
Elvan sedang duduk sendiri di taman sekolah, anak itu memang selalu menyendiri jarang sekali berbaur dengan yang lain.
Matanya menatap pokus ke depan, di sana ada pohon besar yang membuat matanya tidak berpaling ke arah lain.
Entah apa yang di lamunkan anak itu, kemarin bertemu dengan orang asing yang mengaku bahwa dia kakek nya.
"Kak Vano kenapa?", tanya Rena, anak yang baru saja masuk kelompok bermain.
"Kenapa sih Ren kamu itu selalu saja menggangguku", kesal Elvan.
"Kak Vano jahat padahal aku hanya bertanya".
"Terserah kau saja".
Kemarin Rena sudah membuat bajunya kotor gara gara makan roti coklat nempel di bajunya.
Setiap hari juga selalu mengganggu dirinya, Elvan tidak suka dengan kecerewetan Rena.
Tidak seperti teman yang lainnya kalau dirinya bilang sorry mau sendiri mereka menjauh, tapi Rena selalu ngotot ingin dekat dengannya, padahal masih anak kelompok bermain dirinya sudah TK B sebentar lagi masuk SD.
Sampai pulang juga Elvan masih kesal dengan wanita kecil mungil itu, sebenarnya Rena lucu hanya saja terlalu cerewet.
Masuk kedalam mobil mukanya masih di tekuk, membuat Nesya bingung.
"Kenapa sayang?, mami telat jemputnya hmm, maaf ya macet soalnya".
"Nggak mih, tadi ada anak kecil yang menyebalkan setiap hari selalu menyebalkan".
Gavin yang mendengar nada kesal Elvan tidak kuat menahan tawa.
Apa katanya anak kecil, ck padahal dirinya juga sama masih anak kecil, monolognya sambil terkekeh.
Sukses mendapat cubitan dari Nesya.
"Daddy kebiasaan mami gak suka ya", pelototnya.
"Ada apa?, kenapa?, sama orang jangan terlalu cuekan dan gak sukaan sayang".
"Dia selalu menggangguku, kemarin bajuku kotor semua juga gara gara dia, tadi aku lagi asik sendiri malah datang lagi".
__ADS_1
"Yaudah iya iaya, nanti bilang jelasin sama Rena nya kalau abang gak mau di ganggu, pelan pelan bilangnya dia kan cewek sayang".
"Iya mih", Elvan mengangguk.
"Biar anak mami happy lagai mau beli apa?".
"Nggak mau, langsung pulang aja".
"Oke kalau gitu asal mukanya gak bete lagi ya".
Bapak sama anak sama saja gak suka orang baru, mau gimana jadi temannya kalau sama setiap orang malas dan sebal terus.
Sampai rumah Elan langsung masuk kedalam rumah dan langsung ke kamarnya, Nesya menatap anak itu jauh berbeda dengan hari hari sebelumnya.
"Terimakasih sudah selalu sabar menghadapinya", Gavin tidak tau kalau istrinya bukan Nesya entah seperti apa rumah tangga dan hidupnya.
"Dia masih kecil meskipun otaknya cerdas tapi hati, jiwa dan badannya masih kanak kanak".
"Saya berangkat ya di rumah hati hati mau pergi kemana tlpon dulu".
"Iya mas".
"Aku udah kaya anak kecil setiap hari di suruh tidur siang terus", Nesya terkekeh.
Memang anak remaja yang terpaksa harus cepat cepat punya anak dua karena ke egoisan gue, batin Gavin.
"Kan ada adik bayi".
"Dia gak pernah minta tidur Dad hahaha".
"Aneh kamu itu, sudah saya berangkat dulu ya", mana ada janin bisa ngomong.
"Iya hati hati mas, cepet pulang lagi ya".
Ck Gavin menggeleng sambil tersenyum, setiap hari belum juga berangkat sudah di suruh pulang cepat terus.
Setelah Gavin pergi Nesya langsung naik ke kamarnya, mencuci tangan kaki dan mengganti baju, masul lagi ke kamar Elvan, seperti ada yang di sembunyikan sama anak itu.
Elvan juga ternyata sudah mengganti bajunya, anak itu sedang memeluk guling, sengaja Nesya tanpa suara masuk kedalam sana.
__ADS_1
Di luar dugaan anak itu ternyata sedang menangis dalam diam nya.
"Kenapa nangis sayang?, ada apa hemm?", Nesya memeluk Elvan.
Elvan mengusap air matanya.
"Kenapa semua orang datangnya sekarang mih", ucap anak itu sambil menelusupkan kepala ke dada maminya.
"Bilang ke mami sayang ada apa?, mami jadi sedih kalau Elvan nangis kaya gini".
"Kemarin ada orang dia mengaku kakek aku".
"Dimana ketemunya?", kaget Nesya.
"Pas kita makan kemarin aku bertemu dengannya dia mencegatku di toilet".
"Kenapa gak bilang dari kemarin ke mami sayang, jangan nagis lagi ya mami jadi sedih".
"Kenapa mereka datangnya sekarang?".
"Gak boleh gitu sayang", Nesya juga menangis.
Mungkin maksud Elvan kenapa gak dari dulu di saat dirinya merasa sulit merasa sendiri, tidak ada satupun orang yang perduli padanya.
Kemana pihak dari ibunya dulu, Elvan tau mama nya sudah tidak ada belum lama ini, padahal sudah lama dirinya cari semampunya.
Nesya merasa perihatin kenapa anak sekecil Elvan harus menanggung cobaan se berat ini.
.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1