
Setelah selesai mandi Nesya langsung turun bersama Elvan yang baru saja bangun tidur siang.
"Hai sayangnya Mami, baru bangun ya".
"Hai Mih, iya mami udah pulang?".
"Iya sayang, Daddy juga udah pulang, Oma sama Opa juga ada udah ketemu belum?".
Elvan menggeleng, ya setelah pulang sekolah anak itu langsung masuk ke kamarnya.
"Yuk ke bawah kita liat Daddy masak".
"Daddy masak?", bengong Elvan.
Elvan saja yang kecil tau bagaimana minusnya Gavin tentang dapur atau masak, apalagi para pembantu di sana yang sangat kaget mendengar bos mudanya mau masak.
Kali ini Gavin mengikuti intruksi dari mbak Jumi, biasanya jangankan ngobrol bertanyapun tidak, yang mbak Jumi ingat hanya pernah sekali Gavin bertanya padanya.
"Aduhh saya jadi kaku bu Sanah", bisik mbak Jumi.
Takut salah menyuruh salah intruksi.
"Santai rileks Jum kalau kaya gitu nanti kamu salah", ucap tegas bu Sanah.
Nesya yang baru saja masuk dapur tercengang karena di dapur ada kedua mertuanya juga.
"Mama sama Papa di sini juga?".
"Iya mau bantuin masak tapi Gavin gak mau di bantuin katanya, yaudah kita nonton aja ya Pah hahahaa".
"Ngerepotin banget ya mah".
"Nggak ya memang semuanya harus kebagian sayang, kamu apalagi nanti lebih repot dan capek".
__ADS_1
Huwhhh jujur saja takut gimana nanti dirinya, tapi Nesya bisa menyembunyikannya, itu semua hanya di pendam sendiri.
"Elvan sini sayang duduk sama Oma Opa mami punya kue kemarin bikin".
Nesya mengambil kue buatannya kemarin dari lemari es, langsung memberikan kepada kedua mertua dan anaknya.
Setelah itu langsung mendekat ke Gavin, "Mas capek ya, susah?, maaf ya", menyesal tapi mau banget.
"Gak apa apa Sya, duduk sana aja sama mama papa, saya di bantuin mbak juga ko, ini sayurnya sebentar lagi mateng kata mbak Jumi".
"Mbak Jum, bu Sanah maaf ya ngerepotin, berantakin pastinya".
"Tidak apa apa bu santai saja", ucap bu Sanah dan mbak Jumi.
Keringat Gavin sampai bercucuran saking panasnya, panas dari segala arah.
Membuat sayur kuah bayam campur sama wortel jagung, menggoreng cumi yang sangat menangtang bagi Gavin karena puncratan minyak mengenai tangannya, menggoreng tempe.
Menu yang sangat di sukai Nesya selama ini, Nesya bahkan di bandingkan makan daging lebih baik makan tempe dan cumi goreng, maklum di besarkan dengan kesederhanaan.
Nesya makan dengan lahap ya benar memang menu itu menu kesukaan nya selain ayam geprek.
Gavin menatap Nesya makan lumayan banyak, merasa berhasil kerja kerasnya di apresiasi.
Hanya Nesya yang makan meskipun keluarga itu lengkap di meja makan.
"Vin beli sotonya banyak?", tanya mama Diana.
Entah kenapa tiba tiba mama Diana sama Papa Aditya juga pengen makan soto.
"Banyak kayanya mah, kenapa mau?".
"Iya nih Nesya yang ngidam mama juga ikut ngiler", ucapnya terkekeh.
__ADS_1
Gavin memangku Elvan tangannya terus mengelus kepala anaknya, ini momen pertamakalinya dimana hari kerja semuanya berkumpul di rumah.
Kamu hebat Sya, saya saja sejak kecil tidak pernah mendapatkan perhatian khusus bahkan sedang sakitpun tidak di temani, batin Gavin.
Mama Diana menangkap pandangan Gavin yang begitu tulus pada istrinya.
Maafkan mama Vin, karena ke egoisan mama sama papa kamu bahkan dari sejak bayi sering kami tinggalkan.
Kakek kamu dulu tidak merestui kami nak, sehingga harus kerja keras demi mendapatkan pengakuan bahwa Mama sama Papa bisa hidup dan memberikan kebahagiaan pada keturunnan kami, baton mama Diana.
"Ko sepi ya", ucap Nesya, sebab tadi mereka semua sambil ngobrol.
Hanyut dalam pemikiran masing masing, papa Aditya yang wataknya keras keturunan dari ujung sananya, kini lulu hanya karena menantu polos dan apa adanya.
"Hahaha papa jadi pengen makan juga Nes".
"Gak boleh nanti pas waktunya aja, mama gak ngijinnin".
"Mama kalian itu jangankan papa mau punya istri 2 mau makan saja sering di larang".
"Ingat umur, cucu sudah mau nambah banyak gaya amat".
"Nesya juga gak setuju kalau papa mau nambah istri baru".
"Iya Nes papa cuma bercanda ko, gak berani juga mama sekarang ada pendukungnya".
Nesya dan mama Diana tertawa.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