JODOH YANG TIDAK TERDUGA

JODOH YANG TIDAK TERDUGA
Membuat Kopi


__ADS_3

Sampai rumah Nesya menyempatkan waktu untuk bertemu Elvan terlebih dahulu.


"Hai sayang, sudah mandi ya", sengaja Neaya tidak mengetuk pintu lebih dulu, dia ingin tau apa saja yang sering Elvan lakukan jika di kamar sendirian.


Benar saja Elvan terkejut mendengar suara Maminya, hihhh dia merasa memang cepat atau lambat dirinya akan ketahuan juga oleh Mami Nesya.


"Mami ihh gak ketok pintu dulu", walawpun sedikit kesal namun Elvan tetap menampilkan senyumannya pada sang ibu sambung.


"Hayo lagi ngapain, sini Mami pinjam ipad nya".


"Mih", Elvan memelas.


"Gimana Elvan saja kalau anggap Mami ini Mami kamu ya kamu harus jujur sama Mami, kalau nggak juga terserah Elvan", Nesya curiga dengan apa yang di lakukan anak kecil ini, sepertinya Elvan kecil juga hanya badan dan umur saja, namun otak dan hatinya tidak ada yang tau.


"Mihh plis nanti ya nanti akan Elvan ceritakan semuanya ke Mami tapi tidak sekarang", negonya dengan muka melas.


"Baiklah kalau begitu, janji ya dan ingat jangan melakukan yang aneh aneh Van kamu masih kecil kamu masih anak TK".


"Iya Mami cantiku heee".


"Mami gak akan luluh hanya karena di bilang cantik ingat itu, udah Mami mau mandi dulu gerah", Nesya berlalu dari sana.


Meskipun pikirannya masih tertuju pada apa yang di lakukan anak sambung, tapi Nesya berusaha untuk percaya bahwa Elvan tidak akan macam macam.


Masuk ke dalam kamar Nesya mendengar gemricik air di dalam kamar mandi, menandakan Gavin sedang mandi.


Setelah mengambilkan baju ganti untuk Gavin, Nesya keluar lagi dari kamar, yang tadinya niat mau mandi tapi melihat jam baru jam 4, di rasa mandi juga masih siang.

__ADS_1


Ke dapur melihat bahan makannan apa saja yang akan para art buat di sana, kali ini Nesya memilih untuk masak sendiri tidak mau di bantu siapapun.


Kebetulan bahan masakan sudah di siapkan dan tinggal masak.


"Udah mbak ini Nesya aja yang masak, mbak kerjain yang lain aja kalau sudah beres pada mandi ngaso sana", menyuruh 2 art untuk meninggalkannya di dapur sendirian.


"Tapi non gak enak takut bapak marah".


"Tanggung jawab saya haha".


"Gimana ya non".


"Biarkan dia saya yang temani, kalian pergilah sana", ucap Gavin.


Buset cepet amat tu mandi, pake baju sama turun tangga, batin Nesya.


"Loh bukannya tadi lagi mandi?".


"Terus ngapain ke dapur?".


"Ngikutin kamu lah, yang ada kamu masak nanti meracuni kita jika tidak di awasi", Gavin berjalan ke arah lemari es untuk mengambil minum dinginnya.


"Astagfirullohalazim mas, ngomongnya sembarangan aja", kesalnya.


"Ya takutnya kan, Sya buatkan kopi dong".


"Kopi apa?, aku jarang buat kopi loh".

__ADS_1


"Hitam gulanya sedikit saja, belajarlah".


"Yaudah tunggu", ucap Nesya, untung pernah bikinnin Ayah kopi, kalau nggak mati dah di suruh suami bikin kopi aja gak bisa huwhh.


Gavin duduk di meja kecil yang ada di dapur sambil memainkan ponselnya dan sesekali memperhatikan Nesya yang mondar mandi membuat kopi sambil masak.


"Ini maaf ya kalau ada yang kurang".


"Tidak masalah".


Nesya pergi lagi dari hadapan Gavin untuk melanjutkan masaknya.


Gavin mencicipi kopinya sambil merem, sejujurnya dia takut takut, takut tidak sesuai seleranya, sekali sedupan di rasa rasa dua kali dan tiga kali, istri gue emang paket komplit, batin Gavin.


Helen manabisa masak membuat kopi juga tidak bisa, bisanya menghabiskan uang membeli tas sepatu dan baju.


Kali ini gue kalah sama Papa, pilihan Papa memang tidak mengecewakan yang ada gue yang selalu mengecewakan mereka.


Matanya pokus melihat Nesya yang sangat lihai memegang wajan, spatula dan sesekali bolak balik mengecek rasa satunya lagi entah sedang membuat apa.


Kalau kaya gini terus bisa bisa gue betah di rumah, haihhhh cepat sekali kau Sya bisa membuang Helen dalam hatiku.


Gue rasa gue memang sudah mulai jatuh cinta pada istri sendiri, rezeki gue memang selalu hoki dapat istri daun muda meskipun gue sudah kepala 3, batinnya.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2