JODOH YANG TIDAK TERDUGA

JODOH YANG TIDAK TERDUGA
Panas Dingin


__ADS_3

Astagfirullohalazim dia kenapa sih, Gavin memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri, Nesya yang lebih dulu keluar dari mobil meninggalkan kunci mobil juga tanpa menunggu Gavin keluar dulu.


Keluar dari mobil sudah tidak melihat Nesya kemana, wanita itu entah jalan ke arah mana.


Masuk ke dalam ruangan langsung mengambil laptop dan buku, berjalan lagi menuju kelas Nesya.


Memang waktu lumayan mepet, tapi setelah masuk ke kelas Nesya, wanita itu tidak ada disana.


"Kamu kemana sih Sya, bingung saya kenapa tiba tiba berubah dan cepat menyimpulkan ucapan yang sebenarnya bukan mengarah ke situ".


Pemberian materi sudah berjalan 20 menit tapi tanda tanda Nesya mau masuk ke kelas tidak ada sama sekali, membuat Gavin semakin khawatir.


Tidak berselang lama, "Permisi pak saya boleh masuk kan", main nyelonong masuk tanpa menunggu jawaban dari dosen.


Ingin sekali Gavin menjewer mahasiswanya yang dengan tenang langsung duduk di kursi kosong.


Tapi gimana kalau di jewer dia pasti salah lagi dan kena amuk di rumah bahkan di sini juga pastinya.


"Nesya habis dari mana?", bersedekap dada sambil berjalan menuju meja paling ujung yang Nesya duduki kursinya.


Semua orang berbisik bisik Gavin benar benar dosen yang susah memberikan toleransi.


"Mampus dah ni anak mulai bandel mentang mentang sama laki sendiri", batin Alana.


"Nesya nyari masalah sama laki sendiri", Sena berbisik pada Resa.


Resa hanya terkekeh tidak menimbulkan suara.


"Dari kantin pak, saya belum sarapan di rumah tadi, takutnya mag kambuh susah loh pak punya penyakit mag kalau sudah kambuh".


Hahhh Gavin benar benar di buat melongo, sejak kapan punya mag, dan apa tadi belum sarapan dia melihat dengan jelas kalau wanita ini makan banyak lebih dari porsi biasa.


"Selesai mata kuliah ini datang ke ruangan saya", Gavin berjalan ke depan lagi.


2 jam berlalu kini jam Gavin sudah selesai, keluar dosen itu membuat semua mahasiswa bernapas dengan lega.


"Nes bukannya tadi lo di suruh ke ruangan pak Gavin ya", ucap Reno.


"Males gue Ren sumpah".

__ADS_1


"Widihhh sejak kapan seorang Nesya Arabelle membandel".


Bahkan se kelas itu bersorak, Nesya sekarang memang sering menyeleneh, untung pintar.


"Nes doi nyuruh ke ruangannya kan".


"Malas gue Ris sumpah".


"Gini nih kalau sama laki sendiri", Sena menepuk pundak Nesya.


"Ke perpus yuk sambil menunggu jam pak Haris".


Jadinya 4 sekawan itu berjalan menuju perpus sambil ngobrol sesekali tertawa.


Baru saja masuk perpus tapi Nesya mengingat makannan yang dirinya tonton tadi pas di kantin.


"Guys gue minta maaf banget ya sama kalian, gue mau makan ini", menunjukan hasil ambil gambar.


"Ya terus, kan tinggal pesan pake banggoj aja apa susahnya sih", Risa menyengit.


"Mau di beliin sama suami", ucapnya sambil cengengesan.


"Alana sakit tar gue aduin sama suami gue ya".


"Aduhhh takut banget sama suaminya Nesya", derama Alana, membuat ke empatnya tertawa.


"Guys gua mau samperin suami dulu ya minta di beliin ini".


Dengan cepat Nesya keluar dari perpus bahkan sedikit berlari menuju ruangan Gavin.


Sampai di depan ruangan Gavin langsung membuka pintu dan menutupnya dengan keras.


Gavin menatap tajam, benar benar di buat sakit kepala dengan tingkah Nesya.


"Mas sayang jangan marah", rayunya, Nesya tau Gavin tidak suka melihat dirinya membanting pintu.


"Ada apa, bukannya tadi malas masuk ke ruangan saya".


"Aaaa jangan marah ya", memeluk Gavin dari belakang bahkan terhalang kursi.

__ADS_1


Cup cup pipi kiri dan kannan Gavin di berikan tanda, "Mas mau makan Tom yam, kayanya seger kuah merah agak asem dan pedas gitu".


"Hemmm terus apalagi?", tanya Gavin, sebenarnya menahan kesal setengah mati.


Bukan kesal karena minta di belikan makannan itu tapi cara Nesya yang tadi pagi tiba tiba nangis marah, masuk kelas telat, tadi di suruh langsung ke ruangannya tidak langsung datang, bahkan dengan jelas dirinya mendengar kalau Nesya malas menemuinya, tadi masuk juga tanpa permisi membanting pintu lagi.


"Itu aja mas", tersenyum bahkan duduk di pangkuan Gavin.


Padahal tidak pernah bertingkah seperti ini, membuat Gavin semakin bingung.


"Mas peluk dong jangan kerja terus".


Pasrah tidak melanjutkan ketikannya, satu tangan di gunakan untuk menlpon Radit agar pesannan kanjeng ratunya cepat sampai.


"Nyaman banget kalau di peluk kaya gini, aku jadi ngantuk mas".


Akhhh tangannya ngilu karena bekas luka ke senggol Nesya, Gavin tahan dan terus memperhatikan Nesya yang mengganti posisi bersandar pada pundaknya dan memeluk dengan erat.


Untung badannya kecil, batin Gavin.


"Mas aku bobo sebentar ya nanti bangunnin 1 jam lagi".


"Iya", lagi lagi Gavin pasrah , tidak aman juga senjatanya, Nesya terus bergerak di pangkuannya membuat sesuatu bangun dengan cepat.


"Apa ini ko keras", tangan Nesya malah memegang benda itu.


"Sya pelis jangan terus bergerak biarkan dia seperti itu, sudah tidur saja kalau ngantuk".


Di luar dugaan tangan Nesya malah membuka sleting celananya, mengenggam benda itu langsung tertidur.


Astaga Nesyaaaaaa geram Gavin tertahan, hanya di pegang dan di gerakan sedikit saja sudah membuatnya panas dingin.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2