
Semua acara yang mereka siapkan sudah selesai, terlihat para tamu undangan sudah mulai meninggalkan tempat itu. begitu pula dengan keluarga Aleta dan juga Agra, mereka tengah bersiap untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Aleta...," panggil Agra saat melihat Aleta akan masuk ke dalam mobil. Aleta mengurungkan niatnya saat mendengar suara lelaki itu.
"emm apa kau mau pulang?" tanya Agra ragu-ragu. Aleta menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Agra.
"apa kau tidak ingin ke apartemenku?" tanya Agra lagi.
Aleta mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Agra, dia sama sekali tidak ingin ke mana-mana apalagi ke apartemen lelaki itu, yang dia inginkan saat ini adalah berbaring diranjangnya sendiri.
"Agra..., ada apa?" tiba-tiba papa Arsen mendekati mereka berdua yang masih berdiri di tempat itu. keluarga Aleta sudah tidak memanggilnya dengan sebutan formal karna sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga.
"Aleta ingin ikut denganku ke apartemen pa," jawab Agra memfitnah Aleta.
"apa ! mana ada seperti itu," Aleta tidak terima dengan fitnah yang dilayangkan Agra untuknya.
"dia memintaku untuk membawanya," lanjut Agra lagi.
"kau...,"
"Aleta, kalian itu belum menikah. jangan terlalu nafsu kamu," potong papa Arsen yang memberi teguran pada putrinya.
"papa, bukan aku yang mengata...,"
"baiklah, kalau begitu aku permisi pa." Agra tidak membiarkan Aleta untuk bicara. dia yang tadinya ingin mengajak Aleta ke apartemennya merasa gengsi, jadilah dia memfitnah gadis yang suci itu.
"Aleta, kamu ini malu-maluin papa aja," ucap sang papa sambil meninggalkannya dan berlalu masuk ke dalam mobil.
"apa ! dasar manusia licik itu. awas aja kau," gumam Aleta sambil melangkah masuk ke dalam mobil.
***
Setelah acara pertunangan, Aleta kembali disibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan Agra. dia kini sedang berada di sebuah butik terkenal di kota itu bersama dengan mama Lena dan juga mama Deeva.
"saya ingin gaun yang paling cantik dan mewah untuk menantu saya ini," ucap mama Lena pada seorang desainer.
__ADS_1
"anda tenang saja nyonya, saya akan menyiapkan yang terbaik untuk menantu nyonya yang imut ini," balas desainer itu.
Seluruh tubuh Aleta terasa remuk redam karna banyak sekali persiapan yang harus dia lakukan.
"tapi apa ini ? kenapa Agra tidak terlihat batang hidungnya, emangnya cuma aku sendiri apa yang mau nikah," Aleta geram karna Agra tidak pernah bersama dengannya menyiapkan acara pernikahan mereka.
"ma, kenapa Agra tidak datang kesini?" tanya Aleta pada mertuanya.
"aduh kayak enggak tau dia aja, anak itu pasti masih sibuk dikantor," ucap mama Lena.
"apa ! beraninya dia tetap bekerja sedangkan aku harus cuti kuliah. awas kau," Aleta berniat untuk datang ke perusahaan lelaki itu dan menyeretnya untuk mempersiapkan pernikahan mereka.
Setelah selesai mengukur gaun yang akan Aleta pakai, mereka segera keluar dari butik itu. Aleta langsung melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Agra sedangkan para mama itu pulang ke rumah mereka masing-masing.
Sesampainya di perusahaan Agra, Aleta langsung menemui resepsionist untuk bertemu dengan bos mereka.
"silahkan nona," para karyawan di perusahaan itu sudah tau kalau Aleta dan Agra akan segera menikah, itu sebabnya Aleta langsung dipersilahkan untuk ke ruangan calon suaminya.
"nona Aleta," seru Felix yang sedikit kaget melihat keberadaannya diruangan itu. Aleta tidak menghiraukannya, dia tetap berjalan lurus menuju pintu ruangan Agra.
"Aleta," Agra terkejut saat melihat rubah liciknya ada di tempat itu.
Mata Aleta membulat sempurna saat melihat apa yang terjadi di ruangan itu. bagaimana mungkin calon suaminya sedang memangku wanita lain dan berciuman dengan mesra.
Dengan kemarahan yang sedang berkobar dengan dahsyat, Aleta menghampiri mereka dan langsung menarik Margaret sampai wanita itu tersungkur di mencium lantai.
"hebat kalian ya, siang-siang gini berbuat mesum. apa gak ada waktu di malam hari," bentak Aleta sambil meletakkan tangannya dipinggang seolah sedang menantang mereka.
Tapi tunggu, kenapa bentakan Aleta itu seakan-akan memperbolehkan mereka berbuat seperti itu kalau di malam hari. 🤔
"kau lagi." tunjuk Aleta pada Agra yang masih bengong di kursi kebesarannya.
"aku udah capek-capek ke sana ke mari menyiapkan pernikahan kita, kau malah asyik-asyikan dengan wanita siluman ini. kau pikir aku mau menikah sendirian," teriak Aleta lagi dengan wajah yang sudah merah padam.
Margaret yang masih tergeletak di lantai berusaha untuk bangkit sembari memegangi bokongnya yang terasa nyeri.
__ADS_1
"wanita siluman kau bilang...," bentak Margaret padanya.
"diam kau ya, aku lagi gak ngomong sama wanita sialan kayak kau," ucap Aleta.
"bocah sialan ini, dia mengatai aku wanita siluman dan wanita sialan...," Margaret ingin sekali menjambak mulut Aleta yang sudah mengatainya itu.
"kau mau tetap sama siluman ini atau mau pergi sama aku?" tanya Aleta pada Agra.
"kenapa ?" bukannya menjawab, Agra malah balik bertanya padanya. entah kenapa dia sangat suka saat melihat Aleta marah-marah seperti itu.
"kenapa kau bilang ? baiklah terserah mu saja, aku akan menikah dengan orang lain," ucap Aleta sambil keluar dari ruangan itu. namun, kakinya berhenti saat dia sampai dibibir pintu.
"mesra-mesraan aja kau sama siluman itu, biar anak kalian nanti menjadi medusa," ucap Aleta lagi sambil melanjutkan langkah kakinya.
Felix yang menjadi penonton di ruangan itu tertawa geli mendengar ucapan-ucapan yang dilayangkan oleh Aleta. dia sekuat tenaga menahan tawa yang sudah akan pecah dari mulutnya. Sedangkan Margaret mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubunnya melihat bocah sialan itu.
Agra sendiri juga sudah senyam-senyum mendengar semua sumpah serapah yang keluar dari bibir mungil rubah liciknya itu, lalu dia melangkahkan kakinya untuk mengejar kepergian Aleta.
"Agra, mau ke mana kau?" Margaret menghalangi Agra yang akan menyusul Aleta.
"kau dengar Margaret, ini adalah batas kesabaranku. kalau sampai kau berani menginjakkan kakimu lagi di perusahan ini, maka jangan salahkan aku kalau aku akan menghancurkanmu," ancam Agra dan langsung meninggalkan wanita itu.
"Agra...," teriak Margaret sambil menghentak-hentakkan kakinya. dia benar-benar merasa kesal melihat penolakan Agra padanya.
"kau lihat saja bocah sialan, aku akan melakukan sesuatu yang lebih jahat dari apa yang pernah aku lakukan padamu," Margaret lalu memutuskan untuk pergi dari perusahaan itu.
•
•
•
**TBC.
yuuk like dan koment yang banyak, kasi vote dan bintang 5 nya juga ya. biar othor semangat terus untuk update 😘
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘**