
Tanpa menemui orang orang yang ada di rumah itu lagi Gavin langsung naik ke atas menuju kamarnya.
Gavin tau keluarganya seperti apa, Gavin tau bagaiman perlakuan sepupunya terhadap anak nya bagaimana, walawpun dirinya juga mengakui kalau Elvan bukan anak yang dirinya nginkan tapi jika mendengar orang lain yang berkata kasar dia tidak terima, apalagi sekarang yang sudah berdamai dengan masalalunya.
Mendengar istrinya di hina dan di rendahkan sungguh Gavin tidak terima.
"Sya El", suaranya berat, ternyata hatinya lebih sakit melihat istri dan anak menangis daripada dulu di tinggalkan kekasih dan kemarin pas mau nikah.
"Mas", ini pertama kalinya Nesya membawa Elvan memeluk Gavin.
Kemeja basah karena airmata Nesya dan Elvan darah Gavin semakin mendidih.
"Apa yang mereka ucapkan ke kalian hemm", berusaha menahan emosi sekuat tenaga.
"Daddy", Elvan merasa Daddy nya memeluk dirinya dan Elvan lebih erat memeluk Gavin.
"Hey boy berhenti menangis, anak Daddy tidak boleh cengeng", mencium kepala anaknya.
"Sya apa yang mereka perbuat ke kamu?", tangan sebelahnya memeluk Nesya dan mencium kening istrinya.
Nesya menggeleng walawpun dirinya mendengar dengan jelas tadi apa yang sepupunya ucapkan namun tidak sakit hati karena itu.
"Ganti bajunya yuk ikut Daddy ke kantor", lebih baik dirinya membawa anak dan istrinya ke kantor daripada di tinggalkan di rumah seperti ini.
"Kami gak apa apa mas", tangisan Nesya sudah mulai reda.
__ADS_1
"Saya yang khawatir meninggalkan kamu dan Elvan Sya".
"Gak apa apa kami di rumah saja ada Mama di rumah juga".
"Ikut dengan saya jangan membuat saya mati karena rasa khawatir".
Nesya dan Elvan menurut dengan ucapan Gavin, bukan hanya Nesya dan Elvan yang mengganti baju Gavin juga mengganti bajunya karena sedikit basah kena air mata bercampur ing****s.
"Mas gak enak ada tamu kita malah pergi".
"Tamu yang tidak di harapkan".
Pertamakalinya Gavin menggendong Elvan dan menggandeng Nesya menuruni tangga.
"Vin kamu pulang nak", ucap Mama Diana melihat anaknya yang menuruni tangga.
"Maksudnya apa Vin?, ada Tante Om dan Raya maksud kamu, kamu memang tidak pernah berubah dari dulu Vin", ucap Tante Rosa.
"Saya akan berubah jika kalian berhenti dan berubah tidak menjadi penjilat lagi".
"Kak Gavin mau pergi, padahal kami jauh jauh datang ke sini karena ingin berkumpul dengan keluarga loh", ucap Raya.
"Tidak usah berlaga manis kau sudah mengata ngatai istriku dan jaga ucapanmu yang sering kau lontarkan pada anakku, jika kau berulah lagi akan ku hancurkan perusahaanmu".
"Tante kak Gavin kenapa menjadi galak, ini pasti karena di hasut oleh perempuan kampungan itu ya", adu Raya pada Mama Diana.
__ADS_1
"Berhenti kau mengatai istriku kampungan", teriak Gavin dengan marah.
Nesya sampai terperanjat kaget Elvan juga menutup kuping menyembunyikan wajahnya ke pundak Daddy nya.
"Sekali lagi aku mendengar ada yang merendahkan istriku dan berkata kasar kepada anakku tidak akan pernah aku biarkan hidupnya tenang".
Gavin menarik Nesya keluar dari rumah itu Elvan masih berada dalam gendongannya.
"Mau di depan sama Mami?", tanya Gavin pada Elvan, Elvan mengangguk.
Setelah memastikan istri dan anak nya aman, Gavin menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang sesekali tangan kirinya di gunakan untuk mengelus kepala istri dan anaknya.
"Mau beli apa dulu Sya?, kamu mau beli apa boy?, Daddy ada meeting lumayan lama nanti kalian takut bosa menunggu".
Elvan menggeleng masih merasa syok mendengar teriakan Daddy nya tadi.
Gavin tidak berteriak sekencang tadi mau semarah apapun.
"Boleh kami di sana aja jajannya mas?", ucap Nesya, Gavin langsung mengangguk membolehkan, sejujurnya dirinya juga tidak punya banyak waktu untuk mengejar pekerjaan nya.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