
Benny merasa dirinya paling menderita di dunia ini, satupun tidak ada yang berpihak padanya, hari ini niat pamit ke Gavin dirinya akan kembali lagi ke negara rantau nya.
"Gue mau pamit sama elo Vin", ucapnya putus asa.
"Ben gue harus apa?, lo nyalahin gue, gak gini Ben gue tau elo suka sama Nesya kan, tapi dia istri gue, gak mungkin juga gue ngorbannin perasaan gue".
"Gue gak nyalahin elo sumpah, gue gak mungkin merebutnya dari elo, gak segila itu juga, gue sadar memang mungkin ini semua karma juga buat gue yang kotor ini".
"Terus dengan cara elo pergi akan berubah baik semuanya, nggak Ben, gue yakin elo akan menemukan jodoh yang terbaik".
"Elo mau kita kumpul lagi kan, ayo cari Irsyad ".
Gue putus asa Vin, hidup gue sudah hancur berantakan dari gue masih SD sampai umur gue sekarang, rasanya selain elo dan Irsyad gak ada yang berpihak pada gue, gak mungkin juga gue merebut wanita yang gue sukai dari elo yang sudah gue anggap saudara, batin Benny.
"Gue bingung".
"Ben elo mau ninggalin gue lagi sedangkan Irsyad masih belum tau kabarnya gimana, elo berdua jahat banget sama gue, hidup gue juga berantakan setelah dulu kalian pergi".
Gavin menceritakan semua bagaimana kisahnya bagaimana dirinya di tipu, bagaimana adanya Elvan dan bisa menikah dengan Nesya.
Benny yang mendengarkan secara jelas dan detail merasa ter enyuh juga hatinya, kaget pasti sangat kaget, dia rasa hidup Gavin sangat sempurna bahkan sempat merasa iri.
Ternyata hidup mereka dari dulu terus menerus di uji dengan segala cobaan yang datang menghampiri.
"Gue yakin lo bakal mendapatkan wanita terbaik yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan elo, gue tau elo, gue kenal elo yang begitu baik, so pasti pasti ada seseorang ya tuhan kirimkan untuk menemani hidup kita".
"Bisnis gue di sana meskipun tidak seluas dan sebesar punya elo gimana".
"Bang***ke elo bukan orang bodoh".
"Hahahaa, thanks bro, tolong carikan gue jodoh ya", ucapnya meskipun sedikit ragu.
Yang Benny jadikan rumah untuk di jadikan tempat singgah dan mengadu bagaimana kerasnya dunia ternyata sahabat kecilnya.
__ADS_1
Mungkin bagi sebagian orang rumahnya, tempat mengadu tempat berkeluh kesah tempat menaburkan kerindua kedua orang tua dan seluruh saudara.
Rindu sangat menginginkan bagaimana rasanya di peluk Ayah atau Ibunya, dari semenjak mengingat dunia ini Benny hanya sekali di peluk ibunya.
Miris andai bisa mengulang semuanya Benny tidak mau di lahirkan ke dunia ini.
Huwhhhh membuang napas dengan kasar agar sedikit melonggarkan sesaknya dada.
Obrolan Gavin dan Benny terhenti setelah mendengar suara ribut dari Nesya dan Alana.
Sengaja Alana datang ke kediaman Matthew atas ijin mama papa dan Gavin juga, weekend kali ini mereka mencoba coba untuk bikin kue.
Nesya dan Alana yang baru saja pulang setelah belanja, kedua wanita itu sepakat untuk mencoba membuat kue, Sena dan Risa hari ini tidak bisa ikut mereka punya keperluan masing masing.
Alana merasa terhormat keluarga Matthew ternyata se welcome itu padanya, untuk menginjakan kaki saja di kediaman ini bermimpi pun tidak karena jarang orang orang dekat dengan keluarga ini.
Keluarga tertutup meskipun selalu di sorot media.
Mama Diana dan papa Aditya juga ada di rumah sedang menemani Elvan renang di kolam belakang rumah.
"Ehh ada tamu ya", cengir Nesya.
"Itu berat Sya", mata Gavin langsung menyorot pada barang bawaan Nesya.
"Nggak mas ini semuanya isinya cemilan ringan doang hahahaa".
Dengan cepat Gavin mengambil barang bawaan Nesya.
"Nesya itu ngeyel pak mau bawa terus dari tadi saya debat dengannya", adu Alana.
"Berlebihan semuanya, aku bukan bawa barang puluhan kilo ya", kesal Nesya.
Mentang mentang sedang hamil bawa barang berat sekilo dua kilo saja tidak boleh, hihhh mana ada ngaruh Nesya juga merasa semuanya aman aman saja.
__ADS_1
"Jangan ngeyel kalau gitu terus saya pindahin supermarketnya kesini".
"Beda yah marahnya orang kaya mah begitu", ledek Benny.
"Sana lo mending pacarin tuh Alana".
"Ko jadi saya yang kena pak", Alana menunjuk dirinya bingung sambil melirik ketiga manusia yang ada di depannya.
"Vin gak gitu juga yang ada sawan anak orang", kesal Benny.
"Mau gak?, kalau nggak mau gue mau jodohin dia sama asisten gue", ucap Gavin sambil meninggalkan keduanya karena Nesya sudah masuk ke dapur.
"Heyyy pak Gavin Astagfirulloh".
"Jangan dengerin Gavin gila, tapi kalau kamu lagi jomblo boleh di coba sih hahaa".
"Hihhh sama saja sama anda sama sama gila".
"Jangan terlalu benci nona nanti jadi cinta".
"Huwaaa mimpi apa gue semalam ketemu orang orang seperti mereka", jerit batin Alana.
Benny melihat muka bete Alana tertawa puas, lucu juga ni cewek meskipun sedikit bar bar tampangnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