
"sayang, aku menginginkannya," suara berat nan seksi terdengar menyapu telinga Aleta membuat seluruh tubuhnya meremang seketika.
Agra segera membalikkan tubuh Aleta menghadap ke arahnya, dia terlihat sudah sangat berhasrat saat ini. Ternyata Agra membawa Aleta ke apartemennya untuk melakukan sesuatu yang tertunda di malam pertama mereka.
Aleta sedikit gugup, dia meremas dada bidang Agra yang tertutupi oleh kaos. Napasnya juga memburu seiringan dengan debaran jantungnya yang kian menguat.
Dengan perlahan, Agra mencium seluruh wajah Aleta tanpa ada sedikit pun yang terlewatkan membuat Aleta merasa malu. Ciuman Agra terasa semakin liar saat dia mulai menghisap dan ******* bibir ranum Aleta yang juga di balas dengan ganas oleh gadis itu.
Agra menggendong tubuh Aleta dan membaringkannya di atas ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka yang semakin gila. Aleta berteriak keras saat Agra menggigit bibir Aleta yang sudah membengkak akibat ciuman panas mereka.
Kecupan Agra turun ke leher jenjang Aleta yang membuat banyak stempel kepemilikan di sana, membuat Aleta terus berteriak sambil menjambak rambut Agra yang sedang menikmati tubuhnya. Agra mulai melepas pakaian yang menempel ditubuh Aleta hingga menyisakan celana saja yang terlihat begitu seksi, dia juga melepas kaos dan celana yang ada ditubuhnya.
"se-sebentar," Aleta menahan bibir Agra yang sudah hampir mendarat di gundukan sintalnya membuat Agra mendongak melihat ke arah istrinya itu.
"i-inikan masih siang, lebih baik kita melakukannya nanti malam," lirih Aleta dengan malu-malu.
"kenapa harus nanti malam?" Agra merasa sudah tidak sanggup lagi menahan hasrat yang sudah sampai ke ubun-ubunnya.
"kan namanya malam pertama, berarti kita harus melakukannya malam hari," ucap gadis polos itu.
"aw..., sakit dasar bodoh!" maki Aleta saat Agra menggigit puncak yang tegak menantang di hadapannya dengan kuat. Dia benar-benar merasa gemas dengan rubah liciknya itu.
Tanpa menghiraukan ucapan Aleta, Agra langsung melancarkan aksinya. Dia mulai menikmati seluruh tubuh Aleta dengan rakus, dia mengabsen semua kulitnya tanpa tersisa sedikitpun membuat tubuh Aleta penuh dengan kecupan berwarna merah keunguan.
Agra terus membuat Aleta melayang karna sentuhan dan kecupan yang dilakukannya, sampai dia berteriak saat mendapatkan pelepasan pertamanya.
Aleta lemas dengan dada yang naik turun menghirup udara yang terasa sesak dipernapasannya. Namun Agra tidak mengizinkannya untuk istirahat, dia kembali mengecup bibir Aleta sembari tangannya membuka segitiga bermuda Aleta untuk menampakkan pemandangan yang jauh lebih indah lagi.
Mata Agra membulat sempurna saat melihat tubuh Aleta tanpa penghalang apapun sedangkan Aleta memalingkan wajahnya karna malu. Agra segera melepas kain yang masih menempel di tubuhnya sehingga memperlihatkan asetnya yang sudah menegak dengan sempurna.
__ADS_1
"A-Agra aku..., eemmp," bibir Agra langsung membungkam mulut Aleta, dia sudah benar-benar tidak terkontrol lagi.
Agra mulai memposisikan tubuhnya, dia tepat berada di antara kedua kaki Aleta. Aleta memejamkan mata saat aset Agra mulai memasuki tubuhnya yang sangat sempit, dan perlahan-lahan terus masuk sampai berhasil menjebol pertahanan itu.
