JODOH YANG TIDAK TERDUGA

JODOH YANG TIDAK TERDUGA
Pijat atau Kerok


__ADS_3

Setelah tangisan reda dan kini sama sama tidak merasakan beban perasaan, tidak merasakan ada yang kurang.


"Mama tadi mau bilang apa?".


"Iya Vin hampir mama lupa, Raya nitipin surat buat kamu, dan dia hanya bilang, katanya kamu harus lebih hati hati".


"Apa lagi yang dia mau mah, Gavin sudah bertahun tahun membebaskannya dan berkali kali juga memberikan peringatan, sayang sekali mereka terlalu menikmati kebebasan itu sampai akhirnya lupa kalau membuat bumerang kehidupannya sendiri".


"Tante kamu gak banyak bicara tadi, dia lebih banyak diam sepertinya mereka menyesal, ini suratnya baca sendiri", mama Diana menyodorkan surat yang Raya buat tadi".


"Nanti akan ku lihat".


"Yaudah mah pah, mas Nesya ke kamar Elvan dulu ya sudah malam, udah janji mau nemennin tidurnya".


"Iya sayang, maaf ya sayang anak itu selalu merepotkan dan sering menuntut apa apa ke kamu".


"Nesya malah bersyukur mah, dia mau bergantung sama Nesya, jadi merasa di anggap ibu dan di butuhkan, gak repot sama sekali ko".


Jawaban Nesya membuat ketiganya tersenyum, Gavin yang benar benar merasa paling bahagia.


"Nesya ke atas duluan ya takut ngambek kalau gak tepat waktu", ucapnya terkekeh.


Memang biasanya anak itu cemberut kalau Nesya pulang ngampus tidak tepat sama waktu yang sudah di janjikan.


"Nesya terlalu memanjakannya juga", ucap Gavin setelah Nesya keluar.


"Bersyukur sayang, di luaran sana banyak ibu sambung yang tidak mau dekat apalagi merawat anak sambungnya".


"Ya kadang saking sibuknya mengurus Elvan dia lupa denganku mah".


"Hahaa sebentar lagi dia besar ko Vin, nanti setelah ada adiknya dia juga mengalah", ucap papa Aditya sambil tertawa.


"Sudah pasti semakin repot", Gavin mengusap wajah mengguyar rambutnya, akhhh membayangkan nya saja sudah pening.


Anak 1 aja kelihatan banget lebih banyak menghabiskan waktu dengan Elvan, hanya pas anak itu tidur saja dirinya baru bisa berduaan dengan Nesya.


Apalagi anak 2 yang satu tidur yang satunya lagi nggak, haihhh pening juga mikirin seperti itu padahal dirinya sendiri yang ingin punya anak banyak.

__ADS_1


Mama Diana juga ikut terkekeh melihat muka Gavin yang masam.


"Sudah istirahat sana sayang kamu pasti capek".


"Memang kelihatan banget ya mah".


"Banget seperti sedang ada yang di pikirkan".


"Banyak yang Gavin pikirkan mah", berusaha tersenyum.


"Jangan mikirin yang aneh aneh sayang apalagi mikirin yang belum tentu itu terjadi".


"Yaudah Gavin ke kamar dulu".


Keluar dari ruangan keluarga itu sambil menimang nimang surat dari Raya.


Apalagi ni bocah, jangan bilang surat gak berguna kaya kemarin kemarin, bisa mgamuk ibu negara, haihhh kalau baca semdiri juga nanti salah paham.


Sambil menaiki tangga Gavin bicara sendiri.


Bukannya masuk ke dalam kamar mereka, tapi bapak bapak itu malah melimpir ke kamar anak nya.


"Daddy hahaa", tawa Elvan, padahal matanya sudah terpejam.


"Hussst jangan berisik boy tidur sudah malam".


"Mami sama adek yang kejepit, pada kenceng banget peluknya".


"Sorry mami adek", Elvan mengendurkan pelukannya.


"Maaf sayang", bisik Gavin dengan lembut, tangannya mengelus perut Nesya.


Tangan Nesya mengelus kepala Gavin sebentar, "Abang bobo yuk sudah malam besok sekolah".


"Iya mih", patuhnya, langsung tidak banyak gerak lagi dan memejamkan mata".


Tidak lama terdengar dengkuran halus dari anak itu, pelukan pada ibunya juga semakin mengendur.

__ADS_1


"Cepet banget dia tidurnya mih", bisik Gavin, pasalnya belum ada 5 menit Elvan sudah terbang ke alam mimpi.


"Capek dia sudah terlalu banyak mikir hari ini Dadd".


Gavin menatap tidur pulas anaknya.


"Maafkan Daddy ya, maafkan semua kesalahan Daddy di masalalu, Daddy menyayangimu boy dan akan menebus semua kesalahan juga waktu yang sudah di sia siakan", Gavin mencium kepala juga telapak tangan Elvan.


Nesya mematikan lampu menggantinya dengan lampu tidur, mencium kening dan mengelus kepala Elvan dengan sayang.


"Bobo nyenyak jagoan mami kesayangan mami".


Setelah memastikan Elvan aman dengan tidurnya, Nesya dan Gavin keluar dari kamar Elvan.


Setelah masuk kedalam kamar, Nesya mengganti bajunya dengan baju tidur, kali ini tidak ada rasa malu mengganti baju di hadapan Gavin.


"Sya sengaja banget kamu menggodaku", geram Gavin.


"Bukan menggoda mas, kan gak apa apa di hadapan suami ini, kamunya aja yang cepat terpancing".


"Akhhh kalau tidak ingat kata dokter", Gavin membantingkan badannya ke kasur, membuat Nesya terkekeh.


Gila Nesya semakin kesini semakin berani dan terang terangan, sudah tau gue paling tidak tahan, batin Gavin.


"Mas buka dong suratnya aku mau lihat", bisik Nesya sambil memeluk Gavin dari belakang.


"Kepalaku pening Sya".


"Sini aku pijitin, atau mau di kerok kaya Ayah, aku sering ngerokin ayah kalau masuk angin".


Huwhhb gak peka banget kamu Sya, Gavin semakin nelangsa.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤❤


__ADS_2