Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 60. Hamil


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit, Agra terus menggenggam tangan Aleta dengan erat. Perasaannya dipenuhi dengan kekhawatiran dan ketakutan, dia takut terjadi sesuatu pada istri kecilnya.


Aleta sendiri hanya diam sembari memejamkan mata, dia merasa sangat lemas dengan berbagai pikiran di kepalanya.


Mobil mereka telah sampai di Rumah sakit X, Agra segera turun dan menggendong Aleta ala bridal style untuk membawanya ke dalam rumah sakit.


"Dokter! Dokter...," suara Agra menggema di lobi Rumah sakit membuat beberapa perawat dan seorang Dokter segera menghampirinya.


Agra membaringkan tubuh Aleta ke atas Branker dengan tetap menggenggam tangannya.


"Loh, Aleta?" Dokter Sam yang menghampiri mereka ternyata mengenal Aleta karna wanita itu pernah magang di sana, begitu juga dengan beberapa perawat yang sedang mendorong Branker menuju UGD.


Sudah 30 menit berlalu, namun Dokter belum juga keluar dari ruangan itu. Agra berjalan ke sana ke mari seperti setrika panas menunggu hasil pemeriksaan Aleta. Tak berselang lama, datanglah Ricky dari kejauhan seraya berlari mendekat ke arahnya.


"Agra!" panggil Ricky yang membuat Agra memalingkan pandangan ke arahnya.


"apa yang terjadi?" Ricky yang sedang memeriksa pasien terkejut saat salah tau perawat mengatakan kalau Aleta sedang berada di ruang UGD. Dia segera bergegas untuk melihat keadaan gadis itu.


"ak-aku tidak tau," jawab Agra frustasi. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Aleta bisa seperti itu, apalagi istrinya sampai mengeluarkan darah membuat jantungnya seolah-olah berhenti berdetak.


Ricky juga dibuat khawatir karna jawaban Agra, dia memilih untuk menemani lelaki itu sembari menunggu hasil dari pemeriksaan Aleta.


Selang beberapa menit, akhirnya Dokter keluar dari ruang UGD membuat Agra dan Ricky langsung menghampirinya.


"bagaimana keadaan istriku? dia baik-baik sajakan? apa yang terjadi padanya?" Agra memberondong Dokter itu dengan berbagai pertanyaan, membuatnya tidak tau harus menjawab pertanyaan yang mana dulu.


"sebenarnya apa yang terjadi tuan?" bukannya menjawab pertanyaan Agra, Dokter itu malah balik bertanya padanya.


"kenapa kau malah bertanya padaku, kan kau Dokternya!" teriak Agra dengan kesal. Ricky mencoba untuk menenangkan Agra yang sudah seperti orang yang kesetanan.


"maaf tuan, sepertinya perut Aleta em maksud saya nyonya Aleta terbentur oleh benda keras. Sehingga menyebabkan pendarahan," jelas Dokter tersebut.


Agra dan Ricky saling pandang, apalagi Agra yang terlihat belum paham dengan penjelasan Dokter itu.

__ADS_1


"tapi untungnya kandungan nyonya Aleta baik-baik saja, dia hanya mengalami syok yang menyebabkan pendarahan," tambah Dokter itu lagi.


"hah? kandungan?" Agra kebingungan mendengar ucapan Dokter yang ada di hadapannya.


"maksud anda, Aleta sedang hamil Dok?" Ricky bertanya langsung untuk memperjelas maksud dari ucapan Dokter itu.


"benar, dan menurut perkiraan saya kehamilannya sudah memasuki minggu ke 14," sambung Dokter itu seraya memerintahkan perawat untuk memindahkan Aleta ke ruang perawatan.


"ka-kandungan? ha-hamil? ming-minggu ke 14?" Agra merasa seperti kepalanya sedang ditimpa oleh batu besar, membuatnya merasa pusing tujuh keliling. Kakinya juga terasa lemas, dia hampir terjatuh ke lantai kalau tidak ditahan oleh tubuh Ricky.


"Agra, ada apa denganmu?" Ricky mendudukkan tubuh Agra ke sebuah kursi dan dia sendiri ikut duduk di sampingnya.


"A-Aleta hamil? di-dia hamil anakku?" bibir Agra bergetar saat mengucapkannya, dia tidak menyangka kalau saat ini Aleta tengah hamil.


