
"baiklah, berbahagia lah kau sebelum aku menghancurkanmu!" Aleta melirik ke arah Lesya yang sedang menyantap makanan dan minuman dengan penuh suka cita.
"kalian sedang bisnis apa?" tanya Dareen, dia melirik tajam ke arah Lesya yang sudah membuka mulut karna ingin menjawab pertanyaannya.
"kapal pesiar," jawab Agra, sebenarnya dia sangat malas untuk makan malam bersama dengan mereka. Tapi karna Aleta terus memaksa, jadilah dia berada ditempat itu saat ini.
"oh ya Aleta, ke mana sih kembar? apa tidak ikut?" tanya Dareen.
Lesya yang ingin mengajaknya bicara selalu tidak jadi, karna lelaki itu selalu berbicara pada Agra dan juga Aleta seakan-akan sengaja supaya dia tidak bicara.
"s*alan!" geram Lesya, dia mengepalkan tangannya karna kesal melihat tingkah Dareen.
"mereka tadi udah tidur kak, makanya kami tinggal," bohong Aleta, sebenarnya dia sengaja meninggalkan Daffa dan Daffi dirumah Mama Lena supaya bisa melancarkan aksinya.
"jadi-"
"oh ya Dareen, apa bisnismu lancar?" potong Lesya, dia menyela ucapan lelaki itu agar dia bisa bicara.
"biasa saja," jawab Dareen dengan ketus, terkesan tidak peduli.
Agra dan Aleta saling pandang saat melihat Dareen dan juga Lesya, tampak jelas perbedaan perasaan di antara mereka berdua.
Sementara diruangan lain, Lusi dan yang lainnya sudah tidak sabar menunggu reaksi dari Lesya. Terutama Margarer yang sudah geregetan saat melihat Lesya berusaha untuk mendekati Dareen.
"lama sekali sih, apa pelayan itu salah memberi obat?" gerutu Lusi, dia curiga kalau pelayan itu tidak memasukkan obat perangsang dalam minuman Lesya.
"kan udah aku bilang, kasinya 3 bungkus. Kalau cuma 2 mana terasa," cibir Bima, dia kemudian melangkahkan kakinya menuju sofa untuk duduk.
"diam-diam! lihat, dia sudah mulau beraksi!" seru Lusi membuat Bima kembali beranjak bangun untuk mengintip.
Lesya yang sedang memperhatikan pembicaraan Dareen dan Agra merasa sedikit pusing, dia juga merasa mual dengan seluruh tubuh terasa panas.
"apa diruangan ini tidak ada AC?" gumam Lesya sembari melihat ke sekeliling ruangan.
"kenapa? kau kepanasan?" tanya Dareen yang langsung dibalas dengan anggukan kepala Lesya.
"ya iyalah kepanasan, makanya jadi manusia itu bertingkah laku lah seperti manusia, bukan seperti iblis!" gumam Aleta yang hanya bisa didengar oleh Agra, membuat lelaki itu menahan tawa dengan bahu yang bergetar.
__ADS_1
Lesya semakin tidak nyaman, beberapa kali keringat menetes membasahi kepala hingga wajahnya membuat Dareen meliriknya dengan heran.
"ka-kalau gitu aku permisi duluan ya!" pamit Lesya, kakinya sampai gemetaran saat dia membangunkan tubuhnya.
"kenapa cepat sekali kak? kita bahkan belum ngobrol," seru Aleta dia menahan langkah Lesya yang sudah keluar dari kursi.
"itu, aku sudah tidak tahan. Eeh maksudnya aku sedang tidak enak badan," ucap Lesya, dia sudah tidak bisa lagi mengontrol tubuhnya sendiri.
"Ooh, jadi kakak sedang sakit?" Aleta beranjak bangun dan memegang kening Lesya seperti orang yang sedang memeriksa suhu tubuh.
Sementara Lesya sudah mulai menggeliatkan kakinya, bagian inti tubuhnya terus berkedut seakan meminta untuk dipuaskan.
"apa yang terjadi padaku? kenapa sekarang aku sangat ingin bercinta?" Lesya merasa sangat bingung.
"eenggh," dessahan Lesya mulai terdengar membuat Dareen dan Agra langsung melihat ke arahnya, sementara Aleta menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman sinis.
Lesya segera mendekat ke arah Dareen dan mengalungkan tangannya ke leher lelaki itu. "Dareen, aku mau!"
"apa yang kau lakukan?" teriak Dareen sembari mendorong tubuh Lesya hingga wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kak Lesya, apa yang terjadi padamu?" tanya Aleta, dia pura-pura khawatir melihat wanita itu.
