
Cahaya mentari pagi yang mulai beranjak naik, masuk melalui jendela ruangan VIP mengusik ketenangan tidur Agra. Dia mulai mengerjapkan matanya dan melihat ke arah ranjang, matanya membulat sempurna saat ranjang itu tampak kosong.
"Aleta, sayang," teriak Agra mencari keberadaan istrinya.
"Apa sih, teriak-teriak kayak orang gila," ketus Aleta sembari berjalan keluar dari kamar mandi bersama dengan Felix yang memegangi tangannya.
"apa yang kalian lakukan?" tanya Agra sembari menarik tubuh Felix agar menjauh dari Aleta, sementara Aleta hanya memutar bola matanya malas.
"Felix, apa yang kau lakukan bersama istriku?" geram Agra, dadanya terasa panas saat melihat Aleta keluar dari kamar mandi bersama dengan Felix.
"saya hanya membantu Nyonya ke kamar mandi tuan," jawabnya singkat. Lalu Agra beralih ke arah Aleta yang sudah duduk di atas ranjang, Agra memperhatikan pakaian yang dipakai Aleta saat ini.
"Felix, kau mengganti pakaian istriku?" geramnya sembari melihat ke arah Felix membuat lelaki itu menghentikan langkah kakinya yang sudah hampir mencapai pintu.
"tidak!" jawab Felix dan Aleta bersamaan, Agra semakin merasa tidak suka dengan kekompakan yang terjadi di antara mereka.
"kau pikir aku ini sama sepertimu," ketus Aleta sembari menyuruh Felix untuk mengambilkan air yang ada di samping ranjang.
Sebelum Felix mengambil air itu, Agra sudah terlebih dulu mengambilnya dan memberikan pada Aleta. Dia menatap tajam pada Felix seraya menyuruhnya untuk pergi dengan ekor matanya, dia tidak mau Aleta terlalu dekat dengan laki-laki lain.
"kenapa tidak membangunkanku?" tanya Agra, dia kembali mendudukkan pantatnya dikursi.
"aku udah banguni kok, tapi kau nya aja yang gak mau bangun," bohong Aleta, padahal dia sengaja tidak membangunkannya supaya lelaki itu bisa lebih lama tidur.
"mulai sekarang, kau harus meminta bantuan padaku! apapun dan di mana pun!" perintah Agra padanya membuat Aleta hanya asal mengiyakan, biar cepat selesai pikirnya.
Tak berselang lama, datanglah pasukan keluarga Winandra dan Mahesa yang langsung membuat keramaian di ruangan itu. Mama Deeva memeluk Aleta dengan erat bersamaan dengan Mama Lena, begitu juga para Papa yang tampak bersyukur karna Aleta baik-baik saja. Hanya Dareen lah yang tetap memasang wajah dingin, apalagi saat Agra melihat ke arahnya.
"wah, semua sedang berkumpul ya," ucap Dokter Sila dengan senyum manis diwajahnya dan mendekat ke arah Aleta untuk memeriksa kondisinya saat ini.
"anak saya baik-baik sajakan Dokter?" tanya Mama Deeva yang masih sedikit khawatir, begitu juga dengan semua orang yang ada diruangan itu.
"kondisinya sudah jauh lebih baik Nyonya, jika terus membaik seperti ini, kemungkinan besok sudah boleh pulang," jawab Dokter itu dengan ramah, semua yang ada diruangan itu bernapas lega saat mendengarnya.
"bagaimana dengan cucu-cucuku?" tanya Mama Lena kembali.
__ADS_1
"sih kecil sangat sehat, mereka sudah mulai aktif kembali dalam perut ibunya. Detak jantung juga perlahan mulai normal, namun tetap harus dijaga ya emosinya," jelas Dokter itu kembali, semua menganggukkan-anggukkan kepala mereka mendengar penjelasan Dokter itu.
Agra mengelus perut Aleta dengan sayang, dia berjanji untuk tidak lagi menyakiti dan membuat Aleta menjadi sedih.
"apa anda sudah menikah Dokter?" tiba-tiba Mama Deeva bertanya diluar konteks pemeriksaan, membuat Dokter itu sedikit bingung.
"saya belum menikah Nyonya," walau merasa bingung, namun dia tetap menjawab pertanyaan dari wanita itu.
Mama Deeva menarik tangan Dareen hingga tubuh Dareen berdekatan dengan Dokter Sila membuat kedua manusia itu saling pandang dengan bingung.
