Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 104. Menitipkan Aleta


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang, Agra menekan pedal gas nya dan melaju pesat di tengah keramaian jalanan sementara Aleta masih menundukkan kepalanya dengan air mata yang masih berjatuhan.


Agra semakin menambah laju mobilnya seperti orang yang kesetanan, dia benar-benar merasa marah, kecewa, sedih dan semua rasa bercampur jadi satu.


Aleta melirik ke arah jalanan untuk melihat ke mana Agra membawanya, dan seketika tangisannya berhenti saat mengetahui jalanan yang sedang mereka lewati adalah jalan menuju tempat tinggal orangtuanya.


"kita mau ke mana, sayang?" tanya Aleta dengan terputus-putus, dia mencengkram kuat sabuk pengaman yang mengikat ditubuhnya.


Agra sedikitpun tidak merespon apa yang istrinya itu tanyakan, pandangannya tetap lurus ke depan membuat Aleta mulai diliputi kegelisahan.


Tak lama, mobil mereka sudah masuk ke halaman rumah keluarga Winandra. Agra segera memarkirkan mobilnya dan langsung keluar tanpa mengatakan apapun.


Lalu dia membukakan pintu untuk Aleta. "Keluar!"


Aleta tersentak kaget dengan apa yang dilakukan suaminya, matanya kembali berkaca-kaca saat menyadari kalau suaminya memulangkannya pada kedua orangtuanya.


"Aku tidak mau!" Aleta semakin mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman, dia semakin terisak saat ini.


Agra langsung menarik sabuk pengaman yang sejak tadi dicengkram erat oleh Aleta dengan kuat, dia sudah merasa tidak sabar membuat sabuk pengaman itu terlepas dari pengaitnya.


Aleta beringsut mundur ke belakang dan menepis tangan Agra yang akan menariknya keluar, namun Agra merasa tidak peduli dan menarik tangan Aleta sampai istrinya itu keluar dari mobil.


"Lepaskan aku! aku tidak mau!" Suara Aleta menggema di halaman depan membuat pelayan yang ada di rumah itu keluar untuk melihatnya.


"Nona!" ucap pelayan itu saat melihat Aleta sedang bertengkar dengan suaminya.


"sayang, lepaskan aku! aku minta maaf!" pinta Aleta sembari berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Agra.


"di mana Mama dan Papa?" Agra bertanya ke arah pelayan itu tanpa memperdulikan ocehan Aleta.


"Tu-tuan dan Nyonya sedang ada di taman Tuan,"


Agra bergegas menarik tangan Aleta untuk masuk menemui kedua orangtuanya, Aleta semakin memberontak dan minta dilepaskan saat mereka sudah akan masuk ke dalam rumah.


"Lepaskan aku! eegghh." Aleta mengerrang karna merasakan sakit diperutnya membuat Agra langsung menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"ada apa ini?" suara Dareen mengejutkan Agra dan Aleta yang saat ini sudah berada diruang tamu. Dareen membulatkan matanya saat melihat keadaan sang adik yang sangat berantakan. Mata sembab, hidung merah dan air mata yang masih menetes diwajahnya.


"Agra, apa yang terjadi?" Dareen mendekat ke arah Agra dan juga Aleta yang masih mematung di tempat mereka.


"Dareen, aku ingin menitipkan Aleta di sini,"


Dareen dan Aleta terjingkat kaget mendengar apa yang dikatakan Agra, Dareen langsung melihat ke arah Aleta yang terisak karna ucapan suaminya.


"apa maksudmu menitipkan? ini rumahnya, kau tidak perlu menitipkannya di sini!" ucap Dareen, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dengan rumah tangga mereka.


"Baguslah, aku akan pergi!" Agra langsung melangkahkan kakinya untuk keluar rumah tanpa menunggu atau banyak bicara lagi, dia harus menyelesaikan masalahnya dengan bedebah gila yang telah berani berulang kali menemui istrinya.


"Aku tidak mau!" Aleta memeluk tubuh Agra dari belakang untuk menahan lelaki itu agar tidak meninggalkannya, dia benar-benar tidak mau berpisah dengan suaminya.


"ada apa ini?" suara Papa Arsen menggelegar ke seluruh penjuru ruangan, dia yang tadi sedang bersantai dengan Mama Deeva mendengar keributan dan langsung beranjak untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"sayang, aku tidak mau! jangan tinggalkan aku!" Aleta terus memohon agar Agra tidak meninggalkannya membuat seluruh keluarganya merasa bingung sekaligus kesal.


