
Gavin keluar dari ruang meetingnya sudah lewat jam 2 siang, dirinya dengan santai masuk ke dalam ruangannya, siapa yang bawa ini ke ruangan gue sih, monolognya, melihat bingkisan yang tadi Elvan bawa dari sekolah.
Ini juga apa awas aja kau Mar mengotori ruanganku dengan sampah ini, mengumpat sekertarisnya, ehhhh astaga Gavin baru ingat kalau dirinya tadi tidak sendiri.
"Gue sampe lupa kalau ada istri dan anak, tapi mereka kemana ya", sayup sayup terdengar suara dari ruangan yang biasanya dia pakai untuk istirahat atau menginap di perusahaan.
Berjalan dengan pelan masul ke ruangan yang ada suaranya, setelah membuka pintu dengan sempurna Gavin tersenyum, pemandangan yang menyejukan mata dan hatinya, ternyata Nesya dan Elvan tidur namun tv masih nyala.
Cup Gavin mencium pipi Nesya sampai Nesya terbangun.
"Mas udahan?", dengan pelan menaruh kepala Elvan ke bantal, tangannya terasa kebas dan sakit.
"Udah, sini saya pijat".
"Sakit juga kalau lama lama ya".
Gavin mengangguk, "Sudah makan?", tanya nya sambil terus memijat tangan Nesya.
"Belum kita tungguin mas".
"Kenapa tidak makan saja ini sudah lewat jam makan Sya", ada sedikit terdengar khawatir dari ucapan yang Gavin keluarkan.
"Elvan juga mau tungguin kamu aja katanya kasian Daddy kerja terus capek", bohong untuk kebaikan tidak apa apa lah pikirnya.
"Yaudah makan yuk".
"Kasian kalau di bangunnin lagi anteng kaya gitu", Nesya menunjuk Elvan yang sedang tidur pulas.
"Terus kalian belum makan siang mau sampai kapan?".
"Tunggu sebentar lagi ya", Nesya mengelus rahang suaminya dengan lembut, meskipun belum ada rasa cinta tapi Nesya tetap meyakinkan dirinya bahwa Gavin memang benar jodoh yang tidak terduga yang Allah kirimkan untuknya.
__ADS_1
Cup Gavin menyatukan bibirnya, rasanya sama seperti semalam benar benar membuatnya candu.
"Jangan di sini ke depan yuk", bisik Gavin.
Sebejat apapun dirinya kini berpikir untuk tidak memberi contoh buruk pada Elvan, meskipun dirinya belum bisa sepenuhnya menerima anak ini.
"Mau apa?", Nesya menyengit bingung.
"Makan kamu".
"Jangan mesum ingat ini kantor ada anak juga".
"Cih pengen banget di mesumin".
"Tadi apa main sosor aj, hayooo ngaku", Nesya mencolek pinggang Gavin, memang benar jika suami kaku dan galak harus punya istri yang bawel juga jail.
"Kau ini", Gavin membuang muka, memang sebenarnya dirinya mau minta yang lain.
"Sini duduk", menyuruh Nesya duduk di pangkuannya.
"Gak mau ah takut ada yang kepancing hahahaa".
Ya jadi istri gue memang harus pintar, batin Gavin, Nesya selalu mempunyai jawaban yang membuatnya tidak bisa berkata kata lagi.
"Sya".
"Hmmm apa mas".
"Manggil doang", Gavin berjalan mengambil laptopnya setelah itu dia duduk lagi di sopa.
"Gak pantas kalau kamu yang jail mas".
__ADS_1
"Saya pantasnya apa?".
"Jadi diri sendiri tapi gak galak juga apalagi sama anak dan istri".
"Saya tidak galak sama kalian".
"Iya dua hari ini sudah gak galak lagi".
"Pawangnya kamu".
"Yeayyy berarti aku pintar ya mas".
"He'em".
"Dihhh gak ikhlas banget sih jawab pertanyaan istri".
"Serba salah saya di mata kamu Sya".
"Mihhhh", panggil Elvan yang baru saja bangun di dalam kamar sana.
"Jadi anak Mami ya dia sekarang bukan anak Oma Opa lagi".
"Anak Daddy dan Maminya ingat itu", Nesya bangun dari duduknya menghampiri Elvan.
Salah ngomong ya gue, batin Gavin, walawpun tangan otak dan matanya pokus pada laptop namun mulutnya masih bisa bicara dengan Nesya.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