
Semua yang ada di sana terharu setelah melihat bareng bareng bagaimana pemeriksaan Nesya, bahkan ternyata bukan hanya Mama dan Papa saja, ayah Ardi juga ikut.
"Anak ayah sudah dewasa, semakin dewasa ya sayang, bijaklah menjadi ibu nak, memang tidak gampang tapi ayah yakin kamu pasti bisa, selamat putri kecil ayah yang sudah mau punya anak 2", ayah Ardi tersenyum.
Terharu bahagia, tidak menyangka bisa punya cucu bahkan secepat ini.
Tidak terasa Nesya sekarang sudah mulai dewasa, Nesya kecil bayi merah dulu yang sering dia bawa bolak balik kerja, pulang ke rumah dan ke makam mendiang istrinya.
Ya Allah dulu rasanya dunia ini sempit, sangat tidak adil, namun sekarang bersyukur di balik itu semua ternyata Allah menyediakan kebahagiaan yang luar biasa juga, contohnya sekarang.
"Terimakasih ayah, do'akan Nesya terus ya".
Ayah Ardi mengangguk, tidak bisa banyak berkata kata saking terharunya.
Mama Diana tersenyum melihat bertapa hangatnya di antara ayah dan anak itu, "Anak kesayangan mama, selamat sayang, gak tau mama mau ngomong apa, intinya terimakasih untuk semuanya sayang, terimakasih telah menjadi pelengkap dan menjadi penerang di keluarga kami", mama Diana sampai menangis.
"Mama jangan ngomong kaya gitu dong", Nesya memeluk erat mama Diana.
Mertuanya ini tiada hari tanpa terimakasih, entah seperti apa hancurnya keluarga ini sebelum ada Nesya.
"Papa punya hadiah buat menantu tercantiknya papa", sambil terkekeh, tidak kalah terharu airmatanya juga sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Papa bisa aja, ya kan emang cuman Nesya doang menantunya, kecuali mas Gavin mau cari istri baru lagi", sambil terkekeh.
__ADS_1
"Walawpun dosa papa akan membunuhnya", bisik Papa Aditya, karena takut terdengar Elvan.
"Siapa juga yang akan menikah lagi, cukup sekali seumur hidupku", tekan Gavin.
Mana bisa gue berpaling darinya, walawpun sekarang sering ngambek tidak jelas, batin Gavin.
Papa Aditiya mberikan kunci mobil keluaran terbaru, "Hati hati kalau pakai ya", mengelus kepala menantunya dengan sayang.
"Ehhh serius ini Pah, kenapa harus ini sih, Nesya tau ini harganya mahal banget, tapi ko papa bisa tau ya".
"Gak ada yang mahal di dunia ini apalagi buat kamu sayang, mama katanya sudah bosan jadi mau insaf, sayang banget uang papa gak ada yang ngabisin kan".
Kemarin sempat melihat Nesya memainkan ponsel dan melihat gambar gambar itu, dari raut mukanya seperti mau, mangkanya papa Aditya langsung memesannya.
Cih Gavin geli sendiri, padahal dirinya juga bisa membelikan itu buat istrinya.
"Mah ini mahal banget", Nesya menggeleng tidak mau mengambilnya.
"Hadiah gak bagus kalau gak di terima sayang, terima ya, itu mama loh yang pilih warnanya".
"Mah, Pah ini terlalu mahal", bingung menerimanya.
"Papa beli dua sayang Elvan juga di beliin jadi kita adil, iya kan Van".
__ADS_1
"Iya Mih aku udah lihat tadi sama nyaobain bagus banget Mih", anak itu antusias.
Hahh apalagi ini, Elvan gimana mau bawanya anak itu baru 5 tahun, mana bisa bawa mobil, buang buang uang saja batinnya.
Astagfirulloh padahal Nesya menyuruh Elvan agar tidak boros, hidup sederhana jangan mengumbar kekayaan.
"Mama sama papa sudah tau menantunya anti sama yang bermerk", saut Gavin.
"Mangkanya kita beliin sekali kali, apalagi ini sebagai hadiah, uang bisa di cari lagi, lagian itu gak seberapa sayang".
"Yaudah Nesya terima, terimakasih hadiahnya Mah Pah". Hatinya padahal sangat menyayangkan uang yang sangat banyak itu.
Orang kaya emang bebas terserahnya mau beli apa yang di mau.
Keluar dari rumah sakit, langsung pulang ke rumah, ayah Ardi yang mau balik lagi ke kantor juga di larang.
Kedua kakek itu malah ngobrol di rumah, kerjaan gimana besok, ini hari bahagia harus mereka rayakan dengan melupakan pekerjaan sebentar.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