
"maaf ya, aku tidak kenal dengan kalian!" ucap Agra sembari melenggang pergi dari tempat itu.
"Apa? sayang!" Aleta mengejar sang suami yang sudah menjauh dari tempat itu, sementara yang lainnya semakin dirundung kegelisahan karna rencana mereka sendiri.
"kali ini mampus lah kita," ucap Lusi, dia merasa kalau kali ini mereka tidak bisa lagi selamat dari hukuman.
"makanya, kan udah aku bilang jangan macam-macam," seru Margaret, dia juga ikut gelisah dengan apa yang akan terjadi nanti.
"macam-macam apa?" suara baritone Dareen mengagetkan mereka yang sedang dilanda kegelisahan, sontak semua orang langsung melihat ke arahnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
"Margaret, kau di sini?" tanya Dareen setelah berdiri tepat dihadapan gadis itu.
"i-iya, tadi kami tidak sengaja masuk ke sini," jawab Margaret dengan gugup, sementara Dareen mengerutkan keningnya karna tidak paham dengan jawaban gadis itu.
"tidak sengaja gimana?" tanya Dareen.
"itu-" tiba-tiba otak Margaret tidak bisa diajak kerja sama untuk berpikir, dia tidak tau harus memberi jawaban apa pada Dareen.
"itu loh Kak, kami sengaja janjian untuk makan malam. Tapi kata Aleta dia sedang makan malan di sini, itu sebabnya kami juga ke sini," ucap Lusi, dia memang paling ahli dalam hal kebohongan.
"jadi gitu," Dareen melirik tajam pada Margaret yang sedang melihat ke arah samping.
"ka-kalau gitu aku duluan ya," pamit Margaret, dia segera berbalik dan pergi dari tempat itu agar tidak ditanya-tanya lagi oleh Dareen.
Dareen yang melihat kepergian Margaret tentu tidak tinggal diam, dia juga melangkahkan kakinya untuk mengikuti langkah Margaret.
Sepeninggalan mereka, Lusi, Egi dan Bima saling pandang. Mereka bingung harus melakukan apa saat ini, akhirnya mereka memilih untuk memesan makanan karna memang mereka belum makan dari pagi.
"kalau tau gini, lebih baik aku gak ikutan," seru Lusi sembari menyantap menu makan malamnya.
"inikan idemu Lus" ucap Egi, dia juga menyantap makanan itu dengan sangat semangat.
"iya, tapikan aku gak tau kalau Kakaknya Lesya itu menyeramkan. Kau lihat aja tadi tato kuda terbang ditangannya, beeeh udah kayak mafia-mafia di tv," seru Lusi lagi.
"tapi, lebih seru waktu kita menjebak Tuan Agra kan," ujar Bima, membuat kedua temannya tertawa karna mengingat momen penjebakan Agra.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka saat ini. Pria itu duduk tidak jauh dari tempat mereka, dengan sebatang rokok yang menemani untuk memantau seorang gadis incarannya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing karna memang tidak ada lagi yang harus mereka lakukan.
"ayo, biar kami antar!" tawar Egi yang sedang menumpang mobil Bima.
"duluan aja deh, aku mau belanja ke supermarket," tolak Lusi, dia harus belanja bulanan untuk kehidupan sehari-harinya.
"kalau gitu kami duluan ya," ucap Egi sembari melambaikan tangannya dan dibalas dengan lambaian tangan Lusi.
"hati-hati, awas anak perawan diculik duda!" teriak Bima yang langsung mendapat makian dari Lusi.
"****," maki Lusi sembari melempar mobil mereka dengan batu.
Kemudian dia berjalan ke arah Supermarket yang tidak jaub dari tempatnya saat ini. Dari kejauhan, terlihat mobil berwarna hitam terus mengikuti langkah Lusi membuat gadis itu diam dengan perasaan yang tidak menentu.
