
Devo meringis menahan sakit diwajahnya saat Agra menekan kepalanya dengan kaki, matanya memandang lurus ke depan melihat ke arah Felix yang masih menundukkan kepala.
"kenapa kau tidak melihatku? bukannya kau senang karna sebentar lagi aku akan mati?" Devo terus melihat ke arah sang kakak yang kemarin menangkapnya dan membawanya ke tempat ini.
Agra yang memerhatikan arah pandang Devo hanya tersenyum sinis, dia kemudian menurunkan kakinya lalu menarik baju Devo sampai lelaki itu bangun dan berdiri dihadapannya.
"kenapa? kau berharap kalau kakakmu itu akan menolongmu?" tanyanya dengan sinis, dia lalu melempar tubuh Devo tepat ke arah Felix membuat tubuh mereka bertabrakan.
Felix menangkap tubuh Devo yang akan terjungkal ke samping, untuk sesaat mata mereka bertemu dan terkunci dengan pikiran masing-masing.
Angin yang berhembus kencang menerpa wajah mereka melalui jendela, tak lama terdengarlah rintik hujan yang terasa seperti menenangkan geojak amarah yang ada dihati mereka masing-masing.
"udah selesai tatap-tatapannya? atau masih butuh waktu lebih lama lagi?" tanya Agra sarkastik sembari mendudukkan pantatnya ke kursi dengan tatapan tajam mematikan.
Mona yang sedari tadi tidak bersuara terlihat menggeliatkan tubuhnya, hawa panas mulai menjalar sampai ke ubun-ubun membuat wajahnya memerah dengan gigi yang saling berbenturan.
"eeengghh!" errangan kecil berhasil lolos dari mulut Mona membuat semua mata melihat ke arahnya, kecuali Agra yang saat ini sedang tersenyum.
"let's start the game," ucap Agra sambil membangunkan tubuhnya, dia berjalan ke arah Mona yang sedang menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.
"kenapa? kau sudah tidak tahan?" tanyanya sembari mencengkram wajah Mona dengan kuat, dia lalu menghempaskan wajah itu dan mengusapkan telapak tangannya ke bahu Rezie seolah merasa jijik karna telah menyentuh Mona.
"A-Agra, apa-apa yang kau berikan padaku? eenggh ah," de*sa*han* bahkan lolos dari mulutnya membuat semua orang yang tadinya bertanya-tanya tentang suntikan itu langsung mengerti, sudah jelas kalau suntikan itu berisi alat perangsang.
Tubuh Mona menegang kala menginginkan sentuhan dari seorang pria, bagian inti tubuhnya terus berkedut minta dipuaskan membuat tubuhnya terus mengggeliat.
"selamat sore Tuan, maaf kami terlambat," ucap salah satu anak buah Agra yang baru sampai ke tempat itu, Agra hanya melirik saja untuk menjawab sapaannya.
"bawa wanita ini, dan puaskan dia!" perintah Agra pada 5 orang anak buahnya.
Mata semua orang melotot dengan sempurna saat mendengar perintah Agra, terutama Mona yang langsung menangis histeris karna tubuhnya akan dinikmati banyak orang.
__ADS_1
"baik Tuan," ucap anak buah itu dengan bersemangat, mereka melihat ke arah wanita cantik yang saat ini sedang menangis dikursinya.
"Tidak! jangan lakukan itu, aku mohon! ampuni aku Agra, aku mohon! hiks, lepaskan!"
Kelima anak buah itu langsung menarik tubuh Mona untuk membawanya ke ruangan lain, Mona terus berteriak minta dilepaskan sembari menyebut nama Agra untuk meminta ampunan.
Salah satu dari anak buah itu menggendong tubuh Mona yang terus memberontak, mereka lalu membawanya keluar tanpa mendengar jeritan dari wanita itu.
Dareen yang merasa terkejut dengan apa yang sedang terjadi terus melihat ke arah Mona, hatinya merasa sedikit tidak tega saat mendengar wanita itu akan diperkosa oleh kelima anak buah Agra.
