
Jam 8 malam Gavin dan anak istrinya baru sampai rumah, Elvan dan Nesya mengucapkan salam.
"Assalamua'laikum", ucap ibu dan anak serempak.
Mama Diana tertegun karena mendengar cucunya juga mengucapkan salam, "Walaikum salam sayang".
"Maaf mah kalau Nesya tidak sopan, Mama baru saja sampai dari luar kota Nesya malah pergi", karena tidak enak hati dengan mertuanya.
"Gak apa apa sayang, justrus Mama berterimakasih karena kamu sudah mau ngurus Elvan dan Gavin dengan baik, seharusnya Mama yang minta maaf".
"Mih ini taronya dimana?", Elvan yang baru saja membuka sepatunya benar benar anak itu sudah bergantungan pada ibu sambungnya.
"Di tempat biasa sayang".
"Heii cucu Oma sekarang anak Mami banget ya", gemas sendiri, padahal biasanya Elvan serba mandiri dan susah di dengar suaranya.
"Iya dong Oma", gayanya anak itu sambil pergi menengteng sepatunya.
"Ehhh nyautin lagi hahahaa, sayang kamu kasih makan apa dia tiba tiba bawel begitu".
"Di kasih omelan mah hahaha".
"Oh hahaha biasanya susah banget di tanya juga Nes".
"Iya mah, mangkanya setiap hari Nesya omelin terus biar bawel dianya".
"Sya", panggil Gavin yang sudah ada di lantai atas.
__ADS_1
"Ehhh kenapa tuh anak juga bisa bisanya teriak begitu".
Haduhh banyak banget ketinggalan info ini kelamaan di luar kota, batin Mama Diana, hahh harus tanya bu Sanah inimah apa aja yang terjadi di rumah ini.
"Mah Nesya bersih bersih dulu ya maaf".
"Iya gak apa apa sayang, sana sepertinya kamu sekarang punya dua bayi gede ya", senyum Mama Diana mengembang matanya berkaca kaca.
"Nesya ke kamar dulu ya mah".
Mama Diana mengangguk dan berjalan lagi ke ruang keluarga, di sana ada suami kakak dan iparnya juga keponakannya.
.
"Lama amat", ucap Gavin.
"Ngobrolin apa?".
"Aku sama Mama ada rencana bisnis ternak ikan ******".
"Sya jangan macam macam, siapa yang ngijinnin kamu kerja".
"Aku mau sendiri lah", hadeuhh laki gue kelewat pintar nih kayanya masa iya gue ternak ****** hihh ada ada saja.
"Uang saya sudah banyak buat apa kamu kerja, cukup habiskan saja uang yang sudah ada, kamu tinggal pilih dan beli mau apa", nada suaranya sudah mulai tidak bersahabat.
Gavin tidak akan pernah membiarkan istrinya kerja walawpun sebentar, terauma Gavin tidak mau anak anaknya kelak mengalami nasib sepertinya dulu.
__ADS_1
Nesya sudah menyembunyikan senyumnya, terus memancing laki laki ini sudah mencintainya apa belum, karena belum pernah bilang cinta padanya meskipun perhatian dan perlakuannya cukup tapi tetap saja ingin mendengar kata cinta dari laki laki ini.
"Aku kuliah juga kan biar dapet pengetauhan luas nilai bagus di terima di kantor yang bagus juga gajinya besar, bikin usaha sendiri terus sukses".
"Sya", geram Gavin, sungguh Gavin takut dengan kata kata Nesya, takut benar istrinya melakukan itu semua.
"Apa suamiku", Nesya mendekat lalu memeluk Gavin, mendongak dan tersenyum.
Cih gue benar benar sudah jatuh cinta sama ini perempuan, tidak bisa marah jika sudah melihat muka Nesya apalagi sedekat ini, "Jangan lakukan itu semua Sya, cukup saya yang kerja".
"Pak suami ternyata cakep juga ya kalau di lihat semakin dekat kaya gini", terus menatap Gavin dan tersenyum.
"Baru sadar", Gavin mencium kening Nesya berkali kali".
"Iya heem, apalagi kalau bisa ngontrol emosi, tidak irit bicara denga orang lain, tidak menyebalkan uhhh tambah pooooool cakepnya".
"Cih saya tidak akan terbujuk dengan rayuanmu itu, tetap saja saya tidak akan mengijinkan kamu kerja".
"Ahahahaaa lagian siapa yang mau kerja sih mas, kaku amat di ajak bercandanya pak", Nesya mencubit pinggang Gavin lalu berlari ke kamar mandi.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1