JODOH YANG TIDAK TERDUGA

JODOH YANG TIDAK TERDUGA
Ngegas. Ngancem.


__ADS_3

Elvan termenung menatap banyaknya orang mengucapkan turut berdukacita, melihat mami nya yang tidak berhenti menangis dari tadi malam.


Kakek Ardi, kakek kesayangannya kini telah meninggalkannya, seperti mimpi padahal baru kemarin dirinya dari sana, sekarang sudah sangat sibuk yang membuatnya jarang ada waktu.


Kakek kemarin bilang padanya ingin menyaksikan dirinya wisuda yang tinggal beberapa bulan lagi.


.


Setelah pulang dari pemakaman Elvan mengurung diri di kamar, sulit melupakan kenangan dengan peria tua itu.


Peria tua orang yang pertama membuat dirinya merasa layaknya menjadi cucu pada umumnya.


Peria tua yang selalu memberikan waktu untuk bermain dengannya.


Kakek Ardi selalu menasehatinya agar tidak membenci siapapun di masalalu yang sudah begitu suram.


Rasa kehilangan yang tidak bisa Elvan alihkan dengan apapun, andai nyawa bisa di tukar.


.


Nesya sudah lebih mengikhlas kan.


"Elvan mana mas?".


"Dari siang dia mengurung diri", Daddy Gavin juga bingung hrus dengan cara apa bicara dengan anaknya, sadar dan paham seperti apa perasaan Elvan sekarang.


"Aku ajak makan dia dulu ya".


Langsung berjalan ke arah dimana kamar Elvan.


"Sayang makan yuk".


"Mami duluan aku masih kenyang".


"Mau sampai kapan Van, mami juga merasa kehilangan tapi kita harus ikhlas sayang".


"Iya mih aku tau, aku hanya ingin sendiri aku butuh waktu sendiri dulu tolong jangan ada yang masuk kesini".


"Boleh sayang, mami paham, jangan lama lama ya kakek pasti sedih kalau kamu kaya gini terus".


Aku merasa hidup setelah bertemu kalian, aku mendapatkan pelukan hangat setelah ada kalian, batinnya.


.


.


Seminggu setelah kepergian kakek.


Di hari libur Elvan masih betah di dalam kamar, kemarin 2 hari juga sekolah, hanya benar benar sekolah bahkan tidak mengurusi apapun semuanya di serahkan ke anggota osis yang lain.


Masih sangat sulit menerima semuanya.


Keluar dari kamar, di luar sudah banyak orang, seperti biasa perkumpulan para sahabat supaya sedikit menghibur mami Nesya.

__ADS_1


"Van sini, udah makan?", aunty Alana yang selalu perhatian.


"Nanti saja", cih di sana ada Rena juga.


Sudah 2 minggu musuhan sama Rena juga.


"Mau kemana?", tanya Nesya.


"Dapur mih", masuk ke dapur mengambil botol minum dari lemari pendingin.


"Lo kalau gak suka sama gue ngomong biar gue pulang", Rena menaruh piring di tempat cucian.


Rumah besar itu sudah seperti rumah 10 keluarga siapapun bebas disana.


"Gue gak ngomong gitu", Elvan melirik tajam.


"Lirikan lo seolah berucap seperti itu".


"Cih serah lo".


Dengan sengaja Rena menyipratkan air cuci tangan ke badan Elvan membuat laki laki itu murka.


"Renaaaaaaaa", teriak Elvan, menggema seisi rumah.


Dengan cepat Rena lari keluar dari dapur.


"Ngapain lo lari, ke ujung dunia juga bakal gue cari".


"Kenapa sih Van?", Raya kebingungan sebab dirinya juga niat mengambil piring ke dapur jadi kaget mendengar teriakan pemuda ini.


"Tadi lari keluar".


"Lihat bajuku basah gara gara si cebol".


Bukanya kasihan Raya malah tertawa, "Kamu ini di ciprat air aja sampai marah segitunya apalagi kalau pacar di tikung orang".


"Tante gak lucu".


.


Elvan memutari rumah, tidak akan membiarkan wanita itu lolos begitu saja.


"Ohhh lo disini", bersedekap dada.


Ternyata Rena ada di taman belakang dekat kolam ikan.


"Iyalah, sini liat ikan biar gak sedih terus", seolah tidak terjadi apa apa sebelumnya.


"Lo sudah bikin baju gue basah tapi gak minta maaf, ck dekat lo selalu saja sial".


Secepat kilat Elvan menarik Rena, kepala Rena di apit ketiaknya.


"Aaaaa bau kak".

__ADS_1


"Sumpah bau banget lo belum mandi".


"Ya mandiin", ucap Elvan.


"Hahahaaa udah gak sedih kan, gak enak muka lo udah dingin, masam tambah sedih terus hihh".


"Lo itu benar benar ya", kesal tapi ada benarnya juga.


"Mandi yuk", jebur mereka masuk ke kolam ikan, badan Elvan yang tidak seimbang di tarik Rena langsung tumbang.


"Renaaaaaaa".


"Apa sih kak teriak teriak terus".


"Awas lo ya kalau ikan ikan gue mati lo ganti rugi".


"Hahahaa ada Daddy sama mami yang beliin lagi".


Mereka sama sama naik ke pinggir kolam, muka Elvan sedikit panik takut ikannya mati, kesal marah juga sama Rena.


Greppp, Rena memeluk Elvan.


"Jangan marah dulu gue mau pamit".


Hahhh maksudnya, Elvan terdiam membiarkan Rena memeluknya.


"Gue mau pindah sekolah hehee".


"Sengaja gue isengin lo kak, mungkin ini terakhir kalinya, gue mau pindah sekolah biar gak bikin lo kesal dan merasa selalu apes kalau ada gue".


"Siapa yang ijinnin lo pergi".


"Mama papa udah ijinnin, gue mau bisa lupain lo kak".


"Gue gak ijinnin lo pergi cebol", Elvan mendorong Rena ke kursi yang ada di sana.


Mata Rena sudah mengeluarkan air nya.


"Kalau satu sekolah terus sama lo gue gak kuat sakit hati terus terusan ngeliat lo dekat sama cewek lain".


"Ck otak minim lo ini, lo gak boleh pindah sekolah atawpun pergi ingat itu, gue bisa lakuin apa saja kalau lo benar benar pergi".


Elvan meninggalkan Rena yang terduduk di kursi taman, entah apa maksudnya Elvan, Rena jdi bingung maunya apa laki laki ini, di dekatin ngegas di tinggalin ngancem.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading❤❤❤❤


__ADS_2