." Felix menganggukkan kepalanya, namun sebelum pergi Felix sedikit memberi bocoran pada Papa Abi.


"Tuan Besar, kami akan menemui Nona Mona," ucapnya sembari menundukkan kepala dan berlalu menyusul langkah Agra yang sudah menjauh.


"Apa? Mona?" Papa Abi benar-benar terkejut saat mendengar itu, dia tidak tau apalagi yang sedang terjadi antara anaknya dan wanita itu.


Tak mau ambil pusing, Papa Abi segera menghubungi Ayah Mona untuk menyuruh lelaki itu datang menemuinya.


"kalau sampai anaknya membuat ulah lagi, maka aku sendiri yang akan mengurusnya," gumam Papa Abi setelah menelpon orangtua Mona.





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


Mampir juga yuk ke karya teman othor, dijamin keren dan seru 😍



__ADS_2