
"kau!" ucap Aleta dan Devo bersamaan, sementara yang lain membulatkan mata mereka, terutama Mona yang sudah hampir jatuh pingsan saat melihat keberadaan Aleta di depan pintu rumahnya.
1 detik, 2 detik, sampai 3 menit mereka tetap dalam posisi diam dan saling pandang-pandangan, bukan pandang-pandangan karna suka tapi karna terkejut melihat keberadaan satu sama lain.
"ka-kau, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mona setelah berhasil mengembalikan kesadarannya.
"Aku mau menemuimu." Aleta masih memandang ke arah Devo yang saat ini juga memandangnya.
"hah?" sementara Mona merasa terheran-heran, untuk apa istri dari mantan kekasihnya itu datang ke rumahnya. Tidak mungkinkan untuk bersilahturahmi? atau yang benar untuk melabrak? semua pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalanya.
"tapi, apa kalian tidak punya sopan santun?" tanya Aleta sembari berkacak pinggang membuat semua orang mengerutkan keningnya, mereka tidak mengerti kenapa saat ini Aleta sampai membawa-bawa soal sopan santun.
"apa kalian tidak akan menyuruh kami masuk?" ucap Aleta dengan penuh penekanan.
"Hah? si-silahkan masuk." Sangking kaget dan bingungnya Mona langsung mempersilahkan rombongan Aleta untuk masuk ke dalam rumahnya, mereka sudah seperti tamu kehormatan dalam rumah itu.
"tunggu, kenapa aku mempersilahkan mereka masuk?" setelah beberapa detik berlalu, Mona baru sadar dengan apa yang dia lakukan, sementara rombongan Aleta sudah melenggang masuk ke dalam rumah wanita itu diikuti dengan Devo yang sudah seperti bagian dari pasukannya.
Mona langsung putar badan dan masuk ke dalam, dia melihat Aleta dan teman-temannya sudah duduk manis di ruang tamu bersama dengan Devo.
"Loh, kenapa berdiri saja? situ duduk!" Aleta menunjuk sofa kosong di samping Devo untuk menyuruh Mona duduk di sana.
Mona mengepalkan tangannya saat melihat tingkah Aleta, seenaknya saja wanita itu masuk dan memerintahnya. Sebenarnya siapa tuan rumah di sini, pikirnya.
Walau dengan pikiran seperti itu, Mona tetap duduk disamping Devo, tepat di tempat yang Aleta tunjuk tadi.
"mau apa kalian datang ke sini?" tanya Mona dengan tajam, matanya menatap lurus ke depan tepat ke arah Aleta.
"mau bertanya tentang sesuatu," jawab Aleta dengan santai, dia bersedekap dada dan menaikkan kaki kirinya ke atas kaki kanan. Namun ternyata perut besarnya mengganjal dan tidak bisa melakukan gaya itu, dia kembali menurunkannya. Gagal sudah percobaan untuk terlihat kejam dan modis.
Semua mata memperhatikan gerak geriknya, terutama Lusi, Egi dan Bima yang mempunyai satu pemikiran saat ini.
"apa Ale sedang buang angin?" itulah yang ada dipikiran mereka, sementara Devo dan Mona tidak sempat untuk berpikiran macam-macam.
"tapi sebelum itu, sedang apa anda di sini?" tanya Aleta, Devo yang merasa ditanya langsung terjingkat kaget dengan dada berdebar-debar.
__ADS_1
"dasar gila! kenapa aku jadi salah tingkah" sejak pertemuannya dengan Aleta, dia tidak bisa melupakan sosok wanita itu dalam pikirannya. Apalagi saat melihat perut besarnya itu, ingin sekali dia mengelusnya seperti waktu itu.
"Halo, Evo." Aleta melambai-lambaikan tangannya di hadapan Devo membuat pria itu sadar dari lamunannya, sementara Mona hanya diam di tempat duduk.
"i-itu aku cuma lagi berkunjung" jawab Devo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mona.
"sialan, kenapa dia bilang sedang berkunjung? semua rencanaku bisa gagal kalau sampai wanita ini mengadu pada Agra." Mona seperti terkena sial saat ini, rencana yang sudah dia susun sedang berada diujung tanduk.
"Oke, kalau gitu langsung saja ya. Aku ingin berbicara denganmu." Mona merasa tegang saat Aleta menunjuk tepat ke arahnya, rasanya sudah seperti sedang menjalani sidang hukuman. Sementara yang lain juga melihat ke arah Mona, mereka bertugas sebagai saksi.
