
Mona masih mematung di hadapan Aleta dan Agra, dia enggan untuk pergi. Namun tidak mungkin juga dia memaksa untuk duduk, nanti yang ada malah dia yang akan dipermalukan
"loh, masih di sini?" seru Aleta sembari mengusap mulutnya yang belepotan. Dia sudah tidak selera lagi menikmati es krim itu karna seorang mantan kekasih sang suami yang tidak tau diri.
"Apa perlu, aku panggilkan pegawai tokonya untuk menunjukkan kursi kosong," Aleta bersedekap dada memasang tampang serius. Lama kelamaan dia merasa jengah juga melihat wanita itu.
"sok sekali gadis kecil ini," Mona tidak menyangka kalau Aleta bisa berkata seperti itu padanya.
"Suamiku, apa hari ini adalah hari mantan ? kenapa banyak sekali mantan-mantan yang berkeliaran?" Aleta menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berdecak kesal dengan apa yang barusan dia ucapkan.
Agra menahan tawa yang sudah hampir lepas dari mulutnya, bahunya tampak gemetar karna tawa yang sedikit terlepas.
Mona menautkan alisnya saat mendengar ocehan gadis kecil yang ada di hadapannya. Dia merasa seperti disindir secara langsung dengan Aleta.
"Mantan-mantan, cocoknya dibuang saja ke tong sampah,"
"apa maksudmu?" sambar Mona, dia merasa tersinggung karena Aleta sedari tadi menyebut tentang mantan.
"kenapa sih nona ? aku bahas mantan kok, bukan nona. Sensi amat," ketus Alet sembari membuang muka. Mona melihatnya dengan berapi-api, berani sekali gadis kecil itu berbicara seperti itu padanya.
"tolong jaga ucapanmu ya, gadis kecil," cibir Mona, dia masih tetap berdiam diri di hadapan dua orang manusia yang jelas-jelas menolak keberadaannya.
"Ya-ya aku gadis kecil, tapi udah bisa loh bikin anak kecil." Aleta mengusap perutnya yang sedikit menonjol membuat Mona bertambah geram, dia ingin sekali mencakar mulut Aleta yang berbisa.
"apa perlu aku panggilkan keamanan untuk menyeretmu dari sini?" Agra yang sudah benar-benar habis kesabaran memilih angkat bicara, dia melihat ke arah Mona dengan tajam membuat Mona menciut karna tatapan matanya.
Mona bergegas pergi meninggalkan mereka tanpa mengatakan apa-apa, sementara Aleta bernapas lega saat melihat kepergian wanita tidak tau malu itu.
"ayo, kita pergi!" ajak Agra sembari berdiri dari duduknya, dia juga sudah tidak selera untuk memakan es krim kesukaannya. Namun Aleta tetap dia di tempat duduk, hanya wajahnya saja yang mendongak ke arah Agra.
"kenapa pergi sekarang? kau mau mengejar mantanmu itu ya?" tuduh Aleta dengan tatapan curiga.
"apa?" Agra benar-benar kaget mendengar ucapan Aleta, ngapain pula dia mengejar wanita yang jelas-jelas tadi tidak dia pedulikan.
"Cih." Aleta hanya berdecak kesal melihat Agra, entah kenapa perasaannya menjadi super kesal pada lelaki itu.
__ADS_1
"Makanya, punya mantan itu yang bagus. Sama aja kayak kak Dareen, punya mantan model siluman." Aleta berdiri dan langsung pergi meninggalkan Agra dengan mulut menggerutu membuat Agra terbengong di tempatnya.
****
Beberapa hari telah berlalu, Aleta kembali datang ke kampusnya untuk mempersiapkan acara kelulusan. Sedari pagi, dia sudah mondar mandir ke sana kemari bersama dengan teman-temannya, banyak hal yang harus mereka persiapkan untuk acara wisuda.
"duuh aku capek banget," keluh Aleta sembari duduk di kursi kantin, perutnya yang mulai buncit membuatnya sesak dan mudah lelah.
"Udah keliatan juga ya perutmu." Lusi mengelus perut Aleta yang sudah terasa besar, Egi dan Bima juga ikut-ikutan melakukan seperti apa yang dibuat Lusi.
