JODOH YANG TIDAK TERDUGA

JODOH YANG TIDAK TERDUGA
Belum Siap


__ADS_3

Nesya lama berpikir, ada banyak yang harus iya pertimbangkan, dan banyak yang iya tidak tau dari suaminya ini.


"Jangan lama lama mikirnya", Gavin menyentil kening Nesya.


"Hihh pak Gavin sakit", mengusap keningnya yang terasa panas.


Cup cup cup Gavin menghujaninya dengan kecupan pas di tempat tadi yang iya sentil.


"Sudah tidak sakit kan".


"Aku ijin pulang ke kontrakan ya ini sudah malam", ucap Nesya.


"Tidak akan saya ijinkan sampai ayam beranak juga", apa apan niat Gavin minta jatah malam ini, malah Nesya ijin pulang padanya, "Tidur di sini dengan suami apa susahnya".


"Tangan mau kemana lagi ini?", tanya Nesya karena tangan Gavin sudah merayap dan sedikit menyibakan kaosnya.


"Mencari mainnan", sekali paksaan bahkan kaos yang Nesya pakai sudah menyibak ke atas menampilkan dua gunukannya dengan nyata.


"Pak Gavin maluuuuu", Nesya langsung mengambil bantal menutupinya.


"Hanya ada kita", bisik Gavin menggigit kuping Nesya.


"Hihh sakit tau", sebenarnya lebih ke bukan sakit tapi geli.


"Boleh", tanya Gavin lagi dengan sedikit serak.


Nesya menggeleng, jujur untuk ke tahap yang lebih dari ini dirinya belum siap.


"Kenapa masih belum percaya hem".


Nesya menggeleng lagi, "Belum siap".


"Mau kapan siapnya, saya peria dewasa bahkan kamu tau sendiri kan".

__ADS_1


"Tunggu aku meyakinkan diri dan siap ya pak", melas Nesya.


"Ya saya akan tunggu sampai kamu siap, ganti panggilanmu itu saya bukan bapakmu".


"Apa yang cocok masa panggil Mas hihh geli juga", Nesya menggeridik panggilan itu sangat menggelitik hatinya.


"Itu lebih bagus daripada pak".


"Hihh tangan nih geli", Nesya mengeliat.


"Biasakan Sya", ucap Gavin sambil menatap dalam manik mata istrinya.


Kemana saja aku ini ternyata istriku cantik manis mungil juga, batin Gavin.


"Jangan liatin terus".


"Liatin istri sendiri bebas, memangnya saya boleh liatin janda".


Cih Nesya memalingkan wajahnya, tadi baru saja janji mau mulai semuanya ini belum apa apa udah mau liatin janda.


"Appp", belum sempat mengeluarkan kata sudah Gavin bungkam bibirnya.


Ciuman Gavin sangat lembut dan menuntut, membuat Nesya sampai melengguh.


"Bisa gak kalau mau cium bilang bilang dulu", ucap Nesya setelah ciuman mereka terlepas karena sama sama kehabisan napas.


"Kalau bilang gak bakal mau kan".


Hihhh tau aja jawaban hati gue, batin Nesya.


"Apa yang saya tidak tau tentangmu".


"Pak Gavin punya indra ke 11 ya bisa baca pikiran orang".

__ADS_1


Gavin menindihi Nesya, "Mau sekarang langsung apa ubah panggilan".


"Iyaa iyaa maaf".


"Maaf apa?".


"Maaf mas Gavin, suami plus dosen galak menyebalkan, tukang marah tukang ngasih tugas setumpuk".


"Tukang apa lagi", Gavin duduk dan bersedekap dada.


"Tukang maksa", ehhhh mampus gue hihhh ngeri banget tatapannya.


"Ada lagi?".


"Hehehee nggak".


"Bagus", Gavin turun dari ranjangnya berjalan membuka pintu dan keluar dari kamarnya.


Ehhh Nesya gelagapan masa iya cuma gara gara di bilang gitu doang dia ngambek, hihh udah kaya anak kecil aja.


Nesya membenarkan pakaiannya yang sudah tidak pada tempatnya, mondar mandir di kamar bagaimana cara membujuk bapak bapak anak 1 yang sedang ngambek.


Hihh pusing juga lama lama duduk di sopa memainkan ponselnya, lama lama bosan.


Memikirkan lagi bagaimana cara membujuk Gavin jika benar dia marah, buktinya ini sudah mau jam 10 laki laki itu masih belum masuk kamar lagi.


Karena merasa lelah, Nesya membaringkan badannya di sopa matanya sudah mulai ngantuk.


Hampir jam 12 malam Gavin baru selesai mengerjakan pekerjaan nya, bukan hal yang mudah mengurus perusahaan dan sekaligus menjadi dosen, Gavin tidak bisa lepas tangan begitu saja sebab kampus itu titipan dari kakek nya yang harus dia jaga dan kembangkan.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2