
Seperti biasa setiap pagi Nesya sibuk seperti biasanya apalagi di tambah dua bayi gede yang sudah mulai apa apa Mah Mih Mah Mih terus.
"Mih boleh pake ini gak?", bahkan pakai sepatu juga minta penilaian dari Maminya.
"Boleh sayang yang mana aja ini kan bukan mau ke sekolah".
Bayi gede juga tidak kalah minta di pakaikan dasi, "Mih tolong dong", Gavin memberikan dasi pada istrinya.
Astagfirullohalazim gue merasa bunya dua bayi, batinnya.
"Mih boleh bawa ipad aku kan?", Elvan bertanya lagi.
Karena Elvan sudah libur sekolah jadi dirinya akan ikut dengan Daddy dan Mami nya ke kampus pulang dari kampus mereka mau ke kantor sebentar setelah itu mau ke rumah Ayah Ardi rencananya.
"Bawa aja nanti kamu bosan", buka Nesya yang menjawab tapi Gavin.
Nesya ada 2 mata kuliah jadi pas istirahat dirinya akan menemani Elvan di ruangan Gavin, berbeda dengan Gavin yang full 4 kali masuk kelas yang berbeda beda.
Nah gitu kan lumayan gak sepet liat nya kalau ada akur akurnya, Nesya tersenyum, bahkan Gavin memperbolehkan Elvan masuk ke kamarnya yang tidak pernah sama sekali Elvan injak.
"Iya sayang bawa aja".
"Mih aku mau bawa botol minumnya yang ada stiker nya ya".
"Baik pak bos".
"Bawain saya minum juga Sya", lagi lagi tidak mau kalah.
"Tumben bawa minum dari rumah", menyengit heran.
__ADS_1
Namun Gavin tidak menyautinya lagi, gengsi dong kalau dirinya bilang iri sama Elvan yang selalu mendapat perhatian.
Gavin malah mengambil sepatu dan memakainya.
"Huhhh kita mau ke kampus apa mau piknik hah bawa bekal bawa minum bawa cemilan segala macam rempong ya", Nesya terkekeh, gambaran piknik ini.
Kode kan supaya di ajak piknik sesekali, batinnya.
"Daddy", panggilnya Elvan mencoba mendekat masih ada rasa takut takut di dalam hatinya.
"Iya kenapa", Gavin menoleh suaranya sangat mendayu merdu terdengar di telinga Elvan sebab tidak seperti biasanya yang jika di panggil bak suara petir di siang hari antara mau hujan dan tidak hujan.
"Ininya copot Mami gak bisa benerin", menunjukan jam tangan yang biasa anak itu pakai.
"Sini", Gavin membenarkannya sebentar dan memakaikan lagi pada Elvan, "Nanti kita beli lagi yang baru", ucapnya.
"Kalau Daddy bisa belikan dan ada uangnya gak apa apa sayang", jiwa matre emak emak sudah mulai muncul dalam diri Nesya.
"Tuh dengar Mami kamu yang sudah mulai morotin Daddy".
Elvan tertawa keras merasa lucu dengan ucapan Daddy nya, deg jantung Gavin terasa berhenti memompa sekaligus.
Baru kali ini gue mendengarnya tertawa renyah, batin Gavin.
"Kurang asem kamu ketawain Mami Van", Nesya menjawel hidung Elvan dengan gemas.
Elvan semakin tertawa sambil mengusap ngusap hidungnya, Gavin juga ikut tersenyum, pagi ini sungguh cerah sekali mendengar tawa anak mendapat perhatian dari istri.
"Udah ayo turun sarapan gak bakal jalan kalau di dalam kamar terus", Nesya menggandeng tangan Elvan, Gavin mengekor di belakang.
__ADS_1
Sebelum sarapan Nesya menyiapkan apa yang tadi mau di bawa oleh dua bayi nya.
Setelah sarapan mereka berangkat Gavin yang mengendarai mobilnya.
"Mas turunin aku di depan aja ya", pinta Nesya sejujurnya dirinya takut anak anak kampus melihatnya satu mobil dengan Gavin.
"Ngapain?".
"Takut mereka melihatku terus jadi bahan omongan di kira aku ngedeketin dan gatal sama dosen pujaan mereka".
"Biarkan saja kamu istri saya".
"Mas mereka tidak tau kalau kita sudah menikah".
"Tenang saja saya ada parkiran khusus Sya".
"Awas kalau boong ya kamu mas".
"Mih emang bener ya kalau boong nanti kuburannya bolong?", celetuk Elvan yang dari tadi anteng mendengarkan obrolan Mami dan Daddy nya.
Sedetik itu juga Nesya tertawa bahkan Gavin juga ikut tertawa, tau daru mana coba tuh bocah.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1