
Setelah dua hari di rawat di Rumah sakit, akhirnya Aleta sudah diperbolehkan untuk pulang dengan catatan harus banyak istirahat. Setiap hari keluarga Winandra dan Aleta datang untuk melihat keadaannya, begitu juga dengan para kerabat mereka yang juga datang silih berganti.
Aleta sudah terlihat sehat seperti biasa, sesekali tangannya menyentuh perut dan mengusapnya dengan perasaan sayang.
"apa semua sudah siap?" tanya Aleta saat Agra masuk ke dalam ruangannya.
"Sudah, tapi sebelum pulang kita harus bertemu dengan Dokter." Agra membantu Aleta untuk berdiri seraya menggenggam tangannya.
"kenapa? apa terjadi sesuatu dengan anak-anakku?" Aleta tampak sangat khawatir mendengar ucapan Agra.
"bukan anak-anakmu, tapi anak-anak kita!" tekan Agra dengan perasaan kesal.
"Cih." Aleta hanya mendengus sebal saat mendengar sanggahan dari Agra. Lalu mereka berlalu ke ruangan Dokter Sila untuk memeriksakan buah hati mereka.
"selamat siang tuan, nyonya," sapa Dokter itu dengan ramah sembari mempersilahkan mereka untuk duduk.
"apa terjadi sesuatu pada anak saya Dok?" Aleta langsung bertanya karna takut hal buruk terjadi pada kandungannya.
Dokter Sila sedikit bingung, "kita akan melakukan pemeriksaan dulu," ucapnya sambil membimbing Aleta untuk naik ke aras ranjang.
Dokter segera memeriksa kondisi anak-anak yang ada dalam kandungan Aleta, dan hasilnya membuat mereka semua menjadi tenang.
"kandungan nyonya baik-baik saja, mereka anak-anak yang kuat," jelas Dokter Sila sembari membantu Aleta untuk turun dari ranjang.
"tapi saya baru tau, ternyata nyonya Aleta ini pernah magang di sini ya?" ucap Dokter Sila lagi. Kemarin dia baru tau kalau Aleta adalah salah satu anak magang di Rumah sakit ini.
Banyaknya Dokter dan pekerja lain membuatnya tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang ada di Rumah sakit. Apalagi Aleta memang bukan dari satu spesialisasinya, membuat Dokter cantik itu tidak mengenalnya.
"benar Dokter, jadi Dokter bisa memanggil saya dengan sebutan Aleta saja," balas Aleta yang merasa sungkan dengan seniornya.
"tidak-tidak, saya akan memanggil anda dengan sebutan Dokter Aleta. Karna sebentar lagi anda akan bergabung bersama kami," ucap Dokter itu lagi dengan ramah.
__ADS_1
Agra yang hanya diam di samping Aleta merasa bosan dengan pembahasan mereka.
"ehem, apa saya boleh bertanya sesuatu?" Agra memilih menghentikan drama dua orang wanita yang ada di depan dan samping tubuhnya.
Dokter Sila mempersilahkan Agra untuk bertanya, dia merasa sedikit tidak enak saat melihat wajah kesal Agra yang terlihat jelas di matanya.
"apa saya tetap boleh bercinta dengannya?" Agra langsung mengatakan apa yang ingin dia tanyakan. Aleta melihat ke arah Agra dengan tajam, sempat-sempatnya suaminya bertanya tentang hal seperti itu, pikirnya.
"tentu boleh tuan, hanya saja harus dilakukan dengan perlahan dan hindari menggunakan berbagai gaya yang dapat menekan perut, sehingga berbahaya bagi kandungan," jelas Dokter Sila.
Agra mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Dokter, dia merasa lega karna tetap bisa menyalurkan hasratnya pada Aleta.
"tapi Dok, dia ini kalau main sangat lama. Saya sampai kehabisan tenaga untuk melayaninya,"
Mata Agra membulat sempurna saat mendengar pengakuan Aleta, dia tidak menyangka kalau istrinya itu berbicara secara gamblang pada orang lain.
