
Pertama kali di rumah mertua, rasanya canggung dan tidak bebas gerak sama sekali.
Bahkan ini sudah malam namun Gavin entah kemana, dari semenjak tadi siang mereka datang ke sana Gavin hanya mengantarkan Nesya ke dalam kamarnya.
Kamar yang sangat luas kasur 2x lipat lebih besar yang iya punya di rumah, nuansa kamar khas laki laki dingin, tidak ada pernak pernik di sana hanya ada lemari besar dan meja kerja juga sopa, tidak ada bunga atawpun foto juga di sana.
Walawpun kasur besar namun Nesya tidak berani hanya sekedar duduk juga di sana.
"Sabar ya Nes di sopa juga nyaman kan", monolognya.
Tadi dirinya sempat menidurkan Elvan di kamarnya, Nesya kira Gavin sudah pulang namun ternyata laki laki itu masih belum ada di kamarnya.
Merebahkan badan di sopa bahkan tidak berani hanya sekedar mengambil bantal atau selimut juga, untung tadi Ayahnya mengirimkan baju ada hoodie nya juga jadi lumayan tidak terlalu dingin.
Bahkan sudah jam 1 malam Nesya mengecek ponselnya, tidak ada tanda tanda kalau suaminya sudah pulang, tak lama kemudian terdengar suara pintu sepertinya ada orang masuk.
Benar saja Gavin baru pulang, tidak ada pembicaraan di antara mereka, Gavin langsung masuk ke kamar mandinya.
Berusaha jadi istri sungguhan selama belum di ceraikan, Nesya berjalan mengambilkan baju ganti untuk suaminya, sedikit tau tentang baju bajunya Gavin karena tadi sore Nesya di beri tau oleh art yang biasa mengurus kamar Gavin.
"Ngapain di situ", suara dingin Gavin mengagetkan Nesya.
Astagfirullohalazim, Nesya memegang dadanya saking kaget, "Ini bajunya pak", menyerakan baju yang dirinya ambil tadi.
__ADS_1
Bukannya ucapan terimakasih dari Gavin, laki laki itu malah melirik sinis padanya, "Saya bisa sendiri tidak usah berlaga baik", ucapnya.
Gavin tidak mau memakai pakaian yang Nesya ambilkan tadi malah iya masukan ke keranjang cucian.
Hatinya bagai di remas remas, Ya Allah salah apa aku, menjerit dalam batinnya.
Tidak menyahut hatinya sudah terlanjur nyeri, padahal rasanya Nesya tidak punya salah sedikitpun, tapi kenapa di perlakukan seperti ini.
Tenggorokannya kering, Nesya milih ke dapur untuk mengambil minum, di sana ada beberapa botol mineral tidak ada keberanian untuk mengambilnya.
Duduk di dapur sambil memegang gelas, airmatanya luruh lagi, Nesya mengusapnya dengan kasar, "Buat apa gue menangisi takdir, pliss berhentilah air mata jangan terlihat lemah di depannya, semangatttt pasti bentar lagi juga kamu di ceraikan olehnya, ya ingat Nes kamu hanya pengantin pengganti di sini, kamu hanya menyelamatkan mereka dari rasa malu, kamu hanya membalas budi atas semua kebaikan Papanya ingat itu".
Kembali lagi ke kamar, Gavin sudah tidur dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendeknya saja.
Sangat susah untuk tertidur lagi, bahkan sampai pagi tidak bisa memejamkan mata sama sekali, untung libur kuliahnya hanya tinggal besok lagi, batinnya.
Setelah selesai dengan kegiatan rutinnya, Nesya keluar dari kamar untuk membantu para art di sana.
Sampai dapur Nesya ikut membantu yang sedang masak, meskipun di larang namun tetap maksa, dirinya tidak mau di anggap hanya numpang tidur dan makan doang.
Sampai dimana Nesya melihat pengasuh Elvan kesusahan untuk membangunkan anaknya.
Untung dirinya tadi sempat membuatkan bekal dengan arahan dari art di sana.
__ADS_1
"Elvan bangun yuk sekolah ini sudah siang loh".
Sedetik itu pula Elvan bangun dan tersenyum, "Oke Mamiiiii", berdiri hormat dan langsung turun dari kasurnya mengambil handuk masuk ke kamar mandi.
"Maaf bu saya tidak bisa membujuknya", pengasuh itu menunduk ketakutan.
"Gak apa apa mbak, santailah sama saya gak usah terlalu formal", ucap Nesya sambil tersenyum, "Biarin Elvan sama saya mbak, mbak kerjain yang lain saja ya".
Pengasuh Elvan menurut dan langsung keluar dari sana.
"Yeayyy Mami masih di sini", tanya nya dengan girang.
"Iya sini Mami pakein bajunya, biasa pake yang mana?".
Dengan cepat Elvan menunjuknya.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1