JODOH YANG TIDAK TERDUGA

JODOH YANG TIDAK TERDUGA
Tidak Percaya


__ADS_3

Muka Elvan terlihat murung bahkan di dalam mobil juga anak itu hanya diam saja, melamun sesekali menatap jendela mobil, anak itu tidak merajuk hanya saja diam terus dari pertama masuk kedalam mobil.


"Mas boleh gak aku sama Elvan jajan?", mencari jalan agar Elvan tidak diam saja.


"Jajan apa?, dimana?", tanya Gavin menyengit bingung, lagi lagi permintaan istrinya itu sangat unik menurutnya.


"Apa aja gak bakalan lebih dari 50 ribu ko mas".


"Hahh mau beli apaan itu?".


"Nanti berenti tuh di depan".


"Sya jangan beli yang aneh aneh ya saya bukan sayang ke uangnya".


"Sayangnya ke siapa dong", Nesya mengkrlingkan matanya sambil tersenyum.


"Tidak perlu saya jelaskan lagi kamu pasti sudah tau jawabannya".


"Gengsian banget sih pak", Nesya mencolek pinggang Gavin.


"Jangan bercanda bahaya saya sedang nyetir".


"Stop mas", jerit Nesya.


Gavin sampai ngerem mendadak karena kaget, "Apa sih Sya?".


"Buka pintunya aku minta uang", menadahkan tangannya.


"Buat apa?, walawpun bertanya buat apa Gavin mengambil dompetnya.


"Ihh mas gak punya duit ya".

__ADS_1


"Duit buat apa saya gak ada cash ini aja nih", memberikan kartunya.


"Mana ada pedagang pinggir jalan mau kaya ginian mas ngaco aja kamu".


"Ya terus gimana", Gavin juga sedikit bingung.


Nesya mengubek isi tas yang dirinya bawa mencari uang siapa tau ada yang nyempil, setelah menemukan uang 20 ribu matanya berbinar.


"Ayo Van turun kita jajan dulu", ajaknya.


Walawpun sedikit bingung Elvan nurut saja turun dari mobil di gandeng Nesya.


Gavin hanya bisa melongo melihat istrinya yang heboh hanya karena menemukan uang 20 ribu di tasanya, "Astaga istri gue emang unik", ucapnya sambil terus memperhatikan apa saja yang di lakukan istrinya.


Tidak lama Nesya dan Elvan kembali ke mobil sama sama membawa plastik kecil.


"Apa itu?", berapa harga dari semua itu pikirnya, uang 20 ribu tapi keduanya sama sama bawa pelastik kecil.


Gavin menggeleng memang bukan hanya kali ini dirinya menemukan pedagang gerobakan, tapi dari kecil sampai sekarang belum pernah nyicipin sedikitpun.


"Kenapa banyak sekali?", tanya nya lagi.


"Ini 5000 segini", menunjukan 5 tusukan yang ada di pelastik kecil.


Hahh Gavin bengong lagi, makannan apa yang dapat 5000, selama mengajar di kampus juga Gavin hanya membeli kopi itu juga bayarnya bulannan yang Radit urus setiap bulannya.


"Iya juga enak ya Mih", wajah berbinar Elvan yang pertamakalinya jajan di pinggir jalan.


"Iya sayang habisin jangan buang buang ya, kita harus sering sering jajan di pinggir jalan hitung hitung membantu orang yang membutuhkan saja".


"Iya Mih".

__ADS_1


"Jangan jajan di supermarket swalayan mall terus, kita sama aja memperkaya orang yang sudah kaya".


"Maksudnya apa Sya?", tanya Gavin.


"Iyalah mas, yang punya mall yang punya supermarket mah udah kaya kalau kita belinya di situ terus jadinya dia tambah kaya dong".


Astaga istri gue begini amat pikirannya, padahal yang punya itu semua suaminya sendiri, batin Gavin.


"Itu yang punya suami kamu sendiri", ucap Gavin.


"Boong banget sih mas, ko aku gak percaya ya, terus kamu juga uang aja gak punya".


"Saya tidak pernah pegang cash Sya".


"Kamu beli makan gimana?".


"Radit yang urus dan pesankan".


"Astagfirullohalazim mas kamu itu apa apa Radit apa apa Radit semuanya Radit".


"Tidak semuanya juga, untuk sekarang dan seterusnya akan kamu terus".


Elvan di belakang asik menikmati makannannya, masabodo dengan orang tuanya yang debat, ini kali pertama makan micin banyak lidahnya terasa di manjakan.


.


.


.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2