Aleta berteriak keras saat aset Agra berhasil masuk menembus pertahanannya, keringat mengucur deras dengan urat-urat yang menonjol di sekitar leher Aleta.
"A-Agra eenghh...," Aleta kembali berteriak saat Agra mulai memompa asetnya keluar masuk dalam tubuh Aleta.
Suara-suara mereka terus terdengar, Agra terus berpacu untuk mendapatkan kepuasannya bersamaan dengan Aleta. Dia memagut bibir Aleta sembari tangannya bermain di dada Aleta agar gadis itu mencapai puncak sama sepertinya.
Sudah 40 menit berlalu dan Agra semakin mempercepat permainannya, membuat tubuh Aleta berguncang hebat dengan keringat yang sudah membasahi tubuh mereka berdua.
"Aleta...," teriak Agra saat dia berhasil menumpahkan lahar panasnya ke dalam rahim Aleta bersamaan dengan Aleta yang langsung lemas dengan napas terputus-putus.
Agra mengusap kening dan tubuh Aleta yang sudah basah akibat permainan mereka, senyum lebar tampak di bibir Agra saat dia melihat bercak darah yang berada tepat di bawah tubuh Aleta.
Cup. Agra kembali mengecup bibir Aleta sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, dia memeluk Aleta dengan erat dan segera menyusul Aleta ke alam mimpi.
"Eeenggh." Aleta mengerjapkan matanya saat perutnya mulai keroncongan, dia melirik Agra yang masih terlelap sembari memeluk tubuhnya dengan erat.
Wajah Aleta kembali memerah saat mengingat kegiatan mereka tadi, dia benar-benar merasa sangat puas dengan permainan Agra yang membuat dirinya terkapar tak berdaya.
Aleta menatap wajah sang suami, dia membelai wajah tampan Agra yang ditumbuhi bulu-bulu halus di rahangnya yang tegas.
"aku tau kalau aku itu tampan," seru Agra sembari membuka kedua matanya, Aleta terlihat sangat malu saat ketahuan mengagumi ke tampanan suaminya.
Cup. Agra mendaratkan kecupan singkat di bibir Aleta lalu kembali memeluk istrinya itu dengan erat.
"aku mau ke kamar mandi," ucap Aleta sambil mengangkat tangan Agra yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Aleta, sepertinya kita harus memeriksakanmu ke dokter," usul Agra tanpa melepas pelukannya.
"hah, kenapa? aku gak akan sakit kok cuma gara-gara kayak gituan ssshh...," Aleta meringis saat tangan Agra kembali mencengkram dadanya.
"aku mau kamu periksa soal pipis kamu itu," jelas Agra padanya. Dia merasa kalau Aleta terlalu sering buang air kecil, bahkan dalam sehari dia bisa sampai berkali-kali membuangnya.
"apa yang salah? kan bagus kalau bisa dibuang, dari pada gak bisa," ketus Aleta sembari mendudukkan tubuhnya.
Agra tidak menanggapi ucapan Aleta, ya anggap saja lah apa yang diucapkan gadis itu adalah benar.
"ssshh aw," Aleta meringis saat merasakan perih di bagian intinya membuat Agra langsung duduk dan melihatnya.
"kenapa ?" Dia bertanya dengan panik saat melihat wajah Aleta yang meringis menahan sakit.
"sakit nih," tunjuk Aleta pada bagian intinya membuat Agra membulatkan kedua matanya.
"pasti sakit sekali ya," ucapnya sedikit bersalah, apalagi tadi dia bermain dengan sedikit kuat karna gairahnya sudah benar-benar tidak terkendalikan.
"sakit lah, tapi enak kok. hehe," Aleta terkekeh pelan sembari kembali meringis saat rasa perih itu kembali datang sedangkan Agra hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan rubah liciknya itu.
•
•
•
TBC.
Yuk like dan koment yg banyak. Vote juga ya, jgn lupa beri hadiah. Bye bye tayang 🥰
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