
Nesya sangat kaget kenapa namanya sekarang ada embel embel Matthew, makannya sampai tersedak.
"Makan nya hati hati Sya".
Gavin menyodorkan minum dan mengelus punggung Nesya dengan pela, dengan cekatan juga mengambil tisu untuk mengelap mulut hidung dan air mata Nesya.
Makan pakai sambal pedas dan tersedak rasanya lumaya panas menjalar ke hidung dan tenggorokan juga.
"Minum lagi, udah legaan belum?", tanya Gavin.
Nesya mengangguk menutup mukanya dengan tissue.
"Hati hati makan nya, jangan banyak banyak makan cabe Sya gak baik buat kesehatan kamu".
"Iya mas iya, ini juga gara gara kamu sih".
"Salah saya dimana?".
"Kenapa namaku pakai embel embel Matthew sih".
"Ya memang begitu keadaan nya kan, menurut saya itu bukan hal yang salah ko".
"Iya deh iya mas kamu yang selalu benar dan menang aku yang selalu kalah sama salah".
"Hahaha udah mendingan kan yuk makan lagi".
Nesya tertegun mendengar dan melihat Gavin tertawa, ini momen yang sangat langka bahkan kemungkinnan besar semua mahasiswa dan dosen yang ada di kampus ini belum pernah mendengar dan melihat Gavin tertawa.
Mereka berdua makan dengan tenang, tidak ada obrolan selama makan.
"Kamu mau langsung pulang?", tanya Gavin.
"Iya mau ngurus anak di rumah", sengaja Nesya memancing Gavin.
__ADS_1
Benar saja Gavin mendengar kata anak langsung membuang muka malas.
"Mas", panggil Nesya.
"Iya Sya", Gavin menatap lurus istrinya.
Nesya bangkit dari duduknya dan pindah mendekat pada Gavin.
"Kalau aku tanya sesuatu apa kamu akan marah?".
Gavin sedikit tersenyum mengelus kepala Nesya dan menggeleng, "Tanya apa yang ingin kamu tau, akan saya jawab".
"Maaf banget maaf ya kalau aku terkesan lancang, kenapa hubungan kamu dan Elvan sepertinya tidak baik baik saja, tidak seperti ayah pada anaknya".
"Pulang yuk akan saya ceritakan di rumah semuanya, tapi ke kantor sebentar mengambil berkas yang harus saya kerjakan", meski sangat terlihat dari mukanya kalau Gavin enggan membahas itu semua namun Gavin juga sadar bahwa dalam 1 pernikahan yang utuh dan harmonis kuncinya adalah saling terbuka dan saling percaya.
Kemarin sudah mendapat ceramahan penuh 1 jam dalam tlpon dari Mama dan Papanya.
"Gak keberatan kan, kita mau memulai semuanya kan ayo saling terbuka", Nesya mengelus tangan kekar Gavin.
Blush pipi Nesya memerah, apa tadi katanya sayang huwaaaaa ini kali pertamanya Gavin bicara dengan manis padanya.
Nesya berusaha menetralkan diri, "Mas ini kampus gimana kalau ada yang liat ihh".
"Akan saya congkel mata mereka, tidak masalah juga kan sudah halal".
"Kamu sih enak nah aku pasti di serbu fans gila kamu".
"Akan saya bunuh mereka jika menyakitimu".
"Gak ada lucu lucunya pembicaraan kamu mas", kesal Nesya.
"Asal kamu ingat saya bukan komedian".
__ADS_1
"Tau ah ada terus jawaban kamu itu".
"Pulang pakai mobil saya aja ya".
"Mobil aku gimana dong mas, kamu ke kantor aja sana habis itu pulang".
"Taro di sini gak bakalan hilang, besok juga masuk kampus lagi kan".
"Besok gimana anterin Elvan sama aku berangkat ke kampus".
"Dia sudah di sediakan sopir dan pengasuh, kamu ya sama saya".
"Dia anak kamu loh jangan suka kejam sama anak sendiri mas", Nesya mencubil pinggang Gavin.
"Aww sakit kau ini ada ada saja".
"Biarin habisnya ngeselin".
"Ayo pulang ikut saya aja".
"Pemaksa".
"Terserah saya".
Gavin langsung mengambil tas laptop dan ponselnya, berjalan ke arah pintu namun Nesya masih duduk diam tidak bergeming.
"Sya apa mau saya gendong".
Hihhh ngeselin banget ni dosen, Nesya berjalan lebih dulu dari Gavin, dirinya sampai ke luar gerbang di pinggir jalan, sebab parkiran adanya di belakang jadi lebih dulu Nesya yang keluar.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