
Sebulan lebih Alana selalu merasa kesal dengan sikap Benny yang selalu mengikuti kemana dirinya pergi.
Tlpon dan pesan setiap waktu ngalir bagaikan air, tidak pernah absen dan tidak bosan bosan laki laki itu mengirimkan pesan juga makannan.
Namun 1 minggu ini manusia itu menghilang entah kemana, jujur Alana merasa kehilangan, mencaripun entah mencari kemana.
Dirinya sudah mencoba menghubungi namun selalu di alihkan pesan juga tidak masuk ke sana.
Meskipun dosen di depan menjelaskan namun tidak sedikitpun Alana dengarkan, pikirannya melayang memikirkan kemana Benny perginya.
"Lana lo kenapa?", sikut Sena.
"Gak tau Sen gue pusing, gue pulang ya kayanya gak enak badan deh", memijit pelipisnya.
"Tumben lo sakit?, yaudh gue anterin pake mobil gue aja".
"Gak usah gue balik sendiri aja, mama gue juga lagi ada di rumah".
"Serius lo gakpp?".
"Serius gue", menepuk punggung Nesya dan Risa "Nes Ris gue balik ya gak enak badan pening banget sumpah".
"Lo serius balik sendiri Lan?", Nesya merasa khawatir.
"Gue serius mama juga lagi ada di rumah".
"Jangan bercanda deh Lan", Risa menggelengkan kepala.
"Gue serius sumpah, tar kalau udah gak kuat banget gue minta jemput ke mama".
Ketiganya tidak Mengijinkan Alana membawa mobil sendiri apalagi dalam keadaan sakit.
Namun Alana yang tetap kekeuh maunya pulang sendiri, akhirnya dengan berat hati Risa Sena dan Nesya meng iyakan.
Sebenarnya mata kuliah tinggal 1 lagi, ini juga syukurnya Dosen sudah selesai memberikan materi.
Membawa mobilnya tanpa arah tujuan, air mata yang sudah dirinya tahan dari tadi kini tidak terbendung lagi.
"Gue salah ternyata gue butuh dia juga meskipun orangnya menyebalkan", Alana memukul setirnya keras.
Air matanya terus mengalir, ingat 2 minggu yang lalu dirinya di culik pulang dari kampus di bawa ke danau yang ada di pinggir kota.
Tidak jauh, danaunya juga gak ada apa apa hanya ada pohon pohon besar saja disana, tapi lumayan bisa menenangkan pikiran karena suasananya yang hijau.
Dari semenjak di bawa ke sana Alana marah pada Benny, dirinya tidak suka dengan sikap Benny yang kadang suka semaunya.
Memarkirkan mobil sembarang arah, keluar dari mobil, dengan bar barnya Alana menendang dahan pohon yang jatoh dari atas.
"Jahat banget lo manusia aneh, lo bikin kacaw gue, lo cowo yang pertama bikin gue nangis", teriaknya sambil menendang dahan pohon yang ada di hadapannya.
Memilih duduk di akar besar yang ada di sana padahal ada kursi yang biasa orang pakai untuk mancing ikan.
Sedangkan manusia yang bersedekap dada di belakangnya tersenyum terus menerus.
"Lucu juga kalau lagi galau karena kangen, beda banget seharusnya cewek itu kalau galau nangis makan yang aneh aneh atau mecahin barang, tapi dia nendangin dahan dan daun pohon sampai bersih", monolog Benny.
Benny yang baru saja kembali lagi tadi langsung ke kampus, niat mau ke ruangan Gavin dan nunggu di sana.
__ADS_1
Benny tau jadwal kuliah Alana, baru saja mau masuk ke parkiran tapi tidak jadi karena melihat Alana yang terburu buru masuk ke dalam mobilnya sambil menyeka air mata.
Mengikuti terus mobil wanita itu, yang kadang cepat kadang lambat jalnnya, jujur Benny sangat khawatir takut terjadi apa apa dengan Alana, namun baru saja dirinya mau menyalip tapi Alana malah cepat dan langsung belok kannan tidak memakai sen.
Satu kata buat Alana (Ceroboh).
Benny mendekat sebab semakin lama Alana semakin terisak.