"bagaimana? apa kau sudah puas mencium suamiku?"
Deg, deg, deg jantung Mona terasa berdegup kencang saat mendengar pertanyaan Aleta, dia mengepalkan tangannya karna merasa kalau wanita itu telah sangat berani menanyakan hal itu padanya.
"apa urusanmu? hah!" bentak Mona sembari berdiri, dia sudah sangat emosi saat ini.
"apa urusanku? tentu saja itu menjadi urusanku, karna yang kau cium itu adalah S-U-A-M-I-K-U," Aleta menekankan suaranya pada kata suamiku membuat Mona semakin meradang.
Wanita itu melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan Aleta membuat teman-teman Aleta bersiap membuat barisan keamanan untuknya.
"hah, suami kau bilang? Cih, dasar wanita licik," cibir Mona dengan seringai sinisnya membuat teman-teman Aleta tersulut emosi sedangkan Aleta sendiri masih mencoba untuk tenang, dia tidak ingin emosinya membahayakan anak-anak yang sedang dia kandung.
Aleta bangkit dari duduknya dan mendorong tubuh teman-temannya yang saat ini sedang berdiri dihadapannya seperti tameng.
"aku memang menjebaknya. Lantas, kau mau apa?" tantang Aleta, dia menatap tajam pada Mona untuk menghilangkan kekagetannya tadi.
"bocah sialan! berani sekali dia menantangku!" Mona merasa semakin murka, sementara Devo memandang Aleta dengan tatapan kagum.
"dia benar-benar mempesona" sepertinya Devo merasa kagum pada saat yang salah.
"Agra menikahimu karna tepaksa! dia masih sangat mencintaiku sampai saat ini," ucap Mona dengan percaya diri, dia ingin menggoyahkan hati Aleta untuk mengguncang jiwanya.
"Mencintaimu? hah, apa ada wanita yang lebih hina dari dirimu saat ini?"
"tutup mulutmu! lancang sekali kau mengatai aku hina!" teriak Mona dengan lantang, sementara Aleta tak gentar sedikitpun. Dia tidak boleh kalah dari wanita sialan itu.
__ADS_1
"kalau tidak hina, apalagi namanya? wanita suci yang ingin merebut suami orang lain?" cibir Aleta semakin memantik kobaran api dalam diri Mona.
Dia sudah mengangkat tangannya untuk menampar wajah Aleta yang telah sangat lancang, namun sebelum mendarat dipipi Aleta, tangan itu menggantung diudara akibat dicekal oleh Devo.
Aleta sendiri sudah bersiap saat melihat Mona mengangkat tangannya, namun dia merasa terkejut saat Devo menghalangi tangan Mona yang akan mendarat diwajahnya.
"ka-kau!" Mona sangat terkejut dengan apa yang Devo lakukan, laki-laki itu mencengkram kuat tangannya membuatnya meringis menahan sakit.
Devo menghempaskan tangan Mona membuat wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang, sementara Aleta dan teman-temannya bertanya-tanya dengan apa yang terjadi saat ini. Bukannya Devo sedang ada dirumah Mona, lantas kenapa lelaki itu berada satu kubu dengan mereka?
"jangan berani menyentuhnya seujung kuku pun!" ucap Devo penuh penekanan, dia merasa tidak terima saat Mona ingin memukul Aleta.
Mona melihatnya dengan tidak percaya, "Devo, apa yang kau lakukan? hah!" teriak Mona, dia tidak menyangka kalau saat ini Devo melindungi Aleta.
"apa? Devo?" ucap Aleta dan teman-temannya bersamaan.
Mona yang sudah terbakar emosi tidak sadar bahwa saat ini dia membongkar jati diri Devo kepada Aleta, membuat semuanya menjadi berantakan.
"dia sudah ganti nama?" celetuk Lusi yang sedari tadi sudah menahan mulutnya yang gatal ingin bicara.
"hus, bukan itukan sekarang masalahnya," ucap Egi, temannya itu malah sibuk membahas tentang pergantian nama.
Mona yang baru sadar dengan apa yang dia ucapkan berdecak kesal, bisa-bisanya dia kelepasan bicara sedangkan Devo juga merasa kesal karna tidak bisa mengendalikan perasannya sendiri.
"Devo? namamu Devo?" tanya Aleta dengan tidak percaya, kalau benar namanya Devo berarti laki-laki itulah yang sedang dicari oleh Agra saat ini.
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1
Mampir juga yuk ke karya teman othor, dijamin keren dan seru 😍