Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 44. Pertemuan Aleta dan Margaret


__ADS_3

Aleta mematung di tempatnya berdiri saat ini, dia terus melihat ke arah Margaret pergi dengan pikiran yang berkecambuk. Agra yang sudah melangkahkan kakinya kembali berhenti, dan berbalik melihat ke arah Aleta yang tetap diam di tempatnya.


"Aleta!" panggil Agra yang berada sudah agak jauh dari gadis itu. Suasana parkiran yang sepi membuat suara Agra menggema di tempat itu. Namun tidak ada pergerakan darinya, terpaksa Agra kembali lagi mendekat ke arah Aleta.


Agra menoel pipi Aleta yang langsung membuatnya terjingkat kaget sambil melihat ke arah Agra. Untuk beberapa detik mereka saling pandang tanpa berkata apa-apa, kemudian Aleta menoleh dan berjalan mendahului Agra untuk masuk ke dalam perusahaan itu dengan diikuti tatapan bingung dari Agra.


****


Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, segala persiapan pernikahan sudah selesai. Mereka hanya tinggal menunggu dua hari lagi untuk meresmikan ikatan pernikahan antara Agra dan juga Aleta.


Hari ini Agra sudah tidak bekerja, dia banyak menghabiskan waktu di rumah karna memang waktu pernikahan sudah dekat dan sang mama tidak memperbolehkannya untuk masuk kerja. Segala pekerjaannya di serahkan oleh Felix, untung saja sekretarisnya itu adalah orang yang pintar dan cekatan, segala urusan bisa di selesaikannya dengan baik dan cepat.


Berbeda dengan Agra, Aleta masih terlihat magang di Rumah sakit. Besok dia baru tidak masuk sampai hari pernikahan selesai, walaupun sang mama selalu memberi omelan padanya, tapi dia tetap memilih untuk masuk ke Rumah sakit.


Pada saat jam makan siang, Aleta yang sedang berada si kafetaria mendapat kabar dari temannya bahwa ada seorang wanita yang ingin bertemu dengannya. Aleta segera menghabiskan makanan yang ada dihadapannya secara terburu-buru, dia tidak mau tamunya itu menunggu terlalu lama.


"pelan-pelan aja, nanti kesedak loh," ucap Ricky. Belum sempat 1 menit kata itu terucap, Aleta sudah tersedak makanan sampai terbatuk-batuk dengan wajah yang memerah. Dengan sigap Ricky menyodorkan segelas air yang langsung diminum sampai habis oleh Aleta.


"tampan, aku duluan ya," pamitnya pada Ricky dan berlalu dari tempat itu. Dalam pikiran Aleta menerka-nerka siapa kira-kira wanita yang datang menemuinya, namun dia malah pusing sendiri. Alhasil dia memilih untuk tidak lagi memikirkannya.

__ADS_1


"kau!" Aleta mematung di depan lift saat melihat wanita yang akan menemuinya. Wanita yang beberapa hari lalu mengibarkan bendera perang padanya dan membuatnya tidak bisa tidur karna terus memikirkan ucapan wanita itu.


"ada yang ingin ku bicarakan denganmu," Margaret berjalan masuk ke dalam ruangan khusus yang disediakan untuk tamu.


Aleta menghela napas berat, mau tidak mau dia memang harus berbicara empat mata pada wanita itu. Aleta menenangkan pikirannya yang sudah menjalar kemana-mana dan berlalu masuk ke ruangan yang sama dengan Margaret.


Untuk beberapa menit mereka hanya saling berdiam diri, namun mata mereka tetap saling menatap dengan pikiran masing-masing.


"aku mencintai Agra, sangat mencintainya," lirih Margaret di tengah keheningan ruangan itu. Aleta meremas jemari tangannya, perasaannya sudah tidak menentu lagi saat ini.


"aku sudah lama menyimpan perasaan cintaku untuknya, butuh waktu lama agar dia mau menerima cintaku. tapi sekarang, sekarang dia mencampakkanku begitu saja karna kehadiranmu," getaran suaranya diiringi dengan buliran air mata yang jatuh begitu saja di wajah cantiknya. Rasa sakit dan sesak terasa menusuk seluruh tubuhnya membuatnya hancur dan tidak mengizinkannya untuk bertahan. Hatinya seolah mati saat melihat orang yang dia cinta bersama dengan wanita lain.


Suasana yang hening semakin terasa mencekam, sesak terasa melanda pada dua hati wanita yang sedang saling berhadapan. Hiruk pikuk suasana diluar ruangan seakan tidak bisa meramaikan perasaan mereka yang kalut dalam kesedihan pada orang yang sama.


"aku tidak butuh maaf mu, aku hanya butuh Agra. aku ingin dia tetap berasa di sampingku," Margaret berucap dengan sangat tajam, bahkan tatapan matanya juga terlihat lebih tajam dari ucapan yang keluar dari mulutnya. Gertakan giginya menyiratkan emosi yang coba dia tahan, juga semburat rasa sakit yang menonjol di wajahnya menggambarkan pedih yang saat ini sedang dia rasakan.


"aku...," Aleta tidak bisa melanjutkan ucapannya, lidahnya terasa keluh dengan napas yang seakan tercekat di tenggorokan. Dadanya memanas saat dia akan mengatakan untuk membatalkan pernikahannya dengan Agra. Semua memang kesalahannya, hanya karna memikirkan keluarganya dia menyakiti dan menghancurkan perasaan orang lain. Tapi apa yang harus dia lakukan sekarang, hati dan pikirannya terasa saling bertolak belakang.


Aleta berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya, beberapa kali dia menarik napas dan membuangnya agar dia bisa mengendalikan emosinya saat ini. Tanpa dia sadari air mata sudah jatuh di wajahnya, tangannya juga sudah gemetar memikirkan rasa sakit yang akan dia rasakan. Aleta kembali melihat ke arah Margaret, mata wanita itu memang tidak berbohong kalau dia sangat mencintai Agra. Lalu bagaimana dengan perasaannya ? betapa egoisnya dia merebut cinta orang lain untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membatal--" Brak. Pintu ruangan itu dibuka paksa oleh seorang pria yang langsung mendekat ke arah mereka.


"Beraninya, beraninya kau mengatakan itu!" Brak. Teriak Agra sambil memukul meja yang ada di samping tubuhnya.


Aleta dan Margaret langsung berdiri saat melihat kedatangan Agra yang tampak sangat marah dengan wajah merah padam dan urat-urat yang menonjol di sekitar leher dan juga tangannya.


Matanya menatap tajam pada kedua wanita itu seakan-akan ingin membakar mereka hidup-hidup di ruangan itu. Beberapa orang yang melintas menghentikan langkah mereka, mereka melihat keributan yang terjadi di ruangan itu karna memang pintu ruangan itu terbuka dengan lebar.


Aleta dan Margaret meremas jemari tangan mereka dengan gemetar karna perasaan takut saat melihat Agra, mereka bahkan tidak berani mengangkat kepala mereka hanya sekedar untuk menatap lelaki itu.


"Agra, ada apa ini?" Ricky menghampiri mereka yang sudah menjadi bahan tontonan bagi semua orang.





TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Yuk dukung othor sebanyak-banyaknya supaya othor semangat dan sering update 🥰


__ADS_2