
Agra menggendong tubuh Aleta menuju kamar mandi, dia mengisi bathub dengan tetesan aroma terapi agar menenangkan jiwa dan raga mereka.
Aleta bersandar di dada Agra sambil merendam seluruh tubuh yang terasa remuk redam, apalagi kakinya terasa kram karna permainan panas mereka tadi. Agra sendiri sedang memeluk Aleta dari belakang, tangannya kembali nakal dan bermain di sekitar dada Aleta.
"Berhenti!" Aleta memegang tangan Agra yang mulai turun ke daerah sensitifnya, dia sudah sangat lelah jika harus kembali melayani lelaki itu.
"aku menginginkannya," bagaikan binatang buas yang sedang dalam musim kawin, dia tidak pernah puas dan ingin kembali mengulang kegiatan mereka tadi.
Aleta menatapnya dengan tajam, "dasar gila! nyawa ku aja belum terkumpul semua, kau malah mau tambah lagi," gerutu Aleta membuat Agra tertawa. Agra sendiri juga tidak tau kenapa selalu bernafsu saat ini, mungkin karna sudah tua dan tidak pernah melakukan hal seperti itu membuat gairahnya keluar tak terkendali.
"aku lapar," ucap Aleta tiba-tiba sembari memegang perutnya. Agra segera menyelesaikan mandi mereka dan kembali menggendong Aleta ke luar dari sana.
Agra segera memesan makanan untuk mengisi stamina mereka sebelum kembali bertempur sampai malam hari. Dia mungkin ingin meremukkan seluruh tubuh Aleta sampai gadis itu tidak bisa bangun dari ranjang.
Tak berselang lama, datanglah makanan yang Agra pesan tadi. Dia segera menyusun makanan itu ke meja makan, dan berlalu ke kamar untuk menggendong Aleta.
"wah, banyak sekali makanannya," seru Aleta saat melihat berbagai macam makanan sudah tersaji di hadapannya.
"kau harus banyak makan, karna kita akan melanjutkan kegiatan kita sampai malam,"
Mendengar ucapan Agra, Aleta langsung menjatuhkan sendoknya. Dia merasa seperti akan mati hari ini karna perbuatan suaminya sendiri.
"kenapa kau kaget gitu, kita akan melakukan itu setiap hari," seru Agra tanpa rasa bersalah sembari menikmati makanannya membuat Aleta kembali menjatuhkan sendoknya.
"baiklah, biarkan aku menulis wasiat dulu," desis Aleta sembari meraba tengkuknya yang merinding.
"hahahahah...," tawa Agra langsung pecah saat mendengar ucapan Aleta, istrinya itu benar-benar sangat menggemaskan.
Setelah selesai dengan makanan mereka, Agra kembali menyeret Aleta masuk ke dalam kamar. Dia kembali mengulang kegiatan panas mereka sampai beberapa kali, membuat Aleta benar-benar sudah tidak sadarkan diri. Aleta hanya bisa berdo'a dalam hati, supaya dia masih bisa hidup esok hari.
*****
Lusi yang hari ini mendapat izin libur terlihat sedang menikmati waktu santainya, dia menghabiskan waktu dengan berbaring dan menonton televisi.
Namun tak berselang lama, ponselnya berdering yang langsung menampilkan nama sih penelpon.
"halo," ucap Lusi.
__ADS_1
"kau lagi apa Lus?" tanya Egi, ternyata dialah manusia yang mengganggu waktu istirahat gadis itu.
"lagi nyantai, kenapa?"
"duuh tolong ambilkan berkas pentingku dong di kampus," pinta Egi. Dia tidak bisa keluar dari tempatnya magang karna masih waktu kerja.
"malas ah," tolak Lusi, dia hanya ingin menghabiskan hari ini dengan bersantai ria.
"nanti malam aku traktir makan," tawar Egi.
Eemm Lusi terlihat memikirkan tawaran Egi, dan sejurus kemudian...,
"oke, ada di loker mu kan?" tanyanya menyetujui penawaran temannya itu.
"iya. thanks ya." Tut, Egi langsung memutuskan panggilan telpon mereka.
