
Seminggu yang lalu setelah kejadian di rumah sakit, kini Rena maupun Elvan sama sama sekolah seperti biasa.
Elvan sedang menjalankan tugasnya sebagai osis, menghukum siapa saja yang telat datang ke sekolah.
Ada 7 wanita dan 11 peria yang Elvan hukum termasuk Rena, 18 orang inilah yang tidak ikut upacara di hari senin yang memang sudah biasa di adakan dan tidak boleh satupun siswa tidak mengikutinya kecuali sakit.
Rena yang sudah sangat sangat santai tidak pecicilan tidak berisik jika bertemu Elvan, terkesan masabodo jika laki laki itu lewat ke hadapannya.
"Kalian semua tau konsekuensinya kan".
18 orang itu berbaris dan mengangguk mendengar sang osis mengeluarkan suaranya.
"Saya tanya sama kalian sekarang, peraturan seperti apa dan konsep seperti apa agar sekolah ini aman dari siswa bolos dan telat".
Darma dengan lantang menyatakan, "Maaf kami salah, kami seharusnya mematuhi peraturan yang ada di sekolah ini, bukan salah dari pihak sekolah atawpun osis".
"Jika kalian tidak suka dengan tata cara peraturan yang saya ajukan dan sekolah terapkan, silahkan ungkapkan dan dengan senang hati saya akan mundur dari jabatan ini".
Semua orang tidak ada yang bisa bicara, Elvan selama menjadi osis tidak neko neko dan tidak gila jabatan di antara siswa lainnya, padahal semua orang juga tau siapa Elvano ini.
"Silahkan ajukan komentar keritik dan masukan kalian, tidak perlu pakai nama jika takut saya mengetahuinya, kumpulkan di kelas masing masing, bahkan semua siswa yang ada di TUNAS BANGSA ini, anggota osis yang lain akan mengambilnya".
"Awalnya saya akan menghukum kalian, tapi kali ini saya sedang berbaik hati, Terimakasih silahkan masuk ke kelas masing masing".
Sudah hampir 3 tahun menjabat jadi osis, seharusnya tidak seperti ini konsep dari sekolah, tapi tuntutan dari 90% siswa meminta dirinya tetap menjadi osis bahkan dari semenjak masuk sekolah.
Rena dengan santai bukannya ke kelas sesuai yang Elvan perintahkan tapi wanita itu malah belok kiri sudah di pastikan ke kantin.
"Mau kemana lo", geram Elvan.
__ADS_1
"Jalan ke sini pasti ke kantin lah".
"Kenapa lo telat, gue tau lo berangkat jam 6 dari rumah".
"Banyak banget bacot".
Rena menggibaskan rambutnya, duduk tenang di antara ratusan kursi kosong yang ada di kantin.
Elvan bersedekap dada melihat kelakuan Rena yang sangat sangat berubah.
"Ngapain lo liatin gue terus, mau hukum gue ya, tar tunggu gue makan bentar takut mag kambuh lagi nih, belum mau mati gue sebelum ngebunuh orang".
Elvan berjalan ke arah Rena, duduk di samping wanita itu tangannya masih bersedekap dada.
"Geser bangku banyak supek gue dekat sama lo".
"Makin berani".
"Rena".
"Berisik pergi sana".
"Lo kenapa jadi kaya gini sih".
"Kaya apa?, emang lo tau gimana gue?, gue aja gak tau gimana lo".
"Buuuu saya gak jadi makan ya kenyang soalnya, tar saya trf oke, saya balik kelas dulu supek banget di sini udah kaya di dalam gua".
Rena berteriak pada ibu kantin, ibu kantin itu tau gimana Rena meskipun anak baru di sekolah ini, berapapun jajan Rena papa nya yang akan meneransfer nanti.
__ADS_1
Elvan hanya bisa diam, dari semenjak kejadian di rumah sakit Rena juga tidak pernah mengirimkan pesan lagi padanya, bertemu juga tidak pernah menyapa.
.
.
Pulang sekolah Elvan sangat lesu, kerjaan numpuk bukan lagi jabatan osis nya yang hanya 2% saja yang tidak suka dengannya, otomatis dirinya masih harus menjabat.
Padahal Elvan ingin istirahat tidak mau berkecibung seperti ini yang menguras tenanga dan waktunya bersama keluarga.
"Mami mana dek?", tanya Elvan dengan lesu.
"Apa sayang mami di sini, da apa hemm ko mukanya kaya gini".
"Mih mau jus yang kaya kemarin boleh?".
"Iya tunggu ya mami buatin".
Mami Nesya langsung ke dapur untuk membuatkan apa yang anaknya minta.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤❤
__ADS_1
.