"**J**angan-jangan aku mau diculik duda?" Lusi segera berbalik dan menatap tajam pada mobil tersebut.
Tiba-tiba, keluarlah seorang pria berperawakan tinggi tegap dengan pakaian serba hitam membuat Lusi semakin dirundung ketakutan.
"berhenti! kalau kau mendekat, maka aku akan teriak!" ancam Lusi, sementara pria berpakaian serba hitam itu malah menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"saya hanya ingin berbicara dengan anda Nona, tidak ada niat buruk sama sekali," ucap pria tersebut sembari kembali melangkahkan kakinya.
"apa maksud anda? apa anda ingin menikmati tubuh saya?"
"apa?" teriak Lusi sembari meletakkan kedua tangannya di depan dada, dia semakin merapatkan tubuhnya ke mobil yang ada di sampingnya.
"saya hanya ingin bertanya Nona, apa Niko adalah Ayah anda?" tanya pria itu yang sudah berdiri tepat dihadapan Lusi.
"si-siapa dia? aku tidak mengenalnya!" jawab Lusi.
"Niko Andrea, dia adalah Ayah anda kan?" tanya pria itu lagi.
"Tuan, andakan bertanya pada saya, dan sudah saya jawab. Kenapa anda tetap maksa kalau orang yang anda sebut itu adalah Ayah saya?" ucap Lusi dengan tegas, dia bahkan sampai meletakkan tangannya dipinggang.
"karna dia memang Ayah anda!" seru pria itu dengan tegas.
"Ayah anda berhutang sangat besar pada Tuan Muda, jika Ayah anda tidak segera melunasinya, maka anda yang harus membayar semua itu," lanjut pria itu sembari membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan Lusi.
__ADS_1
"apa maksudnya? siapa Tuan Muda yang dia maksud?" Lusi mulai menerka-nerka siapa yang dimaksud pria itu.
"hebat sekali," tiba-tiba suara baritone seseorang mengagetkan Lusi yang sedang melihat ke arah pria tadi, sontak Lusi langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah sumber suara.
"ka-kau! apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lusi sembari menunjuk ke arah Rezie.
"seharusnya aku yang bertanya padamu, ngapain kau nempel-nempal dimobilku?" ketus Rezie sembari mendorong tubuh Lusi agar menjauh dari mobilnya. Dia mengusap mobil itu seakan-akan menghilangkan kotoran yang menempel dibekas sandaran Lusi.
"cih, kalau aku tau ini mobilmu, gak sudi aku bersandar di situ," desis Lusi sembari melengos ke arah samping.
Lalu dia berbalik dan hendak pergi meninggalkan lelaki itu. Namun, suara baritone Rezie kembali menghentikan langkah kakinya.
"ada urusan apa kau dengan pria tadi?" tanya Rezie, dia sangat terkejut melihat pria yang berbicara pada Lusi tadi.
"bukan urusanmu!" ketus Lusi tanpa membalikkan tubuhnya.
"pria itu adalah asisten pribadi Tuan Kender," ucap Rezie memberitahu identitas dari pria yang tadi menemui Lusi.
"Kender? kok namanya kayak enggak asing!" Lusi merasa seperti pernah mendengar nama dari orang yang disebut Rezie.
"Pemimpin dari group K" tambah Rezie membuat Lusi langsung menatap Rezie dengan tajam.
"Group K, perusahaan terbesar di negara ini?" tanya Lusi yang tidak percaya dengan apa yang Rezie ucapkan.
"benar, dan aku sekarang berurusan dengan mereka," jawab Rezie, sebenarnya dia sangat penasaran kenapa asisten pribadi Kender bisa menemui wanita itu.
"dan siapa Niko Andrea, aku seperti pernah mendengar nama itu," Rezie juga bertanya-tanya tentang sosok Ayah Lusi yang tadi menjadi bahan perbincangan mereka.
"aku harus segera mencari tau semuanya!"
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