
Selesai masak Nesya langsung naik ke kamarnya, masuk ke dalam kamar Gavin sudah bangun dan baru selesai mandi.
Tidak mengucapkan selamat pagi Nesya mengambil handuk dan baju ganti langsung berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Gavin menyengit heran karena Nesya tidak meliriknya sama sekali, "Ada apa dengannya, muka di tekuk tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum", batinnya.
Sedangkan Nesya berusaha tidak memikirkan ucapan Raya, tapi tetap saja kepikiran, malah semakin muter di dalam otaknya, apalagi mengingat ucapan Gavin yang sampai tidak menyentuh Hanah selama pacaran dulu sejak SMA dan dua tahun kemarin karena Gavin mencintainya, tidak mau merusak wanita itu dirinya lebih baik jajan di luar daripada merusak wanitanya.
"Haihhh gue apaan sih mikirin itu terus", Nesya memilih berendam untuk merilekan otaknya.
.
Sampai 20 menit Gavin menunggu istrinya keluar dari kamar mandi namun tidak keluar luar.
Tok tok tok, "Mami Daddy aku boleh masuk gak", suara Elvan dari luar.
Gavin berjalan membukakan pintu, menyambut anaknya dengan sedikit senyuman dan langsung menaikan Elvan ke atas kasur.
"Mami kemana Dad?", celungak celinguk mencari Maminya.
"Sedang mandi", menunjuk ke arah kamar mandi menggunakan dagunya.
Gavin menyalakan tv agar anaknya tidak merasa bosan hanya duduk saja di atas kasur menunggu Maminya.
Lebih dari 30 menit Nesya keluar dari kamar mandi dengan badan segar, semakin terlihat cantik di mata Gavin apalagi wanita itu memakai handuk di kepalanya sebagai tanda rambut basah.
"Pagi mih", sapa Elvan, "Ehh tadi lupa maaf ya, pagi Daddy".
Gavin hanya mengangguk, wajarlah Elvan lebih dekat ke Nesya daripada ke dirinya.
"Pagi sayang, haii anak Mami udah cakep aja pagi pagi siapa yang ambilin bajunya?".
"Mbak Mih".
"Mami mau keringin rambut dulu tunggu di sini ya", Nesya mencium pipi Elvan ber ulang ulang sedangkan ke Gavin melirikpun tidak.
Melihat Nesya masuk ke ruangan khusus ganti baju dan segalanya Gavin langsung mengikuti istrinya, merasa ada yang tidak beres dengan diamnya Nesya yang biasanya bawel.
"Kenapa hmm?", Gavin memeluk Nesya dari belakang.
__ADS_1
"Gak apa apa".
"Jangan bohong, saya tau kamu sedang ada yang di pikirkan".
"Serius gak apa apa mas".
"Mau jujur atau mau sampai tidak keluar dari kamar ini sampai malam", ancam Gavin.
"Ya terus aja sampai tidak sadarkan diri juga", ketus Nesya, sebab sudah paham kemana arah pembicaraan Gavin.
"Sya jangan membuat saya maksa kamu agar bercerita ya, saya tidak suka di diamkan seperti ini", Gavin menyandar pada lemari menatap lurus Nesya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ngapain liatin terus serem tau".
"Bahkan saya bisa lebih seram dari ini", nada dingin Gavin mulai keluar.
Nesya memilih diam, sebenarnya dalam hatinya sudah merasa takut dengan tatapan maut dari suaminya ini.
"Baiklah kalau masih belum mau cerita berarti kamu sekarang melanggar janji di dalam pernikahan kita, dan bisa bisa saya juga melanggarnya suatu saat".
Mendengar Gavin akan melanggar janji di dalam pernikahannya, Nesya meneteskan air matanya, kenapa hatinya sakit mendengar Gavin bicara seperti itu padahal tidak membentak dan tidak memukul.
"Saya ngikutin cara kamu".
"Terus kamu mau melanggar kamu mau kembali dengan kekasihmu juga kalau dia datang lagi ke sini, kamu mau menceraikan aku kamu mau meninggalkan aku", ucapan Nesya di barengi dengan air matanya.
Cih melihat Nesya menangis ada rasa kasihan dan ingin tertawa juga, emang hanya perempuan yang susah Gavin tebak apa keinginnannya.
"Heii kenapa menangis hemm hahaha, kau kenapa?, ada apa?, bicara ke saya menebak isi pikiran kamu itu susah Sya".
"Kamu janji kan Mas gak bakal ninggalin aku gak bakal nyari istri lagi, gak bakal balik lagi sama calon istrimu itu".
"Pertanyaan kamu tidak masuk akal Sya, siapa yang sudah meracuni otak kamu ini hah".
"Jawab bukannya nanya balik".
Gemas sendiri dengan tingkah Nesya yang tiba tiba, Gavin membawa Nesya kedalam pelukannya, "Kenapa pagi pagi ngajak ribut hah, bicara yang jelas kamu kenapa, terus apa maksud kamu hah mencari istri lagi kembali sama dia, kamu tidak percaya saya".
Nesya menggeleng menyembunyikan wajanya di dada bidang suaminya.
__ADS_1
"Besok akan saya uruskan semuanya menjadi nama kamu kalau masih belum percaya".
"Aku gak mau harta mas, aku mau janji kamu gak bakalan ninggalin aku selamanya".
"Siapa yang akan meninggalkan kamu Sya, istri saya cukup satu yaitu kamu".
Nesya mengusap air matanya, "Janji", mengulurkan janji kelingkingnya.
"Apa saya harus tanda tangan di atas matrai juga agar kamu percaya, tanda tangan di buku pernikahan tidak cukup".
Nesya menggeleng, "Takut tiba tiba ninggalin".
"Buang pikiran tidak jelas itu", Gavin memeluk Nesya lagi menghujani kepala Nesya dengan ciumannya, "Perlu kamu ingat istri saya cukup 1 yaitu kamu sampai ajal memangil saya, saya tidak akan mempermainkan pernikahan ini".
"Udah janji ya", senyum Nesya, "Gak mau bilang love you my wife atau apa gitu".
"Hahahaa", Gavin tidak bisa membendung tawanya lagi, "Apa perlakuan saya kurang cukup buat kamu?".
"Butuh pengakuan juga", Nesya memeluk Gavin dengan manja.
"Love you my little wife, you are evrything in my life, buang pikiran jelekmu itu", Gavin mengecup bibir Nesya lama, tidak ada pergerakan itu hanya tanda bahwa Gavin mencintai istri kecilnya ini.
Bukannya reda tangisan Nesya malah semakin kencang, "Maaf udah bersangka buruk".
"Siapa yang meracuni otakmu hah Raya?", sedikit Gavin bisa menebaknya.
Nesya menggeleng dan memeluk Gavin lagi.
"Udah nangisnya kasian Elvan nungguin kita", bisik Gavin.
"Gara gara kamu ini", Nesya meninju perut Gavin.
Gue lagi yang salah, dirinya yang tiba tiba diam lalu ngambek terus marah nangis gue yang di salahin.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