"Hai cantik, kenapa menangis?, siapa yang sudah membuat kamu menangis aku akan menghajarnya", Benny mengangkat dagu Alana yang menunduk.
"Jangan pegang pegang", dengan cepat Alana menyingkirkan tangan itu dari dagunya.
Matanya melirik siapa yang berani sekali memegang dagunya.
"Galak banget sih, ini aku sayang".
Alana dengan cepat menyeka air matanya, langsung memalingkan wajah.
"Ngapain ngikutin saya, pergi sana", hati dan mulutnya tidak singkron.
"Gak kangen?, padahal 1 minggu lebih 2 hari kita gak ketemu gak bertukar pesan".
"Aku benci sama kamu", Alana berdiri niat meninggalkan Benny.
"Sayang tunggu", Benny memeluk Alana dari belakang, berbisik di telinga wanita yang sangat dirinya rindukan.
"Kamu gak kangen sama aku, aku kangen banget tau sampai belum tidur dari kemarin karena mau cepat bertemu sama kamu".
"Bohong".
Bukannya menatap mata, Alana memilih memeluk Benny, pertamakali bersentuhan dengan laki laki se intim sekarang.
"Jahat kamu", memukul punggung Benny dengan kuat.
Sakit tapi ikhlas, Benny tersenyum mendekap erat Alana.
"Kangen banget ya sampai bolos kuliah".
"Gak usah bahas, aku marah", memukul lagi tapi pelukannya semakin erat.
"Sakit sayang nanti aku semakin tua bisa bisa cepat jompo kalau di pukulin terus punggungnya", ucap Benny terkekeh.
"Salah kamu sudah bikin aku nangis".
"Cie udah aku kamu nih, yuk ke KUA sayang biar cepet".
"Malesin banget sih", Alana melepaskan pelukannya.
Benny tertawa puas, akhirnya wanita ini takluk padanya.
"Jangan ngambek masa baru pulang sudah di ambekin di cuekin gini sih".
"Nyebelin terus".
"Ngangennin gak?", senyumnya sambil mengelus pipi yang basah karena air mata.
"Dikit tapi banyak nyebelinnya".
__ADS_1
"Gak apa apa ada kemajuan, huhuyy sebentar lagi hati kamu buat aku semuanya".
Pukulan keras lagi yang Benny dapatkan dari Alana.
"Sayang sakit, sudah tau calon suaminya sudah tua di pukulin terus".
"Iya biar cepet mati sekalian".
"Serius kamu meminginkan aku mati?, aku ikhlas kalau itu bikin kamu bahagia", ucap Benny serius.
"Bukannya jelasin".
"Peluk dulu kangen banget soalnya".
Benny dan Alana berpelukan lama, Alana mencium bau tubuh khas laki laki ini menghirupnya dalam dalam, nyaman kangen gak mau pisah lagi, batinnya.
Sama sama menikmati pelukannya meleburkan kerinduan, sayang sekali ada pengganggu datang.
"Mas mbak jangan berbuat mesum di sini".
Hah Alana benar benar kaget mendengar suara orang lain di sana.
"Hahaha maaf pak, kami tidak berbuat mesuk ko, ini calon istri saya dia sedang ngambek karena saya tinggal kerja kemarin 1 minggu, maaf ya", senyum Benny.
Alana memukul tangan Benny karena malu.
"Yaudah mas cepat di halalkan kalau gitu".
"Sudah pasti dong, kan kalau sudah halal bisa langsung masuk hotel kalau lagi berantem kaya gini".
"Yah si mas mah", pemancing itu meninggalkan keduanya.
"Kenapa bilang gitu kan malu, kamu sih peluk peluk terus".
"Sama kamu juga balas pelukan aku kan hahaha".
"Nyebelin banget sih", tangan Alana sudah mengepal sedikit lagi kena perut Benny.
Kali ini Benny dengan sigap menangkapnya, "Sayang kenapa cantik cantik demen banget mukulin suami sih".
"Kita belum suami istri", kesal Alana.
Benny malah tertawa keras, Alana sangat lucu dengan muka sembab nya sangat sangat menggemaskan bagi Benny.
Akhirnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi meskipun Alana belum mengatakan cinta padanya.
.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1