"Astaga." Lusi dan kedua temannya merasa kaget saat bayi yang di kandung Aleta menendang perut sang ibu, mereka beralih melihat ke arah Aleta dengan tatapan takjub dan tidak percaya dengan apa yang mereka rasakan saat ini.
Agra yang baru sampai ke tempat di mana Aleta berada memperhatikan dari kejauhan, matanya membulat sempurna saat melihat teman-teman Aleta mengelus perutnya. Agra mempercepat langkah kakinya supaya cepat sampai ke tempat sang istri.
"apa yang kalian lakukan?" suara baritone Agra mengagetkan mereka berempat di tempat itu, Agra segera menarik Egi dan juga Bima agar menjauh dari Aleta.
"suamiku, kau sudah sampai," Aleta menghamburkan diri ke pelukan sang suami, entah kenapa semakin hari dia semakin manja dan selalu menyebut Agra dengan panggilan suamiku.
Agra mengecup pipi Aleta yang terlihat semakin berisi, dan beralih mengusap perutnya dengan sayang. Lusi, Egi dan Bima menjadi penonton setia, mereka tidak menyangka bahwa Aleta berhasil membuat Agra bertekuk lutut dikakinya. Tanpa mereka ketahui, sebenarnya Aleta dan Agra selalu bertengkar seperti kucing dan tikus.
Lusi ikut-ikutan mengendus tubuh Agra, namun dari jarak yang tidak terlalu dekat membuat Aleta tidak suka dan langsung menarik rambut temannya itu untuk menjauh.
"aduuuh sakit tau," jerit Lusi sembari menggosok-gosok kepalanya akibat tarikan Aleta, sementara Aleta hanya melotot ke arahnya.
"tuan Agra gak bau kok, kamu tuh Ale yang bau," seru Lusi yang tadi tidak mencium bau apapun dari tubuh Agra.
Aleta kemudian mengendus tubuhnya sendiri, dan langsung cengengesan saat mencium bau yang tidak sedap dari tubuhnya. Ternyata bukan Agra yang bau, melainkan tubuhnya sendiri.
Agra hanya geleng-geleng kepala saja saat melihat itu, kemudian dia mengajak Aleta untuk pulang karna memang hari sudah sangat sore.
Dalam perjalanan, ponsel Agra berdering membuat Aleta yang tadi sudah mulai terpejam kembali membuka matanya dengan lebar.
"kok enggak diangkat?" tanya Aleta saat beberapa kali ponsel Agra berdering namun tak juga dijawab.
"enggak penting," jawab Agra, dia melihat banyak panggilan masuk dari nomor baru yang jelas tidak penting menurutnya.
__ADS_1
Aleta bergegas mengambil ponsel yang ada di sebelah Agra, dan melihat ponsel itu yang memang tidak memakai kunci pengaman.
"Siapa ini? banyak sekali loh dia nelpon." Aleta memilih untuk menghubungi nomor itu, dia takut mungkin saja itu nomor dari salah satu kerabat Agra.
"halo," terdengar suara wanita yang menjawab telpon dari Aleta.
"siapa ya?" tanya Aleta, sementara Agra merasa tidak peduli dan tetap fokus menyetir.
"ak-aku Mona," jawab wanita itu. Aleta mengernyitkan keningnya, dia beralih melirik ke arah Agra yang tetap melihat lurus ke depan.
"ada apa ya M-o-n-a?" Aleta sengaja menekankan nama sih penelpon hingga membuat Agra melihat ke arahnya.
"To-tolong aku." Tut. Panggilan itu langsung terputus saat Mona selesai mengucapkan kata tolong. Aleta kembali meletakkan ponsel Agra dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
"kenapa?" Agra melihat ke arah Aleta yang hanya diam sambil melihat lurus ke depan, dia penasaran dengan apa yang wanita di telpon itu katakan pada sang istri.
"mantanmu, dia minta tolong karna mau m-a-t-i," Aleta menekankan suaranya pada kata mati membuat Agra langsung menginjak rem.
"apa?"
•
•
•
TBC.
Kita kubur sama-sama yuuk 🤭🤭
Yuk Like dan Komen yang banyak, VOTE dan Rating 5, jangan lupa Hadiah juga ya 🥰 biar karya othor semakin berkembang 😍
kalian juga bisa kasi dukungan buat othor dengan cara tonton iklan ya, yuuk othor tunggu 🥰
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1