Dokter Sila sendiri langsung gugup dengan wajah memerah, baru kali ini dia mendapat pasien yang berbicara terus terang tanpa filter seperti Aleta.
Agra langsung berwajah cerah saat mendengar itu, sudah lama dia ingin bercinta dengan Aleta yang memimpin permainan. Jika Agra yang meminta, istrinya itu selalu menolak dengan berbagai alasan. Dia tidak mau berada di atas Agra yang bisa melihat seluruh tubuh dan ekspresinya secara bersamaan.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi." Agra segera bangkit dengan diikuti Aleta yang merasa tidak tenang karna ucapan Dokter tadi.
Kemudian mereka memutuskan untuk segera pulang ke apartemen, Aleta harus kembali istirahat agar tubuhnya bisa pulih sepenuhnya.
Keluarga Mahesa dan Winandra sudah berada di apartemen mereka untuk menyambut kepulangan Aleta, begitu juga dengan teman-teman Agra dan Aleta yang tampak berkumpul di kediaman mereka.
"Ale, selamat untukmu," ucap Lusi sembari memeluk temannya dengan erat, dia merasa bahagia atas kehamilan Aleta. Egi dan Bima yang ada di sebelah Lusi juga ikut memberi ucapan padanya, mereka turut bahagia untuk sahabatnya itu.
"gila bro..., hebat juga senjatamu itu," seru Rezie sembari menaik turunkan alisnya. Semua orang yang mendengarnya terkikik geli, bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu di depan banyak orang.
"tentu saja," Agra malah merasa bangga dengan ucapan temannya itu, dia merasa asetnya sangat bagus karna berhasil memberi Aleta dua anak sekaligus.
__ADS_1
Pada saat semua orang sedang menertawakan tingkah Rezie dan Agra, tiba-tiba Dareen datang bersama seorang wanita yang langsung membuat semua perhatian mereka tertuju padanya.
"loh, kak Margaret," ucap Aleta saat melihat Margaret datang bersama dengan Dareen, begitu juga dengan semua orang yang kaget saat melihat Dareen membawa seorang wanita ke apartemen ini.
"Selamat ya Aleta." Margaret memeluk Aleta sembari mengucapkan selamat untuknya, dia ikut senang saat mendengar kehamilan Aleta.
"ma-makasih kak," Aleta membalas dengan gugup, dia melihat ke arah Dareen penuh tanda tanya sedangkan Dareen hanya bersikap biasa saja saat ditatap seperti itu oleh sang adik.
Teman-teman Agra dan Aleta melongo melihat pemandangan itu, mereka sangat kaget saat melihat mantan kekasih Agra datang dan memberi ucapan selamat untuk Aleta. Apalagi wanita itu datang bersama Dareen, membuat berbagai spekulasi memenuhi pikiran mereka.
"ehem, kalian datang berdua?" tanya Rezie. Jiwa keponya sudah meronta-ronta saat melihat mereka datang bersama-sama.
"iya," jawab Margaret. Kemudian dia menceritakan kalau mereka sedang ada urusan bisnis, dan secara tidak sengaja Dareen menceritakan tentang Aleta yang sedang mengandung.
Mendengar ucapan Dareen, membuat Margaret ingin segera menemui Aleta dan bertepatan dengan Dareen yang akan menyambut kepulangan adiknya, jadilah mereka datang ke apartemen Aleta secara bersama-sama.
Semua menyimak cerita Margaret dengan khusyuk, walau masih ada sedikit keanehan namun mereka tidak bertanya lebih lanjut tentang hubungan Dareen dan juga Margaret.
Kemudian mereka semua menikmati makanan dan minuman yang telah di suguhkan di hadapan mereka, sambil sesekali mengobrol dan bersenda gurau.
•
•
•
TBC.
Uwaaah kira-kira ada apa dengan Margaret dan Dareen ya 🤔🤭🤭
Kakak-kakak tersayang, yuk Like dan Komen yang banyak. VOTE dan Rating 5 juga, jangan lupa Hadiah nya ya 🥰 biar karya othor ini bisa berkembang 😍
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