
Elvan mengusap mukanya dengan kasar, Astagfirullohalazim gila banget bisa bisanya punya pikiran kotor kaya tadi.
"Gak asik lo kak", cemberut Rena.
"Istigfar Rena lo masih bocil pikirannya, jangan kebanyakan nonton yang gak jelas makanya, pikiran lo itu kotor banget".
"Suapin", rengek Rena.
"Lo punya dua tangan kan".
"Lemes belum makan dari pagi".
"Manja".
"Manja sama kamu gak apa apa dong".
"Gue bukan siapa siapa lo asal lo tau itu".
"Sekarang kakak kelas, 2 tahun kedepan jadi kk di negara dan agama dalam kehidupan gue".
"Nih gue suapin".
Dengan telaten Elvan menyuapi Rena makan sampai habis tidak tersisa.
Tentunya dengan segala ancaman yang Elvan lontarkan untuk Rena agar makan nya habis.
"Kenyang banget kan".
"Makannan gak boleh di buang Na, banyak orang di luaran sana yng membutuhkan makan".
"Siap suami hehee".
"Stres".
"Bisa gak sih kalau gak kasar, aku juga mau di lembutin kak".
"Lo kalau di lembutin gue yakin tingkah lo ini lebih gila".
"Aku habis minum obat mau tidur, temennin sini naik kak takut".
Astagfirulloh yang benar saja ni anak nyusahin mulu.
__ADS_1
"Gue tidur di sopa lo tidur di sini".
"Janji gak tinggalin".
"Iya cebol", tekan Elvan, "Sudah lo tidur istirahat berenti ngoceh nya".
Rena tidak langsung tidur, matanya masih merem melek takut di tinggalin pas lagi tidur.
Terpaksa Elvan mendorong sopa di dekatkan dengan ranjang Rena, tangan nya di pegang tidak lama lagi langsung tertidur.
Dasar Cebol decih Elvan.
.
.
Jam 5 pagi Elvan sudah bangun, karena Rena tidak mau di tinggalkan dari tadi malam, dirinya melaksanakan shalat pun di ruang rawat Rena.
Masya Allah banget kan gimana Rena gak tergila gila dengan pesonanya yang luar biasa, Elvan tidak pernah meninggalkan 5 waktunya, bahkan di sekolah juga laki laki ini jika sudah waktunya akan langsung ke mushola yang sudah di sediakan pihak sekola.
.
Gak tau gimana nanti kalau lo udah punya pilihan sendiri bisa gila gue.
"Ngapain liatin terus?".
"Nggak hehehe".
"Gimana lo udah mendingan?".
"Udah gak sakit sih lumayan".
"Makanya makan itu di jaga, besok besok gue suruh tukang kantinnya gak ngadain cabe sekalian".
"Gak gitu juga, yang lain juga kan gak enak kalau makan bakso gak pake cabe".
"Ohh atau kalau gak lo sekalian gue kasih cabe sehari sekilo habisin".
"Nyuruh aku mati ya".
"Gue gak ngomong gitu, harusnya lo sadar apa yang boleh di makan sama yang tidak boleh di makan, tubuh diri sendiri saja di sakitin cih".
__ADS_1
"Ya gimana gue lagi sakit hati, liat lo berduaan di perpus dengan enjoy ngobrol sedangkan dengan gue jangankan ngobrol natap aja kayanya malas".
"Dia teman kelas gue Rena".
"Apa salahnya gue di jadikan teman atau apake, susah banget buka hati buat gue padahal udah dari tk kita kenal".
"Lo itu terlalu terobsesi dengan gue, gue gak sebaik yang lo tau, gue juga bukan manusia yang sempurna".
"Ya ya sekarang terserah lo kak, gue juga capek ngejar lo terus dari dulu, tapi gak pernah di anggap sedikitpun".
"Gue udah anggap lo adek".
"Gue bukan mau di anggap adek kak", teriak Rena.
"Jangan teriak kenapasih, ini rumah sakit Rena".
"Bodo amat, pergi lo dari hadapan gue, muak liat muka orang yang tidak pernah bisa ngertiin perasaan".
"Gue akan pergi kalau mama papa lo sudah datang ke sini".
"Serah lo", air mata Rena menetes lagi.
"Makin lancang aja ya, gue lebih tua dari elo".
Bodo amat gue gak perduli, mau lo tua atau kakek kakek bodo, gue mau gak perduli lagi sama lo, gue benci lo, Rena menyampingkan badannya.
Bukannya Elvan tidak tau kalau Rena menangis, mau gimana lagi dirinya gak ada rasa.
Hati Elvan punya pilihan sendiri dan gak bisa maksain untuk suka dengan Rena.
.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤❤
__ADS_1