"ini anak tante, umurnya 26 tahun. Dia baik, sopan, ramah dan pekerja keras. Wajahnya juga sangat tampan, dia sangat cocok bersanding denganmu," Mama Deeva menjelaskan secara detail tentang Dareen membuat anaknya itu menunduk karna malu mendengar ocehan mamanya, sementara Dokter Sila hanya tersenyum saja sembari melirik ke arah Dareen yang terlihat tersipu malu.
Semua yang berada di ruangan itu juga tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Mama Deeva, kecuali Aleta yang sudah biasa melihat tingkah aneh Mamanya itu.
"dijual mahal ya Dokter, kakak saya itu masih perjaka loh," lanjut Aleta yang ikut menggoda sang kakak membuat wajah Dareen bertambah merah, ingin sekali dia menenggelamkan Mama beserta adik laknat yang sudah mengatainya.
"ehem, jika tuan Dareen berkenan, saya sih mau-mau saja," ucap Dokter Sila sembari mengerlingkan sebelah matanya membuat Dareen menatapnya tanpa berkedip.
Bruk, suara benda terjatuh di depan pintu membuat semua orang melihat ke arah sumber suara. Margaret yang sedang berdiri di tempat itu langsung mengambil keranjang buah yang terjatuh dengan gugup dan menundukkan kepalanya.
Aleta tersenyum tipis saat melihat ke arah Margaret, dia yakin kalau gadis itu pasti mendengar apa yang Dokter Sila katakan tadi.
"Margaret? kau di sini?" tanya Dareen yang tidak menyangka kalau Margaret datang ke rumah sakit, entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang.
"aku ingin menjenguk Aleta," ucapnya sembari mendekat ke arah Aleta.
Kemudian Dokter Sila berpamitan untuk pergi, masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan. Mama Deeva kembali membuat ulah, dia meminta nomor ponsel Dokter cantik itu dan mengatakan agar Dareen bisa menghubunginya, membuat Dareen ingin sekali menutup mulut Mamanya yang kelewat batas.
"ba-bagaimana keadaanmu Aleta?" tanya Margaret setelah berhasil mengendalikan perasaannya, entah kenapa dia merasa tidak tenang saat ini.
"aku baik kak, terima kasih udah repot-repot datang," jawab Aleta, dia menerima keranjang buah yang diberi oleh wanita itu.
"enggak repot kok, semoga kau cepat sehat," do'a Margaret untuk nya dan dibalas dengan ucapan terima kasih dari Aleta.
"kak, zaman sekarang itu kita harus serba cepat," seru Aleta tiba-tiba membuat Margaret merasa bingung, begitu juga dengan semua orang yang ada ditempat itu.
__ADS_1
"Kalau kakak suka, ya langsung bilang suka. Sekarang tikung-menikung itu sangat tajam loh kak." Aleta mengedipkan sebelah matanya ke arah Margaret dan juga Dareen, membuat dua manusia itu menjadi salah tingkah.
Margaret segera pamit untuk kembali ke tempatnya bekerja, dia sudah merasa sangat malu jika lebih lama berada di ruangan itu. Dareen juga ikut pamit, dia mengejar langkah Margaret yang sudah mulai terlihat menjauh.
"Margaret, tunggu!" teriak Dareen membuat Margaret membalikkan tubuhnya.
"ayo, biar kuantar!" tawar Dareen sembari menunjuk ke arah mobilnya berada.
"aku bisa naik taksi, tidak usah-"
Margaret tidak bisa melanjutkan ucapannya karna tangannya sudah ditarik oleh Dareen, lelaki itu membawanya ke mobil dan memaksa untuk mengantarnya ke perusahaan.
Selama perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Dareen terus melirik ke arah Margaret membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
"emm soal kejadian tadi, Mama tidak-"
"Dokter itu sangat cantik dan juga baik. Dia benar-benar cocok denganmu," potong Margaret membuat Dareen tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"apa yang kulakukan? kenapa aku mengatakan itu?" Margaret mengutuki ucapannya sendiri, sementara Dareen hanya memasang wajah bingung.
"apa yang terjadi dengannya? dia marah atau memang tidak peduli?" Dareen merasa tidak paham dengan reaksi Margaret.
Mereka berdua asyik berselancar di dalam pikiran masing-masing.
•
•
•
TBC.
Jangan lupa dukungannya ya readers 🥰
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1
Oh ya, Yuuk mampir ke karya teman othor yang super keren ini, dijamin seru dan bikin betah buat baca 😍