JODOH YANG TIDAK TERDUGA

JODOH YANG TIDAK TERDUGA
Membahas Perceraian


__ADS_3

Nesya masuk ke dalam kelas itu sampai ter engah engah beda dengan Gavin yang masih santai dengan wajah cool nya.


"Mangkanya gue lari tadi karena liat pak Gavin di belakang elu", ucap Alana.


"Sahabat macam apa lu".


"Habis pada nabung lu pada hah lama amat di toilet juga", ucap Sena.


"Kayanya sih biar pada kaya raya dari muda, ya gak ya", ucap Risa.


Gavin menatap istri dan ke empat sahabatnya, mahawiswa lain juga masih ada yang mengeluarkan suara, "Masih mau ngobrol keluar dari kelas saya", ucapnya.


Telinga Gavin sangat tajam mendengar suara suara kecil juga, matanya menyorot tajam pada semua mahasiswa yang ada di sana.


"Nesya Arabelle, temui saya di ruangan saya setelah jam ini selesai".


"Ck salah gue apalagi sih", batin Nesya, padahal gue tadi ngomongnya pelan sedikit juga.


Gavin menjelaskan beberapa materi, melirik pada istrinya yang sedang melamun dirinya sanagt geram dengan Nesya, mengapa wanita ini semakin sekarang sepertinya semakin menangtang dirinya.


Nesya masih asik dengan lamunannya, Ehhh apa dia mau cerain gue sekarang juga ya, gini banget calon janda muda, hahahaa lucu juga ya umur baru 19 tahun sudah jadi janda, Nesya melamun, membayangkan bagaimana nanti Gavin mengucapkan kata kata perceraian mereka.


Nesya Arabelle saya ceraikan kamu sekarang juga, sekarang kamu bukan istri saya lagi dan silahkan pergi dari hadapan saya, surat cerai akan di bawakan oleh asisten saya.


Hiyaaa setelah itu gue resmi menggelar janda muda namun masih perawan ckckck, untung janda juga masih perawan, senyum nya.


Takk, Gavin menyentil jidat Nesya lumayan keras.


"Awww sakit ngab", ucapnya kaget, Nesya tidak ngeh kalau Gavin lah yang menyentil keningnya.


"Silahkan ke ruangan saya sekarang", ucap Gavin tidak menoleh lagi pada Nesya.

__ADS_1


"Mampus deh lu Nes, sudah tau pak Gavin malah melamun lagi", ucap salah satu mahasiswa di sana.


"Gila aja si Nesya bilang pak Gavin ngab lagi jahhahaaa sudah tau serigala".


"Baru baru ini gue liat Nesya kena terus sama pak Gavin".


Begitulah kira kira yang ada di benak para mahasiswa di sana melihat Nesya keluar dari jam mata kuliah Gavin.


"Semuanya kerjakan tugas sampai selesai kumpulkan di hari kamis dan presentasikan, tugasnya akan saya kirimkan lewat email", ucap Gavin, langsung membawa laptopnya.


"Saya permisi", ucapnya lagi.


Semua mahasiswa menghembuskan napas dengan pelan, tugas dari Gavin sering di luar dugaan mereka semua.


Sedangkan Nesya tidak langsung masuk ke dalam ruangan Gavin dirinya berdiri di depan pintu ruangan itu karena ada beberapa mahasiswa yang menunggu Gavin juga di sana.


"Masuk", ucap Gavin pada Nesya.


Hihh kalau mau ngasih tugas biasanya juga langsung di kelas tadi, ini pasti mau menceraikan gue, lagi banyak orang kaya gini kan gue malu ketahuan kalau udah janda, batinnya


Hampir 10 menit 3 wanita tadi keluar dari ruangan Gavin dengan wajah ketakutan, entah apa yang mereka bicarakan di dalam tadi, Nesya sampai menggeridik ngeri.


"Mau sampai kapan terus berdiri di situ", Gavin bersedekap dada.


"Ehhh iya pak maaf", ingat Nes lu harus berani sama dia, kalau udah di ceraikan jangan menangis ya Nes jangan meratapi nasib janda muda yang lu sebentar lagi sandang gelarnya, batin Nesya.


"Duduk", ucap Gavin dengan dingin.


"Sudahlah pak lelah juga saya kalau begini terus, mau menceraikan saya kan silahkan pak saya ikhlas".


Gavin menyengit bingung namun setelah itu kembali ke mode semula.

__ADS_1


"Jika itu ke inginnanmu", ucap Gavin menggantung.


Entahlah ada rasa apa di dalam hatinya, ada perasaan mengganjal mendengar Nesya mengucapkan kata cerai.


"Ya silahkan tinggal pak Gavin ucapkan dan ajukan sidang, setelah itu kita sama sama bebas".


Tok tok tok, terdengar pintu ruangan Gavin di ketuk dari luar.


Gavin merasa lega dalam hatinya ada penyelamat untuk dirinya menghindari pembahasan perceraian dengan Nesya.


"Masuk", ucap Gavin dengan keras.


"Siang pak Gavin, saya mau memberikan laporan ini pak".


Gavin mengangguk, "Taruh di meja kerja saya".


"Ehhh siang Nes, sorry aku gak liat tadi kalau itu kamu", ucap laki laki itu tersenyum manis.


"Siang kak", ucap Nesya tersenyum.


Cih, Gavin berdecih melihat Nesya tersenyum pada setiap laki laki namun tidak pada dirinya bahkan dari awal pertama Nesya masuk kampus juga.


"Sudah tidak ada keperluan lain kan, silahkan kalian berdua keluar dari ruangan saya", Gavin mengusir kedua mahasiswanya, ada kemarahan yang Gavin sembunyikan melihat Nesya tersenyum pada laki laki lain.


.


.


.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2