
"jangan menyentuhku!" seru Agra sambil mencoba untuk melepaskan pelukan Aleta, sementara Aleta memeluknya dengan erat sampai Agra susah untuk bernapas.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Agra sampai terbatuk-batuk karna sesak napas saat pelukan Aleta begitu kuat melingkar diperutnya.
"apa kau mau membuatku mati!" bentak Agra, dia membalikkan tubuhnya agar berhadapan langsung dengan sang istri.
"bagaimana mungkin aku membuatmu mati? kau adalah napasku, kalau sampai kau mati, itu berarti aku juga akan mati," gombal Aleta, dia ingin membuat Agra agar tidak marah-marah lagi dengannya.
Agra yang mendengar ucapan Aleta berusaha untuk menahan senyumnya, dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Akhirnya Agra kembali memeluk Aleta pertanda bahwa dia sudah tidak marah lagi, dan drama malam ini sudah selesai dengan bujuk rayu sang ratu drama.
****
Beberapa hari telah berlalu, Aleta mengumpulkan pasukannya untuk berkunjung kerumahnya saat ini. Dia juga mengundang Margaret karna memang masalah yang akan mereka selesaikan adalah masalah yang sedang dihadapi oleh wanita itu.
"Ale..., aku kangen sekali denganmu. Sudah lama kita tidak bertemu," seru Lusi yang baru sampai ke apartemen Aleta, dia memeluk tubuh temannya semabari cepika-cepiki. Begitu juga dengan Egi dan bima yang berjalan tepat di belakang gadis itu.
"aku juga kangen sekali dengan kalian. Ayo, kita masuk!" ajak Aleta, terlihat Margaret sudah duduk manis diruang tamu.
Kemudian mereka semua duduk diruang tamu Aleta untuk membahas masalah penting yang sedang terjadi.
"jadi gimana? apa kalian sudah memikirkan cara untuk memberi pelajaran pada Lesya?" tanya Aleta, kemarin dia sudah menceritakan semua yang terjadi pada teman-temannya.
"bagaimana kalau kita melakukan jebakan yang sama seperti yang telah dia lakukan pada Margaret?" tanya Bima, dia tidak ingin bersusah payah untuk memikirkan hal yang lainnya.
"aku setuju, pasti bakal seru kalau sampai dia meminum obat perangsang itu dan meminta seorang pria untuk tidur dengannya. Tapi jangan hanya satu, kita harus memberi 3 bungkus obat untuknya," ucap Lusi, dia setuju dengan apa yang Bima katakan, bahkan dia ingin kalau Lesya merasakan yang lebih parah dari apa yang dirasakan Margaret.
"gila! kau mau buat dia isdet?" seru Egi.
"bener itu, lebih baik 2 bungkus aja," tambah Aleta.
Yang lainnya juga terlihat setuju dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu, mereka lalu mulai menyusun rencana untuk melancarkan aksinya. Mereka juga harus membuat Lesya menjadi bahan tontonan semua orang.
__ADS_1
Ditempat lain, terlihat seorang pria sedang uring-uringan di atas kursi kerjanya. Beberapa dokumen terlihat berserakan di atas meja tanpa dia sentuh. Dareen mengusap wajahnya saat kembali mengingat wajah Margaret, padahal dia sudah susah payah untuk melupakannya.
"sial! kenapa aku bisa tergila-gila pada wanita itu sih?" cibir Dareen yang tidak mengerti kenapa dia bisa sangat mencintai Margaret, apalagi hubungan mereka sudah sampai sejauh itu.
Lalu tiba-tiba, suara ponsel mengagetkannya yang sedang meratapi kisah cinta yang tidak kesampaian. Dia melihat ponsel itu, dan langsung mengangkatnya saat nama Aleta terlihat dilayar ponselnya.
"halo, Kak!" seru Aleta disebrang telpon.
"iya dek, kenapa?" tanya Dareen, tumben Aleta menelpon di jam kantor seperti ini.
"apa nanti malam Kakak ada acara?" tanya Aleta, dia ingin mengadakan acara makan malam bersama dengan sang Kakak.