"Agra, ada apa ini nak?" tanya Mama Deeva sembari mendekat ke arah mereka. Agra yang masih menghadap pintu langsung berbalik saat mendengar suara kedua orangtua Aleta.


"kenapa nak? apa kalian ada masalah?" tanya Mama Deeva dengan sedih, dia tau kalau rumah tangga anaknya itu sedang ditimpa masalah.


"tidak Ma, aku hanya ingin pergi ke suatu tempat," jawab Agra, lalu dia berusaha untuk melepaskan tangan Aleta yang masih melingkar dipinggangnya.


"tidak! aku tidak mau!" Aleta tetap bersikukuh tidak ingin ditinggalkan.


"nak, suamimu cuma ingin ke suatu tempat. Dia pasti akan kembali," seru Mama Deeva sambil menarik tangan Aleta supaya terlepas dari tubuh sang suami.


"tidak Ma, dia tidak akan kembali. Dia tidak akan menjemputku lagi, hiks huhuhu," ucap Aleta dengan sesenggukan membuat keluarganya semakin bertanya-tanya dengan apa yang sedang terjadi di antara mereka.


"kau akan menjemput anakku kan, Agra?" Mama Deeva memilih untuk bertanya langsung pada menantunya, namun perasaannya diliputi oleh kegelisahan saat ini.


"aku akan menjemputnya Ma, aku hanya akan pergi sebentar," jawab Agra kemudian, dia hanya ingin kalau Aleta diam dirumah orang tuanya. Apalagi sudah berulang kali istrinya itu bertemu dengan Devo, dia yakin kalau bajingan itu pasti akan menemui istrinya lagi.


"kau harus diberi pelajaran Aleta, agar kau tau kalau kau tidak bisa bertindak sesukamu. Apalagi kau sampai menyembunyikan pertemuanmu dengan bajingan itu," Agra masih merasa kecewa atas apa yang istrinya itu lakukan.

__ADS_1


"kau dengar nak, suamimu cuma mau pergi. Bukan meninggalkanmu," seru Mama Deeva, dia mencoba untuk membujuk Aleta agar mau melepas Agra, walau hatinya tau kalau sebenarnya menantunya itu hanya ingin menjauh dari anaknya.


Aleta hanya diam sembari menatap ke arah sang suami yang tidak mau melihat ke arahnya, apa segitu marahnya Agra sampai memulangkannya pada orangtuanya ?


"Kalau gitu aku permisi." Agra langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari keluarga Aleta, dia berjalan sambil mengepalkan tangannya karna menahan emosi yang sejak tadi menguasai hatinya.


Dareen mengikuti ke mana Agra pergi, hatinya merasa tidak tenang dengan apa yang terjadi di antara mereka.


"Agra, tunggu!" panggil Dareen membuat Agra yang akan masuk ke dalam mobil mengurungkan niatnya, dia berbalik dan melihat ke arah lelaki itu.


"sebenarnya ada apa Agra, kenapa adikku sampai menangis seperti itu?" tanya Dareen, perasannya diselimuti oleh kekhawatiran saat ini.


"kau tidak berhak untuk ikut campur dengan rumah tanggaku, Dareen," desis Agra, dia tidak suka kalau orang lain mencampuri urusan pribadinya.


"aku adalah kakak dari istrimu, sudah sewajarnya aku ikut campur jika terjadi masalah di antara kalian," seru Dareen yang sudah menaikkan nada suaranya.


"kalau begitu, kau tanya saja pada adikmu itu. Apa yang telah dia lakukan di belakangku," lirih Agra yang kembali merasa terluka dengan apa yang dilakukan sang istri.


Dareen tersentak dengan apa yang Agra ucapkan, sebenarnya apa yang sudah dilakukan adiknya hingga membuat suaminya itu marah?


"semarah apapun kau padanya, kau tidak pantas untuk memulangkan adikku, Agra," ucap Dareen dengan tajam, setiap masalah pasti bisa diselesaikan dengan baik-baik pikirnya.


"aku membawa adikmu ke sini bukan untuk memalukangkannya! aku cuma mau dia berpikir tentang apa yang telah dia lakukan, aku juga mau melindunginya dari bajingan yang telah menghancurkan hidupku," jelas Agra, dia cuma tidak mau kalau Devo kembali menemui Aleta. Dengan Aleta tinggal bersama mereka, sudah pasti bajingan itu tidak bisa menemuinya.





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk ke karya teman Othor, dijamin keren dan seru 😍

__ADS_1



__ADS_2