
Nesya masih terus tertawa, tau darimana Elvan tentang mitos itu, ini sangat lucu pikirnya.
"Heiii kamu tau dari mana sayang, itu mitos ya jangan percaya begituan, yang pastinya bohong itu dosa pamali tidak boleh di lakukan".
"Kata teman aku Mih".
"Lucu juga anak kamu mas hahahaa", ucapnya pada Gavin.
"Maminya lawak juga", saut Gavin.
Cih anak gue di racunnin otak bodoh, pikir Gavin terkekeh juga.
.
Selama dalam perjalannan penuh dengan tawa dan ocehan Elvan.
Tidak terasa mereka sudah sampai kampus, "Elvan ikut ke ruangan Daddy ya sayang Mami mau belajar dulu, nanti istirahat Mami temennin".
"Iya Mih".
"Mas aku duluan ke kelas ya".
"Bareng saja Sya".
"Gak gitu mas jangan suka ngaco".
"Siapa yang ngaco".
"Kamu, udah ya aku ke kelas duluan, titip Elvan jangan sampai kamu lupa kalau bawa anak", Nesya mengambil tangan Gavin salah satu yang harus di biasakan jika pamit.
Gavin mengelus punggung bahkan mengecup kening Nesya, tangan sebelahnya menundukan kepala Elvan agar tidak melihat bagaiman sekilas dirinya mengecup bibir istrinya.
__ADS_1
Nesya memukul tangannya, "Aku tidak suka kebiasaan seperti ini mas", memelototkan matanya.
Namun bukannya takut Gavin malah terkekeh.
"Sayang ikut Daddy dulu ya tunggu Mami di sana, jangan lupa minum dan makan cemilannya".
"Siap Mamii", Elvan mengecup pipi Nesya.
Cih Gavin berdecih di cium Elvan malah nyium balik giliran dirinya yang nyium malah medapat gepukan yang lumayan kenceng.
Benar saja Gavin punya parkiran khusus dirinya jadi Nesya tidak begitu takut terlihat oleh mahasiswa lain.
Namun keluar dari pintu sana Nesya di kagetkan oleh dosen perempuan berwajah dempulan yang suka menyanyjung nyanyjung suaminya itu.
"Ngapain kamu keluar dari parkiran pak Gavin".
"Bukan urusan Ibu deh".
"Ada apa bu, bukannya itu semua terserah saya ya", hihh kebiasaan banget suka ngatur ngatur hidup mahasiswanya padahal alisnya aja masi belum bisa dirinya atur, batin Nesya.
"Ehh pak Gavin selamat pagi pak", dengan senyum centilnya.
"Hemmm", Gavin berjalan menggandeng Elvan sambil menengteng bekal.
Sumpah demi apa Nesya ingin tertawa melihat suaminya yang mulai menjadi Ayah siaga untuk anaknya.
"Ngapain masih di sini pergi ke kelas", ucap Gavin pada Nesya.
"Iya pak, tadi bu Nada ngajak ngobrol saya tidak enak kalau langsung pergi".
"Bohong dia pak Gavin saya tidak menajaknya bicara sama sekali", ucap Bu Nada dengan kesal.
__ADS_1
Haihhh Nesya berancang ancang mengambil langkah 1000, "Awas saja kalau sampai tergoda sama jelma jadi jadian sepertinya", ucap Nesya pada Gavin sedikit berbisik karena Nesya lumayan dekat.
Gavin tersenyum mendengar ucapan Nesya apalagi melihat Nesya berlari. Siapa juga yang akan tergoda batin Gavin, Nesya saja udah lebih dari segalanya..
"Bicara apa dia pak?, jangan termakan ucapan bohongnya pak Gavin, tidak tau saya kenapa tu anak sekarang mulai songong padahal biasanya baik".
Gavin ya Gavin yang selalu masabodolah dengan sekitar yang menurutnya tidak penting.
"Pak Gavin bawa anak siapa, cakep juga ponakannya".
"Anak saya", ucapnya.
Huwaaaa Elvan yang mau pingsan karena di akui anaknya di bawakan bekal dan ipadnya jalan juga di gandeng.
"Jadi serius kalau Pak Gavin sudah punya anak, tapi sudah duda kan".
"Saya ada istri juga", mereka masih terus berjalan.
Seketika mendengar ada anak dan istri ucap Gavin membuat Bu Nada lemas, kakinya juga gemeteran, gak mungkin kan pak Gavin sudah punya anak dan istri, batinnya.
Elvan menatap tajam pada perempuan yang terus saja mengajak bicara pada Daddy nya itu.
Mau menggoda Daddy ku ohh tidak bisa Mamiku lebih dari segalanya loh, mungkin seperti itu isyarat mata tajam Elvan pada bu Nada.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1