
Sudah hampir magrib Gavin malah memejamkan matanya, bukannya mengajak anak dan istrinya pulang.
Haihhh susah sekali menasehati Gavin yang memang wataknya sangat keras, benar benar Nesya harus berkali kali bicara dengan laki laki ini.
"Mas jangan tidur ayo pulang ini sudah mau magrib", menggoyangkan bahu Gavin.
"Sebentar Sya setelah magrib saja kita pulangnya sekalian makan di luar ya".
"Kamu ini gimana sih, Mama sama Papa baru juga pulang malah ngajak makan di luar".
"Bukan hanya ada mereka di rumah itu yang membuat saya tidak betah", ucap Gavin sedikit kesal.
"Sayang jangan ikutin watak Daddy ya susah di bilanginnya", ucap Nesya pada Elvan.
"Ya didik anak kita dengan benar sayang", Gavin akan menyerahkan bagaimana cara mendidik anak dengan benar, Gavin sadar mungkin karena dirinya dulu sering di tinggalkan kerja dan keluar kota jarang mendapatkan perhatian dari orang tua, susah dirinya untuk memerangi diri sendiri, membuang ego dan kebiasaan kebiasaan buruk lainnya.
Sekarang sedikit demi sedikit mulai berubah dari segi apapun tapi tidak dengan ke Om dan Tante dan sepupunya yang memang selalu memanpaatkan keluarganya, apalagi tadi dengan terang terangan menghina istrinya.
"Mas Gavin kamu malah tidur lagi".
"Ngantuk Sya", membenarkan posisi.
"Elvan laper gak sayang?".
"Iya Mih", Elvan mengangguk anak itu sebenarnya belum makan siang, tadi soreng bareng Nesya juga hanya memakan keripik dan es saja.
__ADS_1
"Daddy anaknya udah laper loh pulang yuk".
Mau tak mau dengan sedikit rasa kantuk Gavin terduduk, gak tega juga membiarkan anaknya kelaparan.
"Ayo boy kita cari makan di luar, kamu mau makan dimana biar Daddy pesan langsung nanti sampe kita langsung makan".
"Jangan bilang mau menyuruh Radit lagi mas".
"Menurutmu, saya membayar dia sudah 3x lipat dari gaji asisten pada umumnya Sya, dia bekerja 24 jam dengan saya jadi wajarlah saya banyak menyuruhnya, itu tidak murah juga bayarnya".
"Terserah kamu deh mas", ketus Nesya.
"Van mau bantu Daddy gak?".
"Tolong ambilkan dompet Daddy di atas meja ruangan sana".
"Iya Dad", Elvan tersenyum girang merasa di butuhkan.
Melihat Elvan pergi ke ruangan kerja nya Gavin memanpaatkan waktu itu, sengaja menyuruh Elvan mengambil dompetnya agar tidak melihat adegan yang memang tidak boleh anak laki laki itu lihat.
"Jangan marah sayang kalau tidak mau mas serang di sini sekarang juga", mencium dan ******* bibir Nesya sebentar.
"Main sosor aja", kesal Nesya sambil memukul bahu suaminya.
"Yang di sosornya halal Sya, ingat itu", Gavin terkekeh.
__ADS_1
Tidak lama Elvan datang membawa dompet punya Gavin, "Ini Daddy", menyerahkannya.
"Thank you boy", mencium kepala Elvan sebentar.
Bahagianya anak itu sampai memeluk Daddy nya, Gavin tersenyum ternyata menyenangkan anak nya tidak perlu memberi hadiah mewah cukup dengan memberi perhatian perhatian kecil dan memujinya jika ada pencapaian yang di dapatnya.
"Laper ya, ayo kita jalan Om Radit sudah memesankan restoran untuk kita, kamu boleh makan sepuasnya".
"Benarkah itu Dad", senyumnya sejak tadi tidak luntur.
"Ya Daddy serius, ayo Mih", Gavin menggandeng Nesya membiarkan Elvan berjalan di depan mereka.
"Mona pulanglah kau", ucap Gavin setelah mereka keluar dan tidak jauh di sana ada meja kerja Mona yang selalu setia di kantor jika Gavin belum pulang.
"Baik pak, Selamat sore Bapak dan Ibu juga bos kecil", Mona menunduk hormat.
Tari tadi kek, kan gue bersyukur banget seminggu ini benar benar jam kerja gue berkurang dan jarang sekali lembur, gue memang harus berterimakasih banyak ke bu bos ini, berkatnya pak bos pulang cepat terus.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1