JODOH YANG TIDAK TERDUGA

JODOH YANG TIDAK TERDUGA
Marah besar


__ADS_3

Setelah meeting, Gavin langsung pergi dan menjalankan mobilnya sendiri, meninggalkan Radit. Radit menjadi khawatir karena ia ditinggal bosnya. Kendati mobil dibawa Gavin, Radit tetap bisa pulang. Namun ia takut Gavin terjadi sesuatu karena berkendara dengan kecepatan tinggi.


"Ck, bos bos. Ngeri juga kalau lagi cemburu," batin Radit.


Nesya keluar dari kafe tersebut karena hari sudah sore. Nesya memutuskan untuk pulang namun memesan taksi ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil bukunya yang tertinggal di rumah Ayah Ardi.


"Nona," ucap Radit menyapa istri bosnya.


"Eh, siapa? Kok panggil nona sih?" tanya Nesya bingung.


"Saya asistennya Pak Gavin, nona," jelas Radit dengan hormat.


"Oh iya, maaf lupa. Lain kali jangan panggil nona ya, itu sangat berlebihan. Panggil Nesya saja, kak," kata Nesya sambil masuk ke dalam taxi yang ia pesan sebelumnya.


"Itu tidak sopan, Nona," ucap Radit.


"Ahh, terserah kau saja, kak. Bos sama anak buahnya sama-sama tidak mau dibantah dan ingin menang sendiri," gerutu Nesya sambil naik ke dalam taxi.


"Ck, lucu juga istrinya bos. Cantik mungil lagi," ucap Radit tersenyum memperhatikan Nesya yang naik ke dalam mobil sambil menggerutu.

__ADS_1


Namun, Radit langsung tersadar dan mengucapkan astaghfirullahalazim. Ia ingat bahwa Nesya adalah istri bosnya, yang dapat mengakibatkan dirinya diusir dari tempat kerja.


"Tapi aku suka dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan," batin Radit lagi. "Aku suka sama istri bos sendiri? Ahh, gila," ucap Radit sambil mengusap wajahnya.


Gavin baru kali ini pulang jam 6 dan masuk ke ruang kerjanya, membanting pintu dengan keras. Hal tersebut bahkan membuat para art di sana terkejut dan ia terlihat marah.


Hampir setengah jam di dalam ruang kerjanya, namun pikirannya sedang kacau dan ia tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya.


"Hahhhh," Gavin melemparkan gelas di atas mejanya, ia mencoba melampiaskan amarahnya. Namun rasa marah semakin meningkat dan membuat kepalanya sakit.


Setelah satu jam lebih berada di dalam ruangan kerja, ia keluar dari sana dengan kertas berserakan dan pecahan gelas.


"Kemana perempuan itu? Apa dia masih asik ketawa-ketawa dan senyum-senyum dengan semua laki-laki di luar sana? Cih, ******," umpat Gavin geram.


Akhirnya, ia masuk ke kamar mandi untuk mandi dan mendinginkan badan dan otaknya. Hampir setengah jam berada di dalam kamar mandi, Gavin berendam di air dingin.


Keluar dari kamar mandi, Nesya masih belum ada di sana meski jam sudah hampir jam 9 malam. Kilat marah dan benci sangat terpancar dari wajah Gavin.


"Hahaa, pilihan Papa ternyata sama jalangnya dengan pilihan ku," umpatnya.

__ADS_1


Setelah Gavin memakai bajunya dan ingin keluar untuk makan malam, ia menemukan bahwa Nesya baru saja tiba dan ingin masuk ke dalam kamarnya.


Gavin langsung menarik Nesya ke dalam ruang kerjanya dan melemparnya ke atas sofa.


"Darimana saja kau ******?" ucapnya sambil mencengkram rahang Nesya dengan kuat dan menatapnya tajam.


Bukan bantingannya yang menyakitkan bagi Nesya, namun kata ****** yang keluar dari mulut Gavin membuat hatinya nyeri dan hancur.


"Maaf saya telat pulang. Saya tadi mengerjakan tugas Anda dan mengambil buku yang tertinggal di rumah ayah saya," ucap Nesya berusaha membela diri.


"Cihhh, berani sekali kau membohongiku. ****** memang sangat bisa cari alasan," jawab Gavin dengan nada tinggi.


"Sumpah, saya tadi membuat tugas yang Anda perintahkan dan setelah itu mengambil buku yang tertinggal di rumah ayah saya," jelas Nesya berusaha membela diri.


"Saya tidak butuh pengakuanmu. Mau darimana pun terserah kamu," ucap Gavin sambil mencengkram rahang Nesya lagi dan menatapnya tajam.


Nesya akhirnya menuruti perintah bos, meskipun rahangnya sangat sakit. Dikepalkan tangannya dengan erat, ia berusaha menahan rasa sakitnya.


Gavin keluar dari ruangan kerja sambil membanting pintu lagi dengan keras, membuat Nesya terjengkang saking kagetnya.

__ADS_1


Selamat membaca! ❤❤❤


__ADS_2