"Agra, ini-ini berlebihan, kau tidak perlu-"
"diam! kau tidak tau apa-apa Dareen, kau tidak tau bagaimana sakitnya aku saat melihat istriku menderita. Aku akan membalas penderitaan yang dirasakan Aleta seribu kali lipat!" potong Agra, dia masih ingat betul bagaimana hancurnya dia saat melihat tubuh kaku Aleta.
Dareen yang masih ingin mengucapkan sesuatu dihalangi oleh Ricky, lelaki itu menggelengkan kepalanya untuk memberi kode pada Dareen kalau saat ini Agra tidak akan mendengarkan mereka.
Setelah selesai mengurus Mona, Agra beralih mendekati Devo yang sedang bersandar didinding. Mata elangnya serasa mengoyak tubuh Devo menjadi beberapa bagian, lelaki itu bahkan sedikit takut melihat Agra saat ini.
"katakan! kenapa kau membawa istriku?" ucap Agra, dia ingin tau apa yang ada dipikiran lelaki itu.
"benar, aku tidak seharusnya berbasa-basi lagi denganmu," ucap Agra, lalu dia memerintahkan Rezie untuk mengikat kedua tangan Devo dan menggantungnya di atas.
Dengan sigap, Rezie langsung menjalankan apa yang diperintah Agra, dia mengikat tangan Devo dengan kuat dan menariknya sedikit demi sedikit ka atas membuat tubuh Devo mengambang beberapa senti.
Lalu Agra membuka baju Devo dan membiarkan lelaki itu bertelanjang dada, kemudian dia mengambil sesuatu di dalam lemari yang ada diruangan itu.
Sebuah cambuk sepanjang 3 meter berada tepat ditangan Agra, dia memainkan cambuk itu yang tampak seperti seorang algojo.
Devo meringis membayangkan cambuk itu melayang ke tubuhnya, dia sudah bisa menerka kalau saat ini Agra pasti akan mencambuknya sampai dia mati.
Ples, ples, dua kali cambukan mendarat sempurna ditubuh Devo membuat lelaki itu meringis dengan mata terpejam, urat-urat disekitar lehernya menonjol keluar karna menahan sakit akibat pecutan Agra.
__ADS_1
Ples, ples, suara cambukan itu terus terdengar membuat orang lain merasa ngilu. Dareen yang tidak tahan melihat penyiksaan itu memilih untuk keluar dari ruangan semantara Felix masih menundukkan kepala dengan rasa sakit didada.
"Devo, maafkan aku yang tidak bisa menolongmu," Felix merasa bersalah karna membiarkan Devo bertemu dengan Agra.
Agra menghentikan cambukannya saat tangannya mulai pegal, dia menjatuhkan senjata itu ke atas lantai.
Agra yang masih belum puas mengambil sebuah pisau dari dalam laci, dia kemudian mengiris tubuh Devo diberbagai daerah.
Cres, cres, tangan, wajah, perut sampai kaki mengeluarkan darah segar akibat pisau Agra yang saat ini sudah bersimbah darah.
Devo sendiri memejamkan mata untuk menahan rasa sakit yang saat ini menjalar ke seluruh tubuh, seperti Felix yang saat ini ikut sedih dengan apa yang sedang terjadi.
"siram dia dengan air garam!" perintah Agra pada Rezie yang langsung mendapat tatapan bingung dari lelaki itu.
"siram lukanya dengan air garam! supaya dia tahu bagaimana rasanya kalau luka yang masih basah tersiram dengan air," ucap Agra sembari duduk kembali dikursinya.
Rezie yang sudah memegang air garam langsung menyiramkannya ke tubuh Devo, membuat lelaki itu kaget dan menjerit menahan sakit yang terasa meremukkan tulang-tulangnya.
Agra kemudian memanggil salah satu anak buahnya yang sedang menikmati tubuh Mona untuk segera datang, dia ingin memberi perintah pada mereka.
Tak lama, masuklah dua orang anak buah yang tadi dipanggil oleh Agra. Mereka menundukkan kepala saat melihat Agra.
"cambuk dia sampai seluruh tulang-tulangnya remuk!"
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya terbaru Othor, Cinta Terakhir Zulaikha 🥰 Mohon dukungannya 😘