"Dareen, puaskan aku, aah!" lirih Lesya dengan suara dessahan yang tertahan, dia membuka beberapa kancing kemejanya dihadapan semua orang.
"apa yang kau lakukan?" teriak Aleta, dia segera menutup mata Agra yang sebenarnya sudah membalikkan tubuhnya membelakangi wanita itu.
Tanpa memperdulikan apapun lagi, Lesya terus membuka kemejanya hingga menampakkan gundukan sintalnya yang masih tertutup dengan bra berwarna merah muda.
"Lesya! apa kau sudah gila?" pekik Dareen sembari membungkus tubuh Lesya dengan jaketnya, dia kemudian meresletingkan jaketnya agar tubuh wanita itu tidak terbuka lagi.
"Dareen, aaah. Tidurlah denganku, aku akan memuaskanmu, eemm," suara Lesya sudah tidak terkontrol lagi membuat Dareen semakin dilanda amarah.
"tunggu, bukannya ini seperti Margaret waktu itu," Dareen ingat dengan kejadian yang terjadi pada Margaret, dia yakin kalau saat ini Lesya sedang terkena obat perangsang.
"Aleta, cepat kita bawa dia ke rumah sakit!" ucap Dareen sembari menahan tubuh Lesya yang sejak tadi ingin menggerayanginya.
"Dareen, aku mohon. Sentuhlah aku! puaskan aku. Aaah, Dareen," Lesya semakin tidak terkontrol, dia berusaha untuk melepaskan pegangan Dareen agar lebih leluasa melepaskan hasratnya.
__ADS_1
Aleta yang mendengar ucapan Dareen hanya menganggukkan kepalanya, dia lalu membantu Dareen untuk membawa wanita itu ke rumah sakit sementara Agra sudah keluar dari ruangan itu.
"ada apa ini?" teriak seorang pria yang baru saja sampai ditempat itu.
"aaah Dareen, puaskan aku. Tidurlah denganku!"
Lexi yang baru sampai diruangan itu merasa terkejut saat melihat keadaan sang adik, dia juga semakin kaget saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Lesya.
Lexi melangkahkan kakinya dengan cepat dan menarik tubuh Lesya sampai menjaub dari Dareen.
"Lesya, apa kau sudah gila!" bentak Lexi sembari menarik paksa jaket yang melingkar ditubuh sang adik, matanya melotot sempurna saat melihat kemeja Lesya sudah terbuka seperti itu.
Plak, satu tamparan mendarat ke wajah Lesya membuat tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang. Lexi segera memasangkan kembali jaket tadi dengan kuat membuat Lesya mengalungkan tangannya keleher Lexi dan mengecup bibir lelaki itu membuat semua orang terjingkat kaget.
Lexi mendorong tubuh Lesya yang sudah tidak waras karna mencium kakaknya sendiri, sementara Lesya yang sudah tidak sadar terus melakukan serangan pada Lexi membuat Dareen turun tangan dan memegangi tubuh Lesya yang terus mendessah tidak karuan.
"dasar brengsek! aku akan membunuhmu, Lesya!" geram Lexi, dia merasa sangat malu dan kesal melihat tingkah sang adik.
"dia dalam pengaruh obat perangsang Lexi, ini bukan kemauannya," ucap Dareen membuat Lexi menatap tajam padanya.
"siapa? katakan siapa yang telah melakukan ini pada adikku?" teriak Lexi, sementara Aleta dan teman-temannya menelan salive mereka saat melihat kemarahan Lexi.
"aku tidak tau! sekarang yang terpenting bawa adikmu ke rumah sakit, sebelum dia memperkosa semua orang!" seru Dareen, sekarang bukan saat yang tepat untuk mencari tau dalang dibalik obat perangsang itu.
Kemudian Lexi menggendong Lesya untuk membawanya ke rumah sakit dengan dibantu oleh Dareen, sementara teman-teman Aleta langsung berlari ke arah wanita itu yang sedang berdiri di depan ruangannya bersama dengan Agra.
"Aleta, bagaimana kalau sampai kakaknya Lesya tau kalau semua ini perbuatan kita?" tanya Lusi sedangkan yang lainnya juga ikut menganggukkan kepala terutama Margaret yang dari awal memang kurang setuju dengan rencana itu.
"tenang saja, kan ada suamiku," seru Aleta sembari memeluk lengan sang suami.
"maaf ya, aku tidak kenal dengan kalian!" ucap Agra sembari melenggang pergi dari tempat itu.
•
•
•
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga ke karya terbaru Othor, Cinta Terakhir Zulaikha 🥰 Mohon dukungannya 🙏