
Nesya merasa tidak enak hati karena membiarkan mertuanya menunggu di meja makan.
"Selamat malam Mah, Pah, maaf ya kami telat, mas Gavin juga baru mandi sebentar lagi turun".
"Gak apa apa sayang, ayo ambil mau makan yang mana?, makan yang banyak ya biar baby nya embul".
"Setiap hari Nesya makan banyak terus hahaa, badan juga udah mulai ngembang ini".
"Gak apa apa namanya juga lagi hamil, gak usah takut gendut sayang makan makannan sehat".
"Iya mah, Nesya nggak takut gendut ko".
Perhatian mertua pada menantunya, sudah seperti ke anak kandungnya sendiri.
"Elvan mau makan yang mana sayang?, ini cucu oma juga udah bulet pipinya, badannya mulai isi Mami masak nya enak terus ya sayang", mengelus kepala cucunya.
Kalau lagi kaya gini, ada rencana mau berhenti kerja, mama Diana dari kemarin kemarin sudah memikirkan akan berhenti kerja, ingin menghabiskan waktu di rumah, menjadi ibu rumah tangga yang tidak pernah dirinya rasakan semenjak menikah, banyak punya waktu untuk anak cucu.
"Iya juga ya Oma, Opa baru sadar dia mulai isi badannya, di kasih makan apa Nes?".
"Makan nasi Pah hahaaa, kemarin kemarin susah banget di suruh makan nasi, malah suka di singirin bekal sekolah juga gak pernah habis".
"Mami suka ngambek kalau gak abis", cemberut Elvan.
"Itu tandanya mami sayang banget sama Elvan takut Elvan laper, takut sakit iya kan mih", mama Diana sedikit tau tentang cucunya meskipun tidak merawat dengan tangannya.
"Nah oma betul sayang, mami mau kamu sehat dan embul hahahaa".
Semuanya tertawa, sementara Gavin yang baru sampai ke meja makan itu merasa bingung.
Tapi laki laki itu tidak ambil pusing langsung duduk di tempatnya, piring makannya sudah di isiin Nesya.
Mereka semua makan tidak ada suara selain sendok garpu dan sesekali suara mama Diana menawarkan makannan ke suami anak dan cucunya.
Selesai makan semuanya berkumpul di ruang keluarga, Elvan juga langsung masuk ke tempat mainnan nya yang masih sama di ruangan itu.
"Vin tadi mama menjenguk mereka", ucap mama Diana.
"Iya terserah mama kalau hanya sesekali gak apa apa, yang penting mama aman tidak terluka atau lecet karena ulah mereka", muka Gavin kembali serius.
__ADS_1
Sudah tau dan bisa di pastikan siapa yang mamanya bilang mereka, pasti om tante dan sepupunya yang mendekam di penjara.
"Masya Allah mama bahagia banget sayang, kamu masih perhatian sama mama".
"Sejak kapan aku membenci kalian, aku dari dulu hanya benci waktu, waktu kalian yang tidak pernah ada untukku".
Nesya mengelus tangan Gavin, suaranya lumayan tinggi dan sudah mulai bergetar.
"Elvan sayang bawa mainnan nya ke kamar ya minta di temani embak dulu, nanti mami temennin bobonya", Nesya dengan cepat menyuruh Elvan agar menjauh.
"Iya mih", anak itu menurut, padahal sudah terbiasa mendengar teriakan cacian dan makian dari semenjak masih bayi.
"Anak mami pintar, tunggu mami di sana ya".
Dengan cepat Elvan keluar dari ruangan itu.
"Maaf dari mama sama papa memang tidak bisa mengembalikan semuanya Vin", papa Aditya mengusap wajahnya, merasa sangat gagal menjadi orang tua, Gavin seperti ini juga karena kesalahan cara mendidiknya.
"Ya, semuanya tidak akan kembali, hidup kelam suram sepi itu yang aku rasakan, mungkin jika kalian sebentar saja membagi waktu dan mendengarkan ceritaku sesekali, tidak akan ada Elvan di dunia ini".
