
2 hari Gavin dirawat di rumah sakit karena banyak kehilangan darah.
Nesya yang masih setia menemani suaminya, Radit sibuk mengurus perusahaan dan mengurus jenajah Yona, Yona memilih bunuh diri lagi dibandingkan dirinya masuk penjara, ini kali kedua wanita itu bunuh diri.
Reno masih keritis juga entah sampai kapan laki laki itu siumannya.
Gavin sudah membaik bahkan 1 tangan laki laki itu sudah di pakai untuk bekerja.
"Kalau gak kerja emangnya bakalan miskin ya mas", padahal tangan yang satunya masih susah di gerakan.
Gavin hanya tersenyum dari pagi Nesya terus ngomel tapi di anggap lagu yang sangat merdu masuk ke dalam telinganya.
"Mas, Astagfirulloh".
"Apa sayang", ucap Gavin dengan lembut.
"Geli aku dengarnya juga".
"Ada apa hmm?".
"Mba Yona meninggal".
"Terus?", acuh Gavin, masabodo kenapa gak dari dulu batinnya.
"Haih kamu ini mau bagaimanapun dia ibu kandungnya Elvan".
"Tidak perduli, Maminya Elvan hanya kamu".
"Mas aku serius ya".
Huwhhh Gavin menghembuskan napasnya dengan pelan menaruh ipad yang dirinya pegang dari pagi sampai siang ini.
"Kamu butuh penjelasan?".
__ADS_1
"Sudah tau masih nanya".
Baru juga Gavin membuka mulutnya, dari luar sudah terdengar teriakan Elvan.
"Mamiii Daddy", Elvan langsung membuka pintu.
"Haii sayang, sama siapa kesini?".
"Sama Oma Opa", Elvan menunjukan dua orang tua, yang lumayan kelelahan karena dari parkiran sampai ruangan Gavin mengejarnya.
"Duh Nes Mama udah nyerah ngejar dia sekarang larinya kenceng banget".
"Elvan ko gitu sih sayang kasian Oma sama Opa", Nesya langsung mendekat dan memangku Elvan.
Sebenarnya itu hal yang wajar bagi anak anak seusia Elvan apalagi anak ini sedang menikmati masa kanak kanaknya, ipad yang biasa dia pakai sudah di sita Daddy nya.
"Sorry Mih", menunduk sedih.
"Oke Mami maafin kali ini tapi ingat jangan di ulang ya, kasian Oma sama Opa ayo minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Mama Diana benar benar merasa terharu, Nesya mendidik Elvan dengan baik tidak memakai kekerasan tidak mrngomel jika anak salah, tidak bicara dengan nada tinggi sehingga Elvan langsung nurut dan bisa paham dengan apa yang orang tuanya bicarakan.
"Gak apa apa sayang, maaf ya Oma sama Opa udah tua gak bisa ngejar kamu".
"Iya Oma maaf".
"Udah gak apa apa Van emang anak laki harus kuat lari kuat jalan", ucap Opa Aditya.
"Mama sama Papa ko kesini lagi bukannya istirahat aja di rumah".
"Di rumah juga sepi gak ada kamu Nes", Oma Diana terkekeh, bukan hanya Elvan yang kehilangan jika Nesya sedang tidak di rumah.
Cih,, Gavin berdecih mama nya ini sekarang berlebihan dan sering menyita waktu dirinya dengan Nesya.
__ADS_1
"Sabar Vin wanita memang seperti itu".
"Tidak sampai tengah malam juga Pah", cebik Gavin.
Papa Aditya tertawa keras, 5 hari yang lalu dirinya pergi ke luar kota, mama Diana tidak ikut dan minta di temani Nesya sebelum tidur.
"Apa sih mas", Nesya mendelikan matanya.
"Ya kalian ngobrolin apa sih sampai jam 12 malam seperti tidak ada waktu besok saja".
"Lupa ya Vin kalau kamu juga dulu pulang dari kantor jam 10 malam, kamu juga bilangnya selagi ada waktu ya di manfaatkan lah".
"Ohh begitu ya Mah", Nesya tersenyum.
"Jangan dengarkan apa kata Mama Sya.
"Terus harus dengar kamu aja gitu".
"Saya suami kamu".
"Mami sama Daddy ko jadi berantem sih".
"Ehhh gak ada yang berantem sayang", Nesya langsung memeluk Elvan.
Mendekap anak itu dengan erat, tidak tau kah kalau ibu kandungnya baru saja di makamkan, tidak habis pikir dengan cara Yona yang memilih bunuh diri daripada hidup di penjara.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤
"