
Keesokan harinya, Aleta yang sedang tidur dengan nyenyak merasa terganggu dengan suara alarm yang biasa membangunkannya setiap pagi. Dia segera turun dari ranjang untuk membuka pintu sebelum mamanya menjebol pintu kamarnya.
"ya ampun Aleta, jam segini baru bangun!" geram mama Deeva sedangkan Aleta hanya menggaruk-garuk kepalanya sembari menguap.
"mana suami mu?" tanya mama Deeva kemudian. Dia yang tadi sedang memasak di dapur terkejut saat mendengar kalau Agra tidur di kamar tamu. Siapa lagi yang mengadu pada nya kalau bukan Dareen, yang langsung membuat kepala mama Deeva jadi berasap.
"hah, suami?" Aleta mengernyitkan keningnya mendengar kata suami.
"Ah benar, aku kan udah nikah." Aleta langsung berlari ke dalam kamar untuk mencari Agra, namun dia tidak menemukan lelaki itu di dalam kamarnya.
"loh, kemana Agra?" tanyanya pada mama Deeva.
Plak, satu pukulan mendarat di kepala Aleta yang langsung membuat dia mengaduh kesakitan.
"suamimu tidur di kamar tamu, bener-bener kamu ya," gerutu mama Deeva yang akan kembali mendaratkan tangannya ke kepala Aleta. Namun Aleta segera berlari ke kamar yang di tempati oleh Agra dengan perasaan takut kalau pria itu akan mengamuk.
Brak. Aleta membuka pintu dengan kencang membuat Agra yang masih tidur langsung terlonjak kaget di atas ranjang.
Aleta segera menghampiri Agra yang melihatnya dengan tatapan tajam, Aleta memasang wajah super imut untuk menutupi ketakutannya.
"suamiku, kamu sudah bangun?" tanya Aleta dengan penuh kelembutan sedangkan Agra menepuk-nepuk wajahnya, dia berpikir mungkin dia masih berada di alam mimpi.
"suamiku, apa kau mau sarapan?" tawar Aleta, dia sangat bekerja keras untuk meluluhkan hati suaminya.
Agra menaikkan sebelah alisnya, dia mulai menerka-nerka apa yang menyebabkan gadis itu menjadi gila seperti itu.
"ke sini kau," panggil Agra sembari menepuk tempat di sebelahnya. Aleta berjalan sangat pelan untuk duduk ke tempat yang Agra tepuk tadi, dia berusaha menutupi kegugupannya dengan senyuman.
__ADS_1
Begitu Aleta duduk, Agra langsung merebahkan kepalanya tepat di pangkuan Aleta membuat gadis itu menegang seketika.
"kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan tadi malam," ucap Agra pelan sambil meletakkan tangan Aleta ke atas kepelanya. Dia menggerakkan tangan Aleta untuk mengusap kepalanya dan Aleta mengikuti semua yang suaminya itu inginkan.
"maaf," sesal Aleta. Dia merasa bersalah karna mengunci pintu sebelum Agra masuk ke dalam kamarnya.
Sebenarnya Agra masih merasa kesal, namun saat dia membuka mata dan langsung melihat Aleta, tiba-tiba perasaannya menjadi baik. Entah kenapa pagi ini dia sangat bahagia hanya dengan memandang wajah Aleta, sunggun Agra merasa sudah benar-benar jatuh hati pada istri kecilnya itu.
"aku tidak memafkaanmu," balas Agra sambil menghadap ke arah Aleta. Aleta juga melihat ke arahnya, jantung mereka mulai berdegup kencang dengan napas yang sudah saling memburu.
Agra menarik tengkuk Aleta hingga bibir wanita itu menempel tepat di bibirnya, mereka kembali saling memagut dan menghisap dengan hasrat yang mulai menggelora.
Pertukaran salive mereka menjadi semakin intens, Agra mulai memasukkan tangannya ke dalam baju yang menempel di tubuh Aleta sedangkan Aleta sendiri menggenggam erat rambut Agra sambil sesekali menyentuh leher lelaki itu.
