
Berada di rumah Nesya bukan hanya Elvan yang merasa nyaman, Gavin juga merasa nyaman dan menikmati, tutur kata dan bahasa yang lembut, ucapan nasehat yang di berikan Ayah Nesya pada Gavin, membuatnya paham dan menerima semua masukan juga nasehat dari mertuanya.
Pantas saja Elvan dari semenjak pertama kali ke sini dia tidak mau pulang, ternyata Ayah se nyaman dan semenyenangkan ini, batin Gavin tersenyum.
Papa Aditya watak nya keras jika menasehati selalu bicara dengan suara dan urat kencang, mungkin itu yang membuat Gavin dan Elvan juga keras wataknya, keturunnan memang kuat.
Sayang sekali Gavin tidak bisa lebih lama ngobrol dengan mertuanya, Elvan menguasai semuanya.
Di iming imingkan membeli sepeda dan sepedahan di depan komplek membuat anak itu tidak bisa diam dan tidak sabaran.
"Hati hati jangan membuat kakek kecapean, jangan bandel", nasehat Gavin.
"Siap Daddy", hormat Elvan.
"Pakai ini saja Ayah membeli sepedanya", Gavin menyodorkan kartunya.
"Hahaaa Ayah tidak miskin miskin banget Vin, meskipun masih kerja di kantor cabang kamu, buat menyenangkan cucu sesekali tidak rugi", ucapnya sambil tertawa.
"Bukan tentang rugi atau tidaknya Yah, anggap saja ini uang pertama dari menantu Ayah".
"Cukup cintai sayangi dan lindungi anak satu satunya Ayah Vin, uang Ayah masih bisa cari sekarang kecuali nanti kalau sudah sepuh pasti ngarepin dari mantu".
Cih bisa bisanya hanya karena ucapan seperti itu dari Ayah mertuanya Gavin merasa salting karena merasa sangat di butuhkan.
"Bilang sama Mami dulu boy nanti Mami ngamuk", ucap Gavin pada Elvan.
"Ohhh iya", Elvan langsung berlari ke arah dapur.
__ADS_1
"Memangnya Nesya suka ngamuk Vin?", tanya Ayah Ardi.
"Ngambeknya susah di bujuk Yah", adu Gavin.
"Hahahaa bisa juga ya dia manja sama kamu, maklum Vin sedari kecil haus kasih sayang".
"Tidak apa apa Yah", Gavin tersenyum.
"Ayo Kek kata Mami juga boleh", sambil anak itu membawa botol minum.
"Kalau main jangan lupa minum, Ayah juga nih jangan lupa di minum".
"Sudah bawel dari sananya di tambah sekarang sudah jadi ibu ibu tambah tambah saja bawelnya", tawa Ayah sambil berjalan keluar menggandeng cucunya.
"Kadang kadang punya Ayah satu suka ngeselin juga", dengus Nesya.
"Kalau baik mah sudah tidak di ragukan lagi".
"Sudah selesai bikin kue nya Mih?", Gavin mendekat dan memeluk Nesya, "Di sini sedikit aman Sya tidak terlalu banyak orang", bisik Gavin.
"Terus kalau aman mau apa?", sudah terbaca gerak gerik harimau kelaparan.
"Yang pastinya kamu lebih tau apa yang saya mau", tangan Gavin mulai merayap.
"Mas kue aku gosong nanti".
"Ada Ibu kan".
__ADS_1
"Ibu belum begitu paham".
"Haihhh setelah bikin kue ya", Gavin mengkerlingkan matanya.
Nesya tersenyum, "Istirahat sana di kamar aku aja Mas", Nesya menunjukan kamarnya yang ada di lantai satu.
"Saya mau mandi gerah".
Terpaksa Nesya harus naik juga ke atas untuk menyiapkan pakaian suaminya.
"Ibu tolong liat liat dulu ya, aku mau nyiapin buat mandi bayi gede dulu", teriak Nesya.
Gavin melongo mendengar suara istrinya yang melengkin menggelegar, padahal kemarin marahin Elvan karena anak itu di tengah rumah teriak teriak ini apa coba lebih dari toa masjid kencengnya.
"Sya kemarin marahin Elvan karena teriak, suara kamu astaga ternyata bisa kencang juga di balik sikap lemah lembutmu ini".
"Hehee mumpung anaknnya gak ada jadi emaknya bisa meluapkan suara yang hampir sebulan terpendam ini".
Astaga di balik sikap lemah lembutnya istri gue ini ternyata tersimpan suara maut di dalamnya.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1