"emm enggak dek, kenapa?" tanya Dareen.
"aku ingin mengajak Kakak makan malam, aku juga mengundang temanku. Kakak datang ya," ajak Aleta.
"tumben ngajak makan malam?" tanyanya dengan heran.
"yah, pokoknya ikut aja deh," jawab Aleta, dia bingung ingin memberi alasan apa pada sang kakak.
Kemudian, sambungan telpon itu terputus saat Aleta sudah mengirimkan alamat dari restoran tempat mereka akan makan malam.
"tumben anak itu ngajak makan malam bersama," gerutu Dareen, dia merasa aneh karna baru pertama kali Aleta bertindak seperti ini.
Setelah satu harian berkutat dengan pekerjaan, akhirnya Dareen bisa bernapas lega sembari meluruskan seluruh tubuh yang terasa kaku.
Dia beranjak mengambil pakaian ganti yang sudah disiapkan oleh sekretarisnya untuk makan malam bersama dengan sang adik.
Setelah semua persiapan selesai, Dareen melajukan mobilnya kesebuah restoran yang cukup terkenal di kota ini. Dia merasa sangat bersemangat karna akan berkumpul dengan keluarga kecil adiknya.
Akhirnya mobil Dareen sudah sampai diparkiran restoran setelah berkendara kurang lebih 40 menit, dia segera turun dan beranjak masuk ke dalam restoran.
"selamat malam Tuan, selamat datang direstoran kami. apa ada yang ingin Tuan pesan?" tanya karyawan restoran itu dengan ramah, kemudian Dareen memberitahu bahwa dia akan menemui adiknya yang saat ini sedang berada di privat room.
__ADS_1
Karyawan tadi kemudian mengantarkan Dareen ke tempat di mana Aleta berada, dan dia mempersilahkan Dareen untuk masuk setelah berada di depan ruangan itu.
Deg, jantung Dareen terasa berhenti berdetak saat melihat wanita yang sedang duduk di samping Aleta, kakinya terasa kaku seakan-akan tidak bisa untuk digerakkan.
"loh Kak, kok malah bengong disitu sih?" seru Aleta yang langsung membuat Dareen kembali sadar.
Dareen lalu kembali melangkahkan kakinya untuk bergabung bersama Aleta dan orang-orang yang saat ini sudah duduk ditempat itu.
"bagaimana kabarmu, Dareen?" tanya Lesya dengan lembut, dia bahkan melebarkan senyumannya saat melihat ke arah lelaki itu.
"baik," jawab Dareen dengan cuek, sementara Agra dan Aleta hanya menjadi penonton dihadapan mereka saat ini.
Teman-teman Aleta dan juga Margaret sudah ada disamping ruangan Aleta, mereka mengintip melalui kaca besar yang ada dipertengahan ruangan itu.
"aku takut, bagaimana kalau Lesya tau apa yang kita lakukan?" ucap Margaret, dia tidak ingin orang lain terkena imbas dari masalahnya.
"tenang aja Kak, semua pasti lancar dan baik-baik saja," ucap Lusi dengan yakin, mereka lalu kembali mengamati situasi dan kondisi yang ada diruangan Aleta.
Dareen yang tadinya semangat kini mendadak jadi lesu saat melihat wajah Lesya, dia tidak mengerti kenapa wanita itu sedang bersama dengan Aleta saat ini.
"aku gak perlu mengenalkan Lesya kan Kak?" ucap Aleta, tetapi dia langsung mendapat tatapan tajam dari Dareen seolah-olah akan menelan tubuhnya hidup-hidup.
"aku mengundang Lesya karna saat ini dia sedang menjalin hubungan kerja sama dengan Agra, itu sebabnya enggak ada masalahkan kalau kita makan bersama-sama?" ucap Aleta, dia menuangkan secangkir minuman untuk mereka semua.
"terima kasih karna sudah mengundangku Aleta, aku merasa sangat bahagia," seru Lesya, dia tersenyum dengan ramah seakan-akan habis memenangkan sebuah hadiah mewah dimuka bumi ini.
"baiklah, berbahagia lah kau sebelum aku menghancurkanmu!"
•
•
•
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