Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 73. Kesalahan Agra


__ADS_3

Agra memutuskan untuk kembali pulang ke apartemen, dia harus menyusun strategi untuk menangkap lelaki bernama Devo. Felix terus melirik ke arah Agra, dia tau kalau bosnya itu pasti sedang memikirkan cara untuk menangkap mantan sekretaris kepercayaannya.


Mobil mereka telah sampai ke apartemen, Agra memerintahkan Felix untuk masuk karna masih ada hal lain yang harus mereka bahas malam ini.


"apa anda memerlukan sesuatu tuan?" tanya Felix sembari membuka pintu apartemen Agra. Agra hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu ke kamar untuk melihat Aleta, lalu Felix berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman untuk bosnya itu.


Hati yang semula panas kini telah kembali dingin saat melihat wajah sang istri yang sedang tidur dengan nyaman di atas ranjang, Agra mendekat dan mengelus puncak kepala Aleta membuat istrinya itu sedikit menggeliat.


"Sayang, aku pulang." Cup, Agra mengecup sudut bibir Aleta membuat wanita itu kembali menggeliat, namun matanya tetap terpejam dengan mulutnya yang bergumam tidak jelas.


Agra kembali keluar dari kamar karna takut membangunkan Aleta, dia segera menghampiri Felix yang tetap setia menunggunya di ruang tamu.


"Silahkan, tuan." Felix memberi secangkir kopi untuk Agra yang langsung di terima dengan senyum di bibir bosnya itu.


"Andai kau ini wanita, pasti sudah ku jadikan istri." Felix yang akan duduk di sofa sampai hampir terjungkal saat mendengar apa yang dikatakan Agra, beberapa kali Felix menggoyang kepalanya untuk memastikan kalau pendengarannya tadi tidak salah.


Agra hanya tertawa pelan saat melihat reaksi dari sekretarisnya itu, lelaki yang sudah 2 tahun ini berada disisinya menggantikan sosok teman yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri. Namun temannya itu malah tega mengkhianatinya, dan juga berselingkuh dengan kekasihnya sendiri.


Agra masih memegang usb yang tadi Mona berikan, dia terlihat ragu untuk melihat isi dari usb itu. Kemudian dia memberikannya pada Felix dan Felix segera menyambungkannya dengan laptop yang ada di ruang kerja Agra.


Mata Agra membulat sempurna melihat tayangan yang sedang berputar dilayar monitor laptopnya, tangannya mengepal kuat saat melihat dua manusia sedang bercinta dikamar sebuah hotel. Felix juga tidak melepas pandangannya dari video itu, dia mengamati semua situasi dan kondisi yang terjadi di dalamnya.


"dasar bajingan, dia-dia memperkosa..., Aargggh." Agra membanting laptop yang ada dihadapannya membuat Felix kaget dan refleks berdiri, dia menundukkan kepalanya saat melihat Agra menghancurkan semua barang-barang yang ada di tempat itu.


"apa yang terjadi?" teriak Aleta dari atas tangga, dia yang tadi sedang enak-enak tidur terlonjak kaget saat mendengar suara benda terjatuh dengan sangat keras, dia segera bangun untuk melihat apa yang sedang terjadi di apartemen itu.

__ADS_1


Felix dan Agra langsung melihat ke arah Aleta yang juga sedang melihat mereka, mata Aleta melotot saat melihat barang-barang yang sudah berserakan di atas lantai.


"ada apa ini? apa sedang terjadi gempa?" tanya Aleta yang sudah berdiri di hadapan Agra dan juga Felix.


"tidak terjadi apa-apa nyonya," jawab Felix sembari mengumpulkan barang-barang yang sudah pecah berhamburan di kaki mereka, sementara Agra hanya diam sambil melihat ke arah lain. Napasnya masih memburu dengan dada yang naik turun menandakan emosinya masih berada di puncak saat ini.


"Agra, ada apa?" Aleta menggoyang tangan Agra yang sejak tadi hanya berdiam diri, dia tau kalau suaminya itu pasti sedang ada masalah saat ini.


"Agra, apa ka-"


"Jangan menyentuhku!" Agra menghempaskan tangan Aleta dengan kuat membuat tubuh wanita itu terdorong ke belakang, Felix yang memang sedang berada di belakang Aleta langsung menangkap tubuhnya sebelum menyentuh lantai.


Aleta meringis saat merasa kram di perutnya, dia meremas tangan Felix dengan kuat saat rasa sakit itu semakin terasa sedangkan Agra menghadap ke samping dan tidak melihat ke arah mereka.


"nyonya, apa nyonya tidak apa-apa?" tanya Felix yang terlihat begitu khawatir dengan kondisi Aleta sementara Agra yang mendengar suara Felix langsung membalikkan tubuhnya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Aleta sedang berada dalam pelukan Felix sembari meringis menahan sakit.


"Aleta, aku-"


"Felix," panggil Aleta dengan lemah memotong ucapan Agra. Felix yang mendengar panggilan Aleta merasa kaget, dan segera mendekat ke arah mereka membuat Agra mengerutkan keningnya.


"Felix, tolong bawa aku ke rumah sakit. Perutku sakit sekali." Mendengar ucapan Aleta, Agra segera menggendongnya dan berniat membawanya ke rumah sakit. Namun Aleta menepis tangan Agra dengan kuat membuat lelaki itu menatapnya dengan bingung.


"jangan sentuh aku!" tekan Aleta dengan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubunnya, masih teringat dengan jelas bagaimana sikap kasar Agra tadi padanya.


"A-Aleta aku-"

__ADS_1


"cepat Felix! aku sudah tidak tahan," Aleta semakin meringis saat rasa sakit itu kembali datang dan terasa mencengkram perutnya dengan kuat, sementara Felix merasa bingung, dia melihat ke arah Agra dan Aleta secara bergantian.


Agra menyingkir dari hadapan Aleta dan membiarkan Felix menggendongnya, lalu mereka membawa Aleta ke mobil dan bergegas ke rumah sakit.


"Eegghh." Aleta mengerang saat rasa sakit semakin terasa membuat urat-urat di sekitar lehernya menonjol ke luar.


"Sayang, Aleta. Maafkan aku, maafkan aku." Agra menggenggam tangan Aleta sembari mengelus perutnya, dia benar-benar merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan.


"Sayang, Aleta!" Agra menepuk-nepuk pipi Aleta yang mulai kehilangan kesadaran, tangannya terjatuh tepat di pangkuan Agra menandakan bahwa Aleta benar-benar sudah tidak sadar lagi.


"Tidak, tidak! sayang aku mohon hiks, buka matamu! Aleta hiks, maafkan aku, maafkan aku." Agra terus memanggil Aleta sembari mengucapkan kata maaf, tangannya bergetar saat melihat wajah Aleta yang sudah memucat dengan bibir putih kebiru-biruan.


"lebih cepat Felix!" teriak Agra yang sudah seperti orang kesetanan sembari terus memeluk tubuh Aleta dengan erat. Felix terus menambah kecepatan mobilnya dengan konsentrasi penuh menyalip semua kendaraan yang melintas dihadapannya, dia harus segera sampai ke rumah sakit saat ini.


"Aleta aku mohon, buka matamu sayang, hiks bangun! maafkan aku, hiks huhuhu." rintihan dan tangisan Agra menggema di mobil itu membuat Felix juga meneteskan air mata.





TBC.


Jangan lupa dukungannya ya readers 🥰

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2