
Gavin baru saja pulang dari kantor, jam pulang seperti biasa, walawpun banyak kerjaan banyak masalah Gavin sudah janji pada dirinya sendiri bahwa mau sesibuk apapun tetap keluarga nomer 1 yang harus dia prioritaskan.
Bahkan mama Diana dan papa Aditya juga sudah di rumah, memang seminggu ini keluarga itu pulang pergi kerja tepat waktu.
Gavin merasa bingung tumben istri dan anaknya tidak menyambut kepulangan dirinya, tidak seperti biasa yang heboh karena dirinya sudah pulang.
"Sore Mah Pah", sapa Gavin.
"Sore sayang", mama Diana tersenyum penuh haru, ternyata mau sebanyak apapun harta tidak menjamin dirinya bahagia, kini lebih bahagia ketika anak semata wayang kembali hangat lagi padanya.
"Sore Vin, kenapa mukanya ada yang kurang ya hahaa", papa Aditya terkekeh.
"Iya Nesya sama Elvan kemana?".
"Ada di kamar katanya mantu mama ada tugas makanya mau beresin tugas dulu sebelum makan malam".
Hahhh setau Gavin hari ini ada 1 mata kuliah doang dan tidak ada tugas.
"Yaudah Gavin naik ya mau mandi dulu".
Papa Aditya dan Mama Diana mengangguk tau sendiri kalau tentang kebersihan anaknya gimana.
Menaiki tangga, menoleh ke kamar Elvan kosong sepi juga, pada kemana coba gak mungkin nugas orang gak ada tugas, monolognya.
Masuk kedalam kamar, melihat keduanya sedang pokus pada ipad, ck Gavin berdecak, sedang apa ibu dan anak itu sampai dirinya datang juga tidak menyadari.
__ADS_1
Keduanya membelakangi pintu kamar, jadi tidak mengetahui kalau ada yang masuk, di tambah lagi sedang pokus menatap layar.
Mendekat pada keduanya, ingin tau apa yang di lakukan Nesya dan Elvan.
Astaga kalian memang cocok ibu dan anak sampai orang pulang juga tidak tau, padahal Gavin sudah melempar tas ke sopa.
Menatap apa yang keduanya sedang lakukan, jari tangan lentik dan mungil sedang mengotak ngatik layar background hitam, di sana banyak sekali kode dan tulisan tulusan kecil.
Gavin mengamatinya semakin mencondongkan badan, membaca apa yang sedang Elvan tuliskan, dan apa saja yang anak itu klik berkali kali.
Suara Nesya memberi arahan sesekali di angguki dan kadang anak itu bilang sepertinya ini mih, ahh salah mih, ini kaya nya mih.
Gavin berdecak kagum, anak yang dulu dia buang sangat sangat dirinya tidak menginginkan anak itu ternyata bisa membantunya meskipun masih di bawah umur.
"Ahhhh yes kita berhasil membuka kuncinya mih", teriak Elvan senang.
"Daddy di sini gak mau peluk dulu?".
Hahh keduanya menoleh, Dady ucapnya bersamaan, Nesya dan Elvan saling lirik.
Pertamakalinya Gavin meneteskan air mata, namun langsung mengusap menghapusnya dengan cepat.
"Daddy pulang tidak ada yang menyambut", cemberut Gavin.
"Daddy gak minta kalian membantu masalah ini, kamu sama Elvan cukup bersenang senang sayang, jangan pikirkan yang lain".
__ADS_1
Elvan lebih dulu memeluk Daddy nya, "Kalau aku bisa kenapa gak bantu Dadd, maaf kalau ikut campur", ucapnya sudah seperti orang dewasa.
Nesya hanya berdiri dan menyaksikan saja tanpa ikut menimbrung momen anak dan ayah itu.
"Kamu masih kecil sayang, Daddy tidak mau membebankan masalah besar ini, kamu hanya perlu sekolah meskipun Daddy tau kalau kamu sudah pintar".
"Aku membantu Daddy agar Daddy bangga padaku, agar aku terlihat hebat dimata Daddy, walawpun masih di bantu mami", menunduk sedih.
Gavin memangku Elvan, anak kecil yang tidak berdosa, yang salah bukan Elvan, anak ini juga tidak mau di lahirkan tanpa kasih sayang dari orang tua, anak ini juga tidak mau di lahirkan tapi tidak di inginkan.
"Daddy bangga sama kamu, maafkan ucapan Daddy yang sudah menyakitimu Van", memeluk Elvan erat.
Dosa besar karena sudah berencana membunuh anak yang tanpa dosa ini, kesalahan besar karena sudah selalu mengancam dan memperlakukan tidak baik.
Gavin mendekapnya sangat lama, ternyata yang dia anggap penghancur hidupnya, yang dirinya anggap pembawa sial mampu membuatnya bangga, bahkan bisa membantunya meskipun masih umur 5 tahun.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤❤