Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 47. H-1 Menuju Pernikahan


__ADS_3

Agra tengah berpikir keras bagaimana cara mereka untuk keluar dari kamar itu, namun seketika dia ingat kalau masih ada kunci cadangan yang entah di mana keberadaannya.


"mau kemana?" tanya Aleta saat Agra kembali menuju ranjangnya. Aleta sudah harap-harap cemas kalau Agra akan mengulang adegan yang baru saja mereka lakukan.


Tanpa menjawab pertanyaan Aleta, Agra membuka lemari dan memeriksa semua laci yang ada di dalam kamar. Aleta yang melihat itu ikut membantunya, walau dia sendiri tidak tau apa yang sedang di cari oleh pria itu.


"Ini dia." Agra mendapat kunci itu dengan penuh rasa syukur yang teramat dalam dan langsung berjalan ke arah pintu.


Aleta terus mengikuti ke mana Agra pergi dan berlalu pulang ke rumah orang tua Aleta.


****


Segala persiapan untuk acara pernikahan Agra dan Aleta sudah selesai dengan sempurna, mereka hanya tinggal duduk manis menunggu hari bersejarah itu tiba.


Pada hari ini, Aleta dan Agra sedang berkumpul di rumah keluarga Mahesa. Semua sanak saudara Agra sudah berkumpul di tempat itu, sebagian adalah orang-orang yang sudah berkenalan dengan Aleta, jadi gadis itu tidak merasa canggung berada di tengah-tengah mereka.


"Aleta, kenapa sih kau mau menikah sama kak Agra?" tanya Sisi, sepupu Agra.


"emm karna dia tampan," Aleta menjawab dengan lugas dan cepat.


"Memang sih, tapikan dia seram. aku aja gak berani dekat-deket sama kak Agra." Sisi merinding membayangkan sifat Agra yang tampak menyeramkan dimatanya.


"Dia gak gigit kok, tenang aja," ucap Aleta sembari menganggukkan kepalanya.


"kau pikir aku ini anjing," tiba-tiba suara baritone Agra mengagetkan mereka yang sedang bergosip ria. Sisi langsung merapatkan duduknya ke tubuh Aleta, dia merasa ngeri saat melihat kakak sepupunya itu.


Papa Abi dan mama Lena yang mendengar ucapan mereka hanya terkikik geli, perasaan mereka memang tidak salah kalau Aleta pasti akan meramaikan rumah mereka.

__ADS_1


"Siapa yang bilang anjing sih." Aleta membuang muka saat bertatapan dengan Agra. Padahal tadi dia tidak berniat untuk mengatai lelaki itu, emang dasar Agranya aja yang baper, pikirnya.


"bagusan juga sama aku, yang lebih muda dan tampan," seru Rival. Dia adalah kakak tertua Sisi sekaligus cucu kedua dari keluarga besar Mahesa. Umurnya hanya 3 tahun lebih tua dari Aleta.


"maaf, aku gak suka yang muda. Aku lebih suka yang lebih tua karna lebih greget dan menantang. Eeh," Aleta kelepasan bicara di hadapan keluarga besar Agra, dia langsung menutup mulutnya dengan wajah yang sudah merah padam menahan malu.


"dasar gila, apa yang aku lakukan...," Aleta ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi sangking malunya.


Semua orang yang ada di tempat itu tertawa geli saat mendengar ocehan Aleta sedangkan Agra hanya memalingkan wajahnya. Entah kenapa dia sedikit malu dengan apa yang Aleta ucapkan.


"astaga, Agra. apa yang terjadi pada wajahmu?" seru mama Lena yang malah menggoda Agra, dia belum pernah melihat wajah Agra yang memerah karna malu.


Tanpa menjawab ucapan mama Lena, Agra memilih untuk angkat kaki dari sana sebelum keluarganya yang lain menggoda dirinya. Bisa hilang image dingin yang selama ini dia junjung tinggi.


Aleta memandang kepergian Agra dengan kesal, dia menggerutu dalam hati karna lelaki itu tidak menyelamatkannya dari rasa malu yang menusuk ginjalnya.


"ehem, sudah-sudah. Menantuku ini memang paling bisa membuat kebahagian untuk orang-orang yang ada di sekitarnya," papa Abi memilih angkat bicara saat melihat wajah Aleta sudah merah seperti kepiting rebus.


"benar, menantuku ini memang sangat istimewa," sambung mama Lena sambil mengecup pipi Aleta dengan gemas. Aleta yang di cium hanya cengengesan saja sambil menggaruk kepalanya yang memang sedang gatal.


Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan keluarga besar Agra, Aleta memutuskan untuk pamit pulang. Dia sudah merasa sangat lelah karna sedari pagi mamanya sudah menyeretnya untuk segera bersiap-siap pergi ke rumah Agra.


Agra lalu mengantar Aleta untuk pulang, namun sebelum sampai ke rumah mereka berhenti di sebuah toko ice cream untuk sekedar menikmati makanan lezat itu.


"kau suka ice cream?" tanya Aleta sembari membuka sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya. Agra membalas ucapan Aleta dengan anggukan kepala dan segera keluar dari mobil.


"tampang garang tapi sukanya ice cream," gerutu Aleta sambil menyusul langkah Agra.

__ADS_1


Sesampainya di dalam toko, mereka segera memesan ice cream yang sesuai dengan minat mereka. Lalu duduk di pojokan toko seperti sepasang anak muda yang sedang menjalin kasih.


"enak," ucap Aleta saat satu sendok ice cream lumer berhasil masuk ke dalam mulutnya. Dia memakannya dengan sangat lahap sampai menyisakan sedikit ice cream di bibirnya. Dengan sigap Agra mengusap bibir Aleta dengan jempolnya dan memakan ice cream yang tadi tersisa di bibir gadis itu tanpa rasa malu.


Aleta merasa tidak peduli dan lanjut menikmati ice cream yang hampir kandas di mangkuknya.


"besok kita akan menikah," ucap Agra tiba-tiba. Dia sudah selesai dengan semangkuk ice cream yang tersedia di hadapannya.


"aku tau," balas Aleta sembari melihat ke arahnya. Dia sedang menerka-nerka ke mana arah pembicaraan mereka.


"aku tidak peduli bagaimana awal hubungan kita bisa sampai ke tahap ini, tapi aku ingin untuk ke depannya kita akan menjalin hubungan rumah tangga yang bahagia," jelas Agra. Baginya sebuah pernikahan adalah momen sakral yang tidak bisa dijadikan sebagai permainan. Walau dia sendiri tidak pernah terpikir akan hal itu, namun saat ini hatinya sudah benar-benar siap untuk menjalani biduk rumah tangga bersama Aleta.


Aleta tidak menanggapi ucapan Agra, karna memang dia tidak pernah berpikir terlalu jauh seperti apa yang dikatakan calon suaminya itu. Dia hanya mengikuti alur yang membawanya melangkah ke jenjang yang sangat serius bersama Agra. Dia mulai berpikir bagaimana hubungan rumah tangga mereka kelak, akankah berakhir bahagia ? atau malah akan terluka ? Entahlah, dia hanya akan mulai memperbaiki diri agar bisa menjadi istri yang baik untuk Agra.


Agra yang tidak mendapat tanggapan dari Aleta merasa kecewa, dia berpikir bahwa gadis itu sebenarnya tidak siap untuk menikah dengannya. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang ? haruskah dia membatalkan pernikahan mereka yang akan terlaksana besok ?





TBC.


Yuk dukung othor sebanyak-banyaknya, dukungan kalian sangat berarti untuk othor 🥰


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2