Lusi bergegas untuk bersiap-siap ke kampus mengambil berkas Egi. Walau langkah kakinya terasa berat, namun dia harus tetap semangat demi makanan gratisan.
Setelah selesai dengan urusannya, Lusi bergegas ke pinggir jalan untuk menunggu ojek online pesanannya. Namun saat sedang menunggu, sebuah mobil mewah berwarna hitam mendekat ke arahnya.
Melihat itu Lusi jadi takut, dia menerka-nerka jangan-jangan mobil itu ingin menculiknya karna tergoda dengan wajahnya yang sangat cantik.
"kau," ucap Lusi pada lelaki itu.
"wah hebat kau ya, bilangnya lelah tapi malah berkeliaran," cibir Rezie sembari bersedekap dada.
"apa dia bilang? berkeliaran," Lusi ingin sekali menjambak mulut lelaki itu. Namun dia memilih bungkam, dia tidak ingin beradu mulut dengan tukang ikut campur itu.
"dasar pembohong! kasihan sekali Ricky yang dibodohi olehmu. ck ck," mulut Rezie memang luar biasa, dia sangat pandai memancing emosi orang lain.
"diam kau!" bentak Lusi, dia merasa tidak terima dengan apa yang pria itu ucapkan. Tak lama datanglah ojek yang tadi sudah dia pesan. Namun sebelum Lusi naik, Rezie sudah terlebih dulu memberi uang pada ojek itu dan mengusirnya dari sana.
Lusi hanya melongo saja saat melihatnya, dia tidak habis pikir dengan tingkah yang di lakukan pria gila itu.
"apa-apaan sih kau ini," geram Lusi, dia sudah maju selangkah mendekat ke arah Rezie.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit Ricky." Tanpa merasa bersalah, Rezie menyeret Lusi untuk masuk ke dalam mobilnya. Namun Lusi tak kehabisan akal, dia menjerit dengan sangat kencang membuat beberapa orang yang sedang melintas melihat ke arah mereka.
__ADS_1
"Tolong aku, aku mau diculik. tolong...." Rezie membekap mulut Lusi yang sudah teriak-teriak seperti orang gila. Namun pada saat yang sama, beberapa orang menghampiri mereka dan langsung menarik tubuh Rezie menjauh dari tubuh Lusi.
"apa-apa ini?" bentak Rezie yang tidak terima di pegangi seperti seorang penjahat.
"tolong pak, dia mau menculikku," Lusi mengadu sambil membuat mimik wajah yang menyedihkan.
"hey, apa yang kau katakan? lepaskan aku!" Rezie memberontak saat kedua tangannya di ikat oleh orang-orang yang memegangnya.
"tenang nak, kami tidak akan membiarkan dia melakukan sesuatu padamu," ucap salah seorang bapak bertubuh besar pada Lusi.
"apa? aku tidak melaku-"
"terima kasih pak, aku sangat takut," potong Lusi sembari mendalami drama yang sedang dia mainkan.
"apa-apaan kau? jangan dengarkan wanita sialan ini," bentak Rezie sambil menatap tajam pada Lusi.
"tolong bawa dia pak, aku sangat takut melihatnya," lagi-lagi Lusi membuat drama yang membuat emosi Rezie semakin membara.
"diam kau!"
"tenang saja nak, kami sudah melaporkannya pada polisi," seru Bapak-bapak tadi.
"jangan sembarangan kalian, kalian tidak tahu siapa saya," teriak Rezie, namun semua orang tidak memperdulikan teriakannya.
Tak berselang lama, datanglah beberapa orang polisi yang langsung membawa Rezie ke dalam mobil mereka.
Rezie memberontak seraya mengucapkan sumpah serapah pada mereka semua, namun mereka tidak menghiraukannya. Pada saat dia melihat ke arah Lusi, gadis itu menjulurkan lidahnya seraya mengejek Rezie dan segera membuang muka.
"wanita sialan! awas aja kau," Rezie benar-benar di buat emosi tingkat dewa oleh wanita itu.
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Yuk like dan komen yang banyak. rate dan kasi vote juga ya. jangan lupa hadiahnya 🥰
Terima kasih buat yang udah baca 😘