"astaga, maaf," suara Dareen mengejutkan mereka yang sedang memadu kasih, Aleta langsung berdiri saat melihat Dareen sedang berdiri di depan pintu dengan membelakangi mereka sedangkan Agra sendiri bangkit dan berjalan mendekat ke arah Dareen.
Dareen yang di perintah oleh mama Deeva untuk memanggil Agra dan Aleta langsung masuk ke dalam kamar yang memang pintunya tidak tertutup, dia tidak menyangka kalau mata sucinya harus melihat adegan mesra adiknya dengan suaminya.
"ayo kita sarapan!" ajak Dareen yang beralih melihat ke arahnya sembari menepuk bahu adik iparnya itu, dan di balas oleh anggukan kepala Agra. Kemudian Dareen pergi dari kamar itu dengan perasaan malu dan sungkan, dia merasa tidak enak hati dengan Agra yang secara tidak sengaja melihat kemesraan mereka.
Aleta hanya menundukkan kepalanya, dia merasa malu dengan Dareen sementara Agra langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Beberapa menit kemudian, Aleta dan Agra sudah beberapa di meja makan bersama dengan kedua orangtua Aleta beserta dengan Dareen yang terlihat hanya menundukkan kepalanya.
"Agra, maafkan istri kamu yang bodoh itu ya," seru mama Deeva, dia merasa tidak enak hati karna kejadian tadi malam.
"enggak papa ma," jawab Agra sambil menikmati sarapannya. Mama Deeva melihat sinis ke arah Aleta yang di balas dengan acuh oleh putrinya itu. Dia benar-benar geram melihat tingkah ajaib Aleta.
__ADS_1
"bagaimana dengan perusahaan papa? semua sudah baik-baik sajakan?" tanya Agra pada papa Arsen.
"semua baik nak, berkat bantuan mu," balas papa Arsen, dia benar-benar merasa berterima kasih karna Agra telah banyak membantu perusahaan keluarganya.
Setelah Agra memutuskan untuk menikah dengan Aleta, dia langsung memerintahkan Felix untuk mengirim karyawan terbaiknya ke perusahaan Winandra. Dia ingin meneyelesaikan masalah yang ada di perusahaan itu, dan dia juga langsung memecat karyawan yang sudah berbuat curang selama ini. Cukup banyak karyawan yang dia pecat, karna memang karna perbuatan mereka lah perusahaan itu berada di ujung kebangkrutan.
"terima kasih untuk semuanya Agra, kalau bukan karnamu mungkin perusahaan itu sudah gulung tikar," lirih Dareen. Dia benar-benar sangat kagum dengan cara kerja Agra, bahkan para karyawannya saja sangat pintar apalagi Agra sebagai pimpinan mereka, sudah pasti kehebatannya tidak bisa di ragukan lagi.
"sudah sepantasnya aku membantu keluarga istriku, benarkan Aleta?" Agra menekan setiap kata yang dia ucapkan pada Aleta. Aleta hanya menanggapi dengan senyuman dan anggukan kepala, dia merasa tercubit dengan apa yang Agra katakan.
Setelah selesai sarapan, Agra mengajak Aleta pergi ke apartemennya. Dia ingin mengambil sesuatu yang penting tertinggal di sana. Dengan berat hati Aleta ikut pergi bersama Agra, padahal hari ini dia berencana untuk tidur sampai sore.
Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai juga ke tempat tujuan. Aleta langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa, dia benar-benar masih merasa sangat lelah. Agra sendiri langsung berjalan ke arah kamarnya, namun tak berselang lama terdengar suaranya memanggil Aleta.
Aleta berjalan ke kamar dengan mulut menggerutu, dia benar-benar malas untuk bergerak.
Setibanya di kamar, dia tidak melihat di mana keberadaan Agra. Namun tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya dengan erat seraya mencium tengkuk Aleta yang tidak tertutupi apapun.
"sayang, aku menginginkannya," suara berat nan seksi terdengar menyapu telinga Aleta membuat seluruh tubuhnya meremang seketika.
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Yuk dukung othor sebanyak-banyaknya, kasi hadiah yg banyak juga ya readers kesayangan 🥰
Terima kasih buat yang udah baca 😘