Nesya semakin mengelus punggung laki laki itu.
"Iya papa mengaku salah, kami mengaku salah, papa sama mama pikir anak akan bahagia jika bergelimang harta, mau membeli apa uang selalu ada".
"Kesalahan dan kekacawan yang aku buat dengan sengaja, awalnya untuk memancing kalian ada di dekatku, hahaa tapi tetap mama sama papa tidak berpihak padaku".
"Maafkan mama sayang maaf, harus dengan apa mama menebus semua kesalahan dan semua waktu yang sudah hilang".
"Hidupku sekarang sudah lengkap mah, awalnya aku benci karena papa selalu mengaturku dalam segi apapun, tapi sekarang aku sadar karena papa sudah menghadirkan Nesya di hidupku".
"Iya mama berterimakasih sama Nesya yang sudah sabar bahkan bisa menyatukan kamu dengan Elvan".
"Mungkin jika tidak ada Nesya masuk ke dalam hidupku, sudah ku pastikan ketiga manusia itu mati di tanganku".
"Aku juga tau papa selalu menyembunyikan perempuan gila dan laki laki bajingan yang sudah semakin membuat hidupku bertambah hancur".
"Papa hanya tidak mau kamu menjadi pembunuh Vin, bukannya papa tidak ikut benci dan marah sama mereka yang sudah menghancurkan hidup anak semata wayang papa".
Gavin mengangguk sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
"Sudah ya jangan ada rasa saling benci dan tidak suka lagi, mas kamu harus bisa memaafkan mama sama papa, kamu sebagai anak yang harus meminta maaf dan berterimakasih sama mereka", ucap Nesya dengan lembut.
"Semuanya harus di jadikan pelajaran, mungkin jika jalannya tidak seperti ini kita tidak akan bertemu mas".
"Kamu tau gak mas, kalau gak gini jalannya, aku yang menyesal lho gak punya suami kaya raya, baik banget meskipun banyak nyebelinnya, ya meskipun agak tua dikit umurnya dari aku sih, tapi gak apa apa masih terlihat oke dimataku, terus aku gak punya mertua sebaik mama sama papa deh", ucapnya terkekeh.
Dih Gavin sudah siap meneteskan air mata terharu, mendengar kata tua, baik tapi nyebelin kaya raya, kalau bisa sudah iya karungin.
Ketiganya yang tadinya merasa terharu ujungnya terkekeh juga, punya menantu seperti Nesya memang setiap ucapannya di luar prediksi mbak jamilah.
"Sya kalau mau muji ya muji saja, jangan ada kata tua dan menyebalkan juga".
"Emang kamu menyebalkan, aku masih ingat gara gara telat 2 menit di suruh ngerjain tugas segunung, tau gak sampai kamu itu aku kutuk jadi apa?".
"Mana saya tau kalau gak di kasih tau".
"Jadi suami aku lah, heuhh kan lumayan kalau ada tugas di bantuin, indah banget kan hidupku, punya suami dosen ganteng, kaya raya jangan di tanya lagi semua orang sudah tau meskipun mukanya 11 12 sama es balok".
"Kau ini ya", Gavin menyentil kening Nesya karena gemas.
Nesya menatap Gavin dengan lembut, memegang tanganya, "Minta maaf sama mama papa, mereka orang tua terhebat buat kamu mas, mereka sudah membentuk kamu menjadi laki laki yang kuat dan mandiri".
Haihh Gavin bukan tidak mau meminta maaf dan berterimakasih, rasa malu dan gengsi mengalahkan segalanya.
"Ayo dong mas, Nesya tau mama itu pengen banget di peluk kamu".
Haihhh Gavin menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Bangkit dari duduknya berjalan mengelilingi meja "Mah pah, maaf", bibirnya berat untuk mengucapkan kata maaf, memeluk mama Diana.
Tangis ke tiganya pecah, mau sebesar apapun anak bagi orang tua ya tetap anak, hanya saja cara didik dan memanjakannya salah.
Nesya juga ikut menangis terharu melihat ketiganya menangis.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