
Nesya baru saja keluar dari pekarangan rumah itu dan Gavin datang mereka beda arah jalannya, mungkin emang gak jodoh.
Gavin menatap lurus mobil berwarna merah itu sampai tidak berkedip dan menghapal nomer polisi yanga da di mobil itu.
"Itu sepertinya mobil bu Nesya pak", celetuk Radit, seolah paham dengan tatapan bosnya itu.
"Saya tidak bertanya", ucap Gavin dingin.
"Maaf pak", cih gue salah tebak lagi, batin Radit.
Gavin beralih ke mode semula ke wajah datarnya.
Masuk ke kamar nya namun iya sempat melirik ke kamar Elvan juga tidak seperti biasanya.
Setelah mandi Gavin merebahkan badannya di kasur, lelah dengan pekerjaan dan perjalannan yang menguras tenaga juga waktu.
Menatap langit langit kamarnya, pikirannya melayang, sesekali melirik ke arah sopa yang Nesya tempati kemarin malam karena tadi malam tidur di sopa pojok dapur.
Kedua malam ini Gavin susah memejamkan mata padahal badannya lelah.
.
.
.
__ADS_1
Ke esokan harinya jam setengah 6 pagi Nesya sudah sampai di kediaman Aditya lagi, membuatkan bekal untuk Elvan dengan senang hati.
Setelah selesai membuatkan bekal untuk Elvan, Nesya naik ke kamar anak itu, dirinya niat membantu siap siap sekolah Elvan, Nesya juga ada jadwal kuliah pagi.
Nesya menaiki tangga dengan terus menunduk memperhatikan satu persatu anak tangga itu.
"Astagfirullohalazim", ucapnya kaget karena pas mendongak di ujung tangga itu ada Gavin.
Gavin hanya melirik sekilas pada Nesya setelah itu dirinya masuk ke kamarnya.
Hampir semalaman tidak bisa tidur Gavin memilih kerja, ternyata dirinya ketiduran di sana sampai pagi, kamar Gavin dan kamar Elvan bersebelahan tak jauh dari sana juga ruangan kerjanya Gavin.
Pagi pagi udah sial ketemu serigala bewajah es balok, batin Nesya.
"Wahhh udah mandi udah siap ya sayang".
"Udah, selamat pagi Mami", dengan senyuman merkahnya, hanya baru Nesya yang bisa melihat senyum merkah anak ini.
"Pagi juga sayang, kalau udah beres semua turun yuk, Mami udah siapin bekal nanti makannya habisin ya", ucap Nesya.
Tidak ada ketakutan bagi Nesya mendekati Elvan sebab bapak nya juga tidak perduli dengan anak ini, bahkan Nesya sempat berpikir akan minta ijin pada kedua mertuanya untuk membawa Elvan jika dirinya cerai dengan Gavin.
Gavin yang kesiangan dirinya juga terburu buru karena jadwalnya hari ini setelah ke kantor harus ke kampus.
Keluar dari kamar berbarengan dengan Nesya yang mau menuruni tangga dengan Elvan, tumben kali ini dirinya mengalah membiarkan Nesya dan Elvan lebih dulu pasrah mengekor dari belakang.
__ADS_1
Gavin pagi ini tidak ikut belok ke meja makan untuk sarapan dirinya lurus saja ke ruang tengah.
"Pak Gavin tidak sarapan dulu?", tanya Nesya dengan hati hati bertanya juga takut di abaikan atau di bentak.
Namun kali ini pikiran Nesya salah bahkan Gavin tidak sedingin biasanya bicara.
"Tidak, saya buru buru ada meeting di kantor jam 9 harus ke kampus", ucap Gavin, walawpun tidak menoleh yang penting tidak dengan suara dingin tinggi dan membentak.
"Tunggu sebentar pak", Nesya sedikit berlari ke arah dapur, dirinya tadi membuat nasi goreng terserah mau di makan atau tidak sama Gavin yang penting dirinya sudah baik pada laki laki dingin itu.
Tak lama Nesya menengteng bag kecil berisi kotak makan dan botol minum yang biasa Gavin bawa kalau ke tempat Gym.
Gavin menyengit bingung namun tidak bertanya.
"Ini bawa jangan lupa makan kalau suka, kalau gak suka kasih ke orang yang membutuhkan saja", dengan beraninya Nesya menyuruh Gavin.
"Ck seperti anak tk saja", ucap Gavin, namun tetap iya ambil dari tangan Nesya dan langsung berjalan cepat karena buru buru.
Setelah memberikan bekal itu ke Gavin, Nesya menemani Elvan sarapan, dirinya juga ikut makan, sedikit leluasa jika tidak semeja dengan Gavin, awalnya Nesya membuat nasi goreng untuknya sendiri, namun karena tadi makannan yang lain masih panas tidak baik juga kalau di jadikan bekal langsung di tutup, jadilah nasi goreng yang iya bikin untuknya di bekalkan ke Gavin.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