Perawat memberitahu mereka untuk segera memindahkan Aleta keruang perawatan, Ricky segera mengurus segala administrasi sedangkan Agra menyusul Aleta yang sudah di bawa ke ruang VIP.


"A-Aleta," Agra memanggil Aleta yang terlihat sedang melamun, lalu dia beralih melihat ke arah Agra.


"aku benar-benar hamil?" Aleta tidak menyangka kalau perkiraannya benar, saat ini dia sedang mengandung buah cinta dari suaminya.


"maafkan aku," Agra memegang kedua tangan Aleta sembari meminta maaf, dia tidak tau kalau saat ini istrinya sedang hamil. Apalagi saat dia ingat kalau pendarahah yang terjadi pada Aleta karna terbentur benda keras, dan dialah pelakunya.


"maafkan aku," Agra terus mengucapkan kata maaf karna kesalahannya, dan untung saja Tuhan masih memberinya kesempatan. Kalau saja terjadi sesuatu pada Aleta dan bayinya, mungkin Agra akan merasa hancur dan tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri seumur hidup.


"kenapa kau minta maaf?" tanya Aleta yang sudah merasa sebal karna mendengar Agra terus mengucapkan kata maaf. Apa jangan-jangan suaminya itu meminta maaf karna sudah membuatnya hamil ?


"kau menyesal udah membuatku hamil?" tanya Aleta dengan tajam sembari mengepal kuat tangannya, kalau sampai Agra menganggukkan kepala dia akan meninju wajahnya itu.


"bu-bukan! aku minta maaf karna tadi udah bersikap kasar, maafkan aku," ucap Agra dengan sendu.


"makanya jadi manusia itu yang halus, gak usah pakek kekerasan bisakan!" balas Aleta menggebu-gebu, dia jadi kembali teringat dengan keributan yang mereka alami di apartemen.


"aku gak bisa halus. karna aku ini makhluk kasar, bukan makhluk halus," bantah Agra.

__ADS_1


"tuh kan lihat, kau masih saja marah-marah," cibir Aleta sembari mencebikkan bibirnya, sementara Agra menghirup udara dalam-dalam untuk menenangkan emosinya. Dia tidak mau lagi terjadi sesuatu pada Aleta dan kandungannya.


"tapi kenapa tidak memberitahuku?" tanya Agra dengan selembut mungkin, dia tidak mau lagi memancing keributan.


"gimana mau ngasitau, aku aja baru tau hari ini," jawab Aleta. Agra memicingkan matanya karna ragu dengan jawaban istrinya itu, namun ya sudahlah, toh semua sudah terjadi pikirnya.


"tapi, biasanyakan kalau hamil muntah-muntah gitu. Tapi kau, kok enggak?" Agra memberikan argumennya, dia sudah seperti orang yang sangat mengetahui soal kehamilan.


"siapa bilang?" Ricky tiba-tiba masuk ke ruangan Aleta mengalihkan perhatian mereka.


"Bukan Aleta yang ngidam, tapi kau." Tunjuk Ricky pada Agra sambil duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"hah? aku?" Agra menunjuk dirinya sendiri karna ucapan Ricky dan di balas dengan anggukan kepala.


Lalu Ricky menjelaskan tentang semua perubahan yang terjadi pada Agra, mulai dari emosinya yang berubah-ubah, sampai pada Agra yang bisa tiba-tiba muntah karna sesuatu hal. Semua gejala itu menunjukkan tentang kehamilan simpatik yang akan dirasakan oleh seorang suami saat istrinya sedang hamil.


"Pantas dia berubah jadi orang gila, rupanya karna itu." Aleta mengangguk-anggukkan kepalanya karna sudah mengerti dengan apa yang terjadi pada suaminya, sementara Agra yang dikatai gila mendengus sebal dengan bibir maju beberapa senti.


Agra yang tidak mau lagi terpancing emosi memilih untuk mengabari keluarga besarnya untuk memberitahukan tentang kondisi Aleta, dan berita darinya membuat kegemparan di keluarga Mahesa maupun keluarga Winandra.





TBC.


ya ampun, ternyata sikap Agra selama ini di sebabkan karna kehamilan Aleta. 🤭


Yuk Like dan Komen yg banyak, VOTE dan Rating 5, jangan lupa hadiah juga ya 🥰 biar karya othor ini bisa bersinar 😍


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2